TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BAYI BERGOSIP



Keseruan di mansion Virgou makin semarak. Gio datang bersama istri dan dua adik iparnya. Haidar yang memanggil mereka. Ditya dan Radit langsung bermain bersama yang lain. Gio baru tau jika tuan dan ketuanya masuk dunia hitam.


"Kok nggak ngajak-ngajak?" protesnya.


"Ck ... aku aja nggak ikut," sela Haidar.


"Oh ya, Tuan minggu depan, saya undang ke rumah ya," ujar Gio mengundang.


"Wah, apa selamatan rumah yang kau beli kemarin untuk memperluas?" tanya Virgou senang.


Ya, Gio membeli tunai rumah sebelahnya yang k betulan pojok. Ia memperbesar rumah itu atas nama istrinya. Aini hanya diam saja dan menempel pada suaminya. Tubuhnya sedikit berisi.


"Kamu hamil, Dek Dokter?" tanya Saf yang memperhatikan tubuh wanita itu.


Gio tersenyum lebar. Aini pun memerah mukanya. Ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan bidan cantik itu.


"Wah ... sudah berapa bulan?" tanya Herman semangat.


"Sudah jalan empat bulan Tuan!" jawab Gio dengan nada bangga.


"Wah masih mengalami trimester pertama nih," sahut Saf semringah.


"Iya, masih tapi tak separah waktu awal tau hamil. Aini nggak bisa lihat matahari sama sekali," jawab Aini.


"Tapi, kamu kerja baik-baik saja?" sahut Lidya ketika mengingat bekerja dengan Aini. "Bahkan, masih ikut dinas malam!"


"Iya, hanya satu minggu pertama nggak mau lihat matahari, kan Dokter Lidya nggak begitu tau karena sibuk sama pernikahannya," sahut Aini menjelaskan.


Lidya dan Saf mengangguk. Mereka tak mempermasalahkan persoalan ngidam yang dialami Anin.


Sedang Benua, Sky, Bomesh, Domesh tengah berbincang dengan Ditya dan Radit.


"Ata' Pitya ... patana pudah sepolah adama?" tanya Sky.


"Iya kakak udah sekolah agama, bentar lagi mau masuk taman kanak-kanak," jawab bocah mau lima tahun itu.


"Ladit belum ... balu sekolah agama aja," sahut Radit.


"Eh ... ponom-ponom patana talo setolah puat pita bintel ya?" tanya Benua.


"Iya, Baby," jawab Ditya.


"Peulalti pita pelum bintel don?" tanya Sky tak terima.


"Spy budah bintel!" sahutnya percaya diri.


"Domesh pelum pinten, tata Daddy talo budah pinten. Pita nomonna pidat taya pahasa belanet," sahut Domesh.


"Bomesh judha pelum buntel eh bintel!"


"Tata Daddy talo pita bintel budah pisa cali puit peundili!" lanjut Bomesh.


Semua orang dewasa menatap Gomesh tajam. Pria itu hanya nyengir kuda lalu mengarahkan jari berbentuk V. Para orang dewasa kembali mendengar percakapan para bayi sok tahu itu. Bahkan Haidar sudah merekam mereka dari tadi.


"Spy bawu pali buit beundili, ah!" sahut Sky enteng.


"Pemanna taya beudimana?" tanya Bomesh.


"Pita teulja taya Papi, Daddy, Baba, Papa ...."


"Ipu pita halus dedhe pulu Spy!" sergah Benua mengingatkan.


"Spy budah bedhe!" sahut Sky yakin.


"Gede segimana Sky?" tanya Ditya penasaran.


"Padan Spy pama bedhe Ata' Pitya tan?" sahutnya lalu menyamakan dirinya dengan Ditya.


Memang tubuh Ditya sangat kecil, akibat pengaruh gizi buruk waktu itu. Sedang Sky tubuhnya memang jauh lebih besar bahkan Radit kalah besar dengan Sky.


