TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MASIH DILINGKARI TRAUMA



Pagi hari, semuanya kini tengah memakan sarapannya. Terra memasukan bekal di masing-masing tas anak-anaknya.


"Tata Ion, banti apis setolah acalin Al, belhitunan ya," pinta Al semangat.


"Nai, judha!"


"Sean Judha!"


"Paud bujha!"


"Oteh Babies!" sahut Rion menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk O.


Semua mengikuti gerakan Rion. Nai menautkan kelingking dan ibu jari, Daud jari manis dan ibu jari sedang Al dan Sean yang dari tadi mencoba tidak bisa, akhirnya menautkan semua jarinya ke ibu jari.


Rion tertawa melihat tingkah adik-adiknya. Ia pun berpikiran untuk mengajari adiknya gerakan tadi. Setelah Mencium punggung tangan ayah dan ibunya. Hari ini Darren ditemani oleh Gio, Reza, Ikbal, Juno dan Jeffry.


Budiman akan bersama Helmi menemani Terra. Hari ini wanita itu akan pergi ke perusahaan untuk melihat perkembangannya.


Sedang, Lidya dan Rion ditemani oleh Fabio, Juan, Chris dan Darto serta Hasan. Kedua anak itu masih menggunakan mobil golf, sedangkan Darren menggunakan mobil Pajero. Terra bersama suaminya menaiki Mercedes merahnya yang dulu ia beli untuk keperluan Bart.


Di sekolah, Lidya, Putri dan Nina kini sudah berteman. Walau terkadang Nina masih berlaku kasar pada Putri, tetapi, ia masih mau bermain dengannya. Riani tak bosan mengingatkan semua anak muridnya berlaku sopan terhadap sesama teman.


"Nin, kenapa sih kamu jutek terus sama Putri? Padahal dia nggak ganggu kamu sama sekali loh?" ujar Lidya yang heran dengan sikap Nina.


"Ya, habis gimana. Aku emang nggak suka Putri deket-deket aku, risih!" jawabnya sinis.


"Kamu kalo gitu terus mending cari yang sederajat aja sama kamu. Aku juga risih dideketin temen jutek kaya kamu!" usir Lidya akhirnya.


Gadis kecil itu sudah tak tahan lagi akan sikap kasar, Nina terhadap sahabatnya. Putri menghela napas.


"Sudah, biarkan saja. Aku sudah terbiasa kok," ujar Putri menenangkan Lidya.


"Tuh, Putrinya aja nggak masalah. Kok kamu yang sewot!" sahut Nina mencibir.


"Ih, Put. Aku nggak tahan lihat dia. Mending aku nggak usah main sama kalian. Bikin aku panas hati aja!" sergah Lidya kesal.


Gadis kecil itu pun meninggalkan Nina dan Putri. Putri yang merasa bersalah pun menghampiri sahabatnya itu.


"Ya, udah. Aku minta maaf ya. Habis, dia nggak ada temen. Jadi biarin aja, ya." pinta Putri tulus.


Bel bertanda masuk pun berbunyi. Putri ke luar untuk masuk ke kelasnya sendiri. Mereka kembali belajar dengan tenang dan tertib. Berkali-kali Nina mencoba berinteraksi dengan Lidya, tetapi diacuhkan oleh teman sekelasnya itu.


Bel berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Lidya memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas. Ketika keluar ternyata Rion menunggunya.


"Loh, kok nggak langsung pulang?" tanya Lidya bingung.


"Orang pulangnya baru sepuluh menit lalu. Tadi ada tugas kelompok jadi agak lama pulang. Dari pada Om pengawal bolak balik mendingan kan, Ion nungguin Kakak pulang," jawab Rion menjelaskan panjang lebar.


Lidya pun terkekeh mendengar penjelasan adiknya itu. Mereka pun bergandengan tangan keluar dari koridor sekolah. Biasanya para bodyguard akan menunggu mereka di area halaman sekolah.


Sejak ada peraturan baru. Kini para bodyguard menunggu di luar halaman sekolah. Tadi, mereka agak jauh memarkir kan kendaraan dinamo mereka. Di luar banyak anak-anak mengerumuni seseorang yang tengah berjoget di dekat pintu gerbang.


Lidya dan Rion penasaran. Mereka mendekat. Tiba-tiba keduanya berhenti melangkah ketika melihat badut yang berjoget-joget lucu mengikuti musik. Anak-anak banyak yang menyukainya.


Badut itu menoleh arah Lidya dan Rion. Ia pun melambaikan tangannya. Wajah Rion pucat pasi sedangkan Lidya hampir menangis. Ia berusaha untuk tidak takut.


"Kakak!" panggil Rion dengan suara parau.


"Tidak apa-apa Baby. Jangan takut ya ... hiks!"


