TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEDATANGAN DAVID



"Daddy akan membunuhmu dan Grandpa akan memakanmu!" seru Gabe la lagi-lagi menakuti David.


"Kak!" rengek David lalu mengerucutkan bibirnya.


Widya hanya menggelengkan kepala. Kini ia tahu dari mana sifat usil Rion berasal. Keluarga Dougher Young adalah biang paling usil bahkan bisa menular pada yang lain.


"Ayah sama Haidar saja tertular dengan sikap usil mereka," gumam Widya.


Kedatangan David, langsung diketahui Budiman. Melalui BraveSmart miliknya. Ia mengamati seluruh keluarga Terra. Sebagai pengawal pribadi, ia tentu harus mengawasi keamanan seluruhnya.


"Siapa ini?" gumam Budiman ketika awal melihat pergerakan orang dengan warna merah tanda pekerjaan sebagai pengaman negara.


Budiman langsung melihat data profil orang baru tersebut. Tak sampai beberapa detik, profil orang itu langsung ia dapatkan.


"Nama, David Leodas Dougher Young, dua puluh lima tahun. Pekerjaan tentara kesatuan Eropa pangkat Mayor!" Budiman membaca biodata pria yang datang ke rumah sakit di mana istri Gabe melahirkan..


"David ada di sini!" pekiknya seketika.


Terra yang tengah menemani Darren yang memeriksa beberapa berkas kaget, begitu juga Darren.


"Apa David ada di sini?!" tanya Terra tak percaya.


"Ini Nona. Tuan Muda David ada di rumah sakit!" ujar Budiman memberi tahu.


Selepas dari rumah sakit Terra mengajak semua anaknya ke perusahaan. Rommy memberi tahu jikanada beberapa berkas yang butuh tanda tangan CEO. Darren sebagai CEO bayangan harus banyak belajar perihal memeriksa berkas-berkas.


Haidar langsung ke kantor Lidya dan Sean ikut bersamanya. Begitu juga Herman dan Virgou. Mereka mengajak keluarganya masing-masing ke perusahaan milik mereka.


"Biar aku adukan pada Daddy Leon!" seru Terra kesal. Budiman mengangguk setuju.


Terra melakukan panggilan telepon ke ayah Gisel yang kini sudah berada rumahnya, bersama Frans dan Bart.


"Halo Daddy. Tahukah, jika David kini ada di rumah sakit bersama Gabe?" adu Terra.


"Apa!" pekik Frans yang ternyata mengangkat ponsel milik Leon yang sedang ke kamar mandi.


Terra sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. Lalu ia pun mengatakan sekali lagi.


"Iya Grandpa. Kau marahi saja dia nanti. Menurut informasi, dia sudah selesai pendidikannya dan mengadakan latihan bersama tentara Indonesia tiga hari lalu," jelas Terra ketika melihat data terakhir kegiatan David yang tertera pada layar.


".......!"


"Baik, grandpa. Jadi kita biarkan dia seperti tidak tahu apa-apa?" tanya Terra lagi.


".....!"


"Oteh kalau begitu," ujar Terra lalu menutup sambungan telepon.


"Apa kata Grandpa?" tanya Budiman ingin tahu.


"Katanya, suruh biarkan saja. Pura-pura tidak tahu," jawab Terra, "selanjutnya, biarkan Daddy Leon dan Grandpa yang urus."


Budiman akhirnya mengangguk tanda mengerti. Anak-anak tiba-tiba keluar dari kamar mereka.


"Mama, Nai lapar," rengeknya.


"Daud, juga!"


"Al juga!"


"Ion juga!"


"Pacha uga!''


"Bachid judha!"


Rasya dan Rasyid sudah satu tahun tiga bulan. Bayi itu sudah mulia memperlihatkan keusilannya. Tentu didukung oleh kakak-kakaknya.


"Baiklah, ayo kita turun," ajak Terra.


Budiman membantu Terra, Gisel istrinya sudah pulang terlebih dahulu bersama putranya tadi. Beruntung Samudera tertidur jika tidak, ia tentu tak mau ditinggal oleh Rion.


Rasya dan Rasyid sudah duduk di stroller khusus mereka. Rion menggandeng Daud di tangan kanannya dan Nai di tangan kirinya sedang Al digandeng oleh Darren. Terra mendorong stroller putra kembarnya. Semua karyawan membungkuk hormat. Iskandar dan Rommy juga sudah menunggunya.


Benar insting Sean waktu itu. Alya dikeluarkan oleh Rommy bahkan dengan satu tamparan dari Jhenna. Alya berani mengadu domba Aden suaminya dengan Rommy.


Akhirnya pencarian sekretaris berhenti. Iskandar benar-benar menjadi sekretaris sekaligus asisten Rommy dan Darren.


"Kak, bagaimana bisa Alya mengadu domba Kakak dengan Kak Aden?" tanya Terra masih penasaran.


"Aden yang akan menceritakan di bawah nanti. Ia sudah menunggumu bersama Jhenna dan Deasara putri mereka," jelas Rommy sedikit kesal mengingat kejadian waktu itu.