"Pati nomona Ata' Bitya beundat taya pita ... pahasa beulanet!" sahut Benua membela.


Sky diam. Ia memang lebih besar tubuhnya tapi jika dia berbicara masih sulit dan bahkan kadang terbalik.


"Pototna banti Spy bawu lansun sepolah Dasan!" ujarnya tegas.


"Nggak boleh Baby. Dulu Kakak Ion juga langsung mau SD. Tapi, harus bisa ngomong huruf er dulu," sahut Rion menimpali.


"Tenapa bedhitu! Ipu beundat padil syama setali ... Spy pisa paca, pisa pulis beupental ladhi!" aku bayi itu keras.


"Bisa nulis?" tanya Rion tak percaya.


"Pisa peubental ladhi Ata'Ion!" jawab Sky yakin.


"Berarti sekarang belum dong?" sahut Kean kini.


"Beumana spasa yan ajalin?" tanya Benua.


"Pasalahna Ata' Penua aja peulun pisa paca ... pan puaan Ata' dali tamu, Sty!" sela Benua pada adiknya.


Sky memerah. Ia yakin bisa baca tulis dengan cepat. Asal ada yang mengajarinya. Fery dan Mia, ayah dan ibu Budiman datang. Bram dan Kanya menjemput mereka atas permintaan Budiman. Tadinya, Gisel ingin mengajak mereka, tapi Fery sedikit ada masalah perut jadi, ditinggal lebih dulu.


Mereka berempat pun duduk lalu, pada maid memberikan minuman dan makanan untuk mereka.


"Ada apa ini. Kok, sepertinya ramai?" tanya Fery.


"Banti Spy pinta ajalin Tate'!" sahut bayi itu tiba-tiba.


"Ajarin apa Baby?" tanya Bram ingin tahu.


'Bajalin paca bama Pulis!" jawab Sky.


Semua mengangguk setuju. Fery tentu sangat senang mengajari cucunya itu.


Obrolan bayi masih berlanjut. Kini berganti topik Bomesh yang paling banyak bercerita.


"Eh ... temalin petanda Bomesh ada yan libut-libut woh!'


Domesh mengangguk membenarkan cerita adiknya itu. Maria hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak mungkin menyumpal telinga dua putranya yang makin banyak ingin tahu itu. Sedang Bariana sudah mau ingin berdiri, padahal usianya baru delapan bulan.


"Bemana bibut penata?" tanya Benua ingin tahu.


"Teumalin yan pistlina pilan buamina pelintuh!" jawab Bomesh yakin.


Terra membola. Saf mau tertawa mendengar bayi bergosip. Sedang Demian setia dengan kameranya. Ia merekam semua percakapan bayi-bayi ajaib itu.


"Memanna pelintuh ipu pa'a?" tanya Sky penasaran.


"Eundat pahu," jawab Bomesh sambil mengendikkan bahu.


"Mommy eundat bawu bawap pa'a ipu beulintuh!" lanjutnya.


Domesh mengingat pertengkaran yang terjadi pada tetangganya. Lalu, ia tiba-tiba menegakkan badannya.


"Atuh tahu!" sahutnya dengan jari telunjuk teracung keatas.


Semua orang menoleh. Maria dan Gomesh ingin menghentikan percakapan bayi mereka. Tapi, Bart melarang. Ia benar-benar gemas akan kecerdasan keempat perusuh itu.


"Biarkan mereka!"


Akhirnya Maria dan Gomesh hanya pasrah. Pria itu berencana ingin pindah rumah saja agar, bayinya tak banyak tahu. Tapi, rumah itu penuh kenangan bagi istrinya.


"Bemana pa'a ipu be ... be ... pa'a padhi?" tanya Benua lupa.


Ditya dan Radit hanya mendengar saja. Keduanya juga takut untuk menimpali perkataan keempatnya. Padahal Ditya dan Radit sangat tahu apa maksud 'peulintuh' atau 'beulintuh' tadi.


'Teumalin pata pistlina, buamina bunya panita walin!" sahut