Setengah mati Lidya keluar dari ketakutannya. Air matanya mulai luruh. Rion mematung. Badut itu memiringkan kepalanya. Wajahnya pun sedih melihat ada anak-anak yang takut padanya.


"Mama ... Ion mau Mama ... hiks ... Mama!" Rion memanggil ibunya.


Lidya pun mulai bergetar gadis kecil itu masih ketakutan, padahal waktu itu ia berhasil untuk keluar dari rasa takutnya.


"Tenang baby ... dia bukan wanita jahat itu ... hiks ... dia orang lain yang sedang cari uang .... hiks ... hiks!' sahut Lidya menenangkan adik dan dirinya sendiri.


"Yuk, kita nggak usah lihat ... hiks ...!" ajak Lidya masih terisak.


Badut itu mendekat karena melihat ada anak yang menangis. Sedang di tempat lain Terra begitu gelisah hatinya. Ia tengah bersama Rommy dan Iskandar juga Gabe mendengarkan review Rosena tentang anggaran akhir bulan.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Iskandar yang melihat Terra begitu gelisah.


"Ah, tidak apa-apa. Lanjutkan saja!"


Wanita itu menghalau rasa khawatirnya. Sedang para bodyguard yang menemani Lidya dan Rion penasaran karena tuan mereka belum keluar. Mereka melihat ada badut yang tengah menghibur. Keempat pria itu pun berpikir jika kedua tuan mereka itu tengah menyaksikan badut.


"Baby ... hiks ... jangan nangis ... hiks!" Lidya ikut menangis.


Badut itu pun mendekat. Lidya makin ketakutan. Ia memeluk adiknya erat.


"Mama!" pekik Rion lalu jatuh tak sadarkan diri.


Lidya pun ikut merosot ke tanah. Melihat dua tuannya tidak baik-baik saja, baru lah keempat bodyguard itu berhamburan ke tempat Rion dan Lidya yang sudah terduduk di tanah.


"Tuan Baby, Nona kecil!" pekik mereka.


Kedua anak itu langsung digendong oleh dua pengawal. Sedang dua lainnya menghalau badut yang ingin mendekat. Keempatnya pun berlari menuju mobil golf.


Fabio membuka kancing dan celana Rion sedangkan Juan membuka sepatu dan kaos kakinya. Chris menggosok minyak angin ke tengkuk dan bawah hidung Rion. Lidya masih shock. Gadis kecil itu belum sepenuhnya keluar dari traumanya. Kejadian itu benar-benar melekat diingatannya.


Betapa dulu Firsha tertawa keras ketika menarik kakinya dari bawah meja dengan riasan seperti badut.


"Sini kamu .. sini!" pekik Firsha sambil ingin meraih kakinya yang meringkuk.


"Ampun ... Mama ... ampun .... huuaaaa!" Lidya menjerit ketakutan.


"Aku bukan Mama mu!" bentak Firsha dengan mata memerah.


Firsha mendekati Rion yang masih bayi dengan. riasan yang menakutkan itu. Lalu menyeringai seram di wajah bayi itu hingga menangis keras.


"Menangis lah ... hahahaha!" Firsha tertawa menyeramkan di depan wajah Rion yang menangis ketakutan.


Sedang Darren sudah tergeletak tak berdaya karena habis dipukuli olehnya.


Rion tersadar tetapi matanya kosong menatap. Begitu juga Lidya. Keempat bodyguard itu merasa bersalah. Mereka tadi menyesali tidak langsung menjemput dua tuannya itu. Mereka sungguh tidak tahu jika kedua anak itu begitu takut dengan badut.


Sampai rumah. Keduanya langsung diletakkan di sofa. Romlah berteriak histeris melihat dua anak majikannya pulang dalam keadaan mengenaskan. Ia pun spontan menelepon Terra.


"Duh ... Nyonya ... angkat dong!" ujar Romlah ketiga sambungan ketiga tidak terangkat oleh majikannya.


"Coba telepon Tuan!" sahut Ani menyarankan.


Empat balita kembar mendatangi kakaknya yang sedang tak sadar. Mereka memanggil-manggil kakak mereka.


"Tata Ion ... huuu ... Tara Iya ... hiks ...hiks!"


Ke empat pengawal pun menelepon Budiman dan yang lainnya. Tetapi sambungan telepon malah mati. Begitu juga ketika mencoba menelepon Haidar. Ponselnya malah tidak aktif.


"Tuan baby, Nona kecil aku mohon ... sadarlah!" ujar Juan penuh permohonan.


"Tata Iya ... Tata Ion ... banun!" pekik Al dan Daud.


Nai dan Sean sudah menangis meraung.


"Mama, Papa, Daddy ... Ayah!" teriak mereka.


Keempat orang yang terpanggil pun tersentak di masing-masing tempat kerja mereka.


bersambung.


wah ... kenapa semuanya jadi susah dihubungi sih!


next?