Terra akhirnya menurut, lagi pula momennya kurang tepat. Ada anak-anak yang mendengar percakapan keduanya.


"Om Is, gendong," pinta Nai.


"Sabar Baby, habis makan kita pulang ya,' ajak Terra yang langsung diberi anggukan oleh Rion.


Haidar meneleponnya untuk datang ke restoran tak jauh dari tempatnya. Wanita itu pun menyanggupinya. Kini mereka sudah berada di sebuah restoran.


Mereka makan dengan lahapnya. Rion, menggelayut manja dengan ibunya.


"Mama," panggilnya sambil menguap.


Dibantu, Iskandar menggendong Daud, Budiman menggendong Al dan Sean. Sedang Nai digendong Rommy. Rion dalam gendongan Haidar, Lidya juga sudah mulai lelah dan mengikuti langkah ayahnya. Terra mendorong bayi-bayinya yang juga sudah mulai terlelap. Menaikan mereka semua dalam satu mobil Pajero milik Terra. Darren tetap tinggal, ia masih harus mengerjakan beberapa berkas di kantor.


"Mama pulang ya," pamit Terra pada Darren lalu mencium pipi putranya itu.


Budiman juga tinggal untuk menjaga Darren. Sedang Terra pulang bersama Haidar. Anak-anak sudah nyaman dalam mobil. Kendaraan roda empat itu pun bergerak meninggalkan halaman parkir restoran.


Darren naik mobil Rommy bersama Budiman. Sedang Aden bersama istri dan putrinya menaiki mobil sendiri.


Sampai, rumah Haidar cukup terkejut melihat sosok pria berdiri dengan satu kaki. Ia memarkirkan mobilnya. Melihat Bart, Frans dan Leon berdiri di teras.


"David?" Haidar mengenali pria itu.


tadinya ia cuek, namun sejurus kemudian.


"Ah, jadi ini orang sibuk itu?" tanyanya menyindir.


Bart melihat anak-anak tertidur semua di mobil langsung turun, Leon dan Frans juga ikut membantu.


"Apa aku boleh membantu?" tanya David.


Haidar memutar mata malas. David tak perduli, ia pun menggendong Lidya yang juga sudah terlelap di sana. Gio dan Juan ikut membantu mengangkut anak-anak yang terlelap.


Semua memasuki satu kamar kecuali Nai dan Lidya dan Rion. Ketiga anak itu memiliki kamar sendiri. David menciumi Lidya. Ia tentu sangat tahu masa kecil gadis yang kini sudah berusia dua belas tahun setengah itu.


"Sekarang kau sudah besar dan tambah cantik, sayang," pujinya lalu meletakkan Lidya di ranjangnya.


Terra masuk, David langsung memeluknya. Ia meminta pertolongan.


"Tolong aku, Kak!' rengeknya.


"Ih, nggak mau, nanti aku adukan sama Kak Virgou juga!" ancam Terra


"Kak," rengeknya lagi.


"Hais ... sudah lah. Kakak ingin gantiin baju Lidya!" usir Terra.


David mencium pipinya.


"Makasih Kak," ujarnya lalu pergi meninggalkan Terra.


Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Setelah mengganti baju Lidya, ia pun keluar kamar dan menutup pintunya. Haidar juga sudah keluar dari kamar Rion. Ia juga sudah mengganti baju putranya itu.


"Nai, sudah kuganti bajunya," terang Bart keluar dari kamar Nai.


Sean, Daud dan Al juga sudah diganti bajunya oleh Frans. Sedangkan dua R diganti bajunya oleh Leon. Duo R masih tidur bersama ayah ibunya.


Kini kelima orang dewasa menatap satu orang yang kini duduk di meja makan dan tengah santai menikmati makan siang. Tadi ia datang ketika Bart tengah makan siang.


Semuanya berada di rumah sakit dari kemarin bersama anak-anak hanya Bart dan Leon yang baru datang dan langsung ke rumah sakit karena permintaan Widya.


"Lihat lah, tanpa rasa bersalah ia makan dengan lahapnya," sindir Bart.


"Grandpa," tegur Terra.


"Ck ... dasar manja!" sungut Bart kesal.


Leon dan Frans hanya menatap gemas putra mereka itu. Memang David yang paling vokal diantara anak-anak mereka yang lain. Bart menguliahkannya, ternyata ia membawa uang kuliah untuk mendaftar sekolah militer.


Setelah tujuh tahun tak mendapat kabar apa pun, David muncul menengok kelahiran putri pertama Gabe.


"Semoga Gisel tahu kau ada di sini," doa Frans kesal.


"Aku harap juga demikian. Biar dia tahu rasa!' geram Leon menimpali.


"Sudah jangan kau dengarkan mereka. Makanlah dengan tenang," bela Terra.


David pun menghabiskan makanannya. Terra mengusap kepala adiknya itu. Makin berang lah ketiga pria tua Dougher Young.


"Dasar manja!"


bersambung.


bilang aja iri gitu ... hehehe


next?