
Rion pun lelah bernyanyi. Giliran Gisel mengeluarkan suara merdunya bernyanyi "price tag". Semua ikut bergoyang. Tiba-tiba Virgou datang mau ikut bernyanyi setelah mengajari Darren catur.
Pria kecil itu kini serius bertanding melawan Leon. Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya. Karina lagi-lagi pergi ke depan untuk mengantar satu teko minuman dingin juga dua gelas untuk Budiman dan Deno.
Saling pandang dan senyum juga terjadi di antara keduanya. Frans tengah memangku Raka yang bercerita pada Frans entah apa. Pria berusia empat puluh tahun itu menimpali apa pun kata anak spesial itu.
Karina menghangat. Keluarga Terra memang luar biasa. Wanita itu salut. Bahkan keluarga ayahnya saja tidak bisa seakrab itu dengan putranya. Tiba-tiba gelenyar aneh merasuk semua pori-porinya. Ia pun segera menggeleng, mengusir semua pikiran dan perasaan yang tiba-tiba menyerang hatinya. Kanya melihat itu semua.
'Siapapun pria itu. Mama akan setuju, jika ia bisa menyayangimu juga Raka, sayang,' gumam Kanya bermonolog dalam hati.
"Dengerin Daddy nyanyi ya," tiba-tiba suara Virgou terdengar.
Musik dangdut pun mengalun. Lagu "Kopi dangdut" dinyanyikan pria bule itu. Terra ternganga dibuatnya.
"Serr ... api asmara yang dulu pernah membara ... semakin hangat bagai ciuman yang pertama. Telah kembali gelora jiwa mudaku ... bagai tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut ... hobaa!"
Virgou bergoyang. Rion pun berdiri mengikuti goyangan Virgou.
"C'mon Baby, move your body!' ajak Virgou bergoyang.
Terra melotot. Virgou cuek dan malah terus bergoyang.
"api asmara yang dulu pernah membara ... semakin hangat bagai ciuman yang pertama. Telah kembali gelora jiwa mudaku ... bagai tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut ..."
"Irama kopi dangdut yang ceria ... membuat hati menjadi gairah ... membuat aku lupa akan cintaku yang telah lalu ... nyanyi Baby!" Virgou menyorongkan mik ke mulut Rion
"Pia lamala pan pulu ...."
"... pernah membara ... bagai ciuman yang pertama ... telah kembali gelora jiwa mudaku ... bagai tersentuh irama lagu semerdu kopi ...." Virgou menyerahkan mik ke Rion.
"banbut ... poha!" sambung Rion.
Semua tertawa walau sebagian tak mengerti apa kata Virgou dan Rion. Seperti, Gabe, David juga Gisel dan Frans. Raka bertepuk tangan untuk Rion.
Sedang Darren baru saja mengalahkan Leon dalam permainan caturnya. Bram dan Bart juga Haidar bertepuk tangan atas kemenangan Darren.
"Sudah-sudah, berhenti karaokean nya. Sudah waktunya makan siang!" ucap Kanya.
Mereka pun berhenti bermain. Virgou membereskan alat-alat bernyanyi tadi tanpa disuruh. Bart sangat terharu dengan perubahan drastis cucunya. Ia bangga akan itu.
Semua makan penuh kekeluargaan. Bahkan Budiman ikut bergabung bersama mereka. Raka memilih disuapi Terra, yang tentu Rion dan Lidya juga mau disuapi ibunya.
Makan siang selesai. Semua kembali bercengkrama Gabe, David, Gisel dan Darren tengah duduk bersandar dengan bantal-bantal besar. Mereka saling mengobrol.
"Mama ... mo tutu!" pinta Lidya juga Rion bersamaan.
Dengan sigap Bart menggendong dan menina bobokan gadis kecil itu dalam rengkuhannya. Sedang Rion hanya mau tidur dalam gendongan Terra. Raka sudah terlelap dalam dekapan Frans.
Leon dan Haidar tengah bercakap-cakap. Ketika anak-anak ditidurkan di kamar Terra. Tiba-tiba Herman datang sendirian. Wajahnya lesu.
"Assalamualaikum," sapanya lemah.
"Wa'alaikum salam," balas Haidar.
Pria itu langsung duduk di sisi Haidar dengan bahu turun ke bawah. Bertanda ia tengah dihadapi masalah besar.
Terra menyambangi pamannya.
"Paman sudah makan?" Herman menggeleng.
"Makan dulu, ya," ajak Terra sambil menarik tangan pria itu
Herman berdiri sambil bergandengan dengan Terra ke meja makan. Dengan telaten ia menyiapkan makanan untuk paman dari pihak ibunya itu, lalu ikut menemaninya. Haidar kembali mengobrol dengan Leon. Sedang lainnya pun ikut mengobrol setelah membaringkan anak-anak di tempat tidur Terra.
Terra menatap wajah suram pamannya. Walau terlihat tak bernapsu makan, namun makanan di piringnya tandas tak bersisa. Terra senang, karena pamannya masih mau makan.
Setelah memberikan piring kotor pada Ani dan meja makan dibersihkan oleh Romlah.
Terra mengajak Herman ke taman belakang. Kanya dan Karina membiarkan mereka berdua. Keduanya kini bergabung mengobrol bersama di ruang tengah.
Sedang Gabe, Gisel, David dan Darren sudah terlelap di atas karpet di depan televisi. Gabe memeluk Darren.
"Ada apa Paman? Kenapa lesu sekali?" tanya Terra, "tumben sendiri. Biasanya sama Ramira."
Ramira adalah sekretaris yang selalu mengikuti pria itu kemana pun.
"Paman sudah memecatnya," ujar Herman datar.
"Loh kenapa?" tanya Terra.
"Kemarin, Paman kedapatan dia memasukkan obat perangsang di minuman, Paman," jelas Herman dengan mata berkilat.
"Astagfirullah!" seru Terra tak percaya.
Bersambung ...
eh ... wah ... ada lagi perempuan yang gatel?
next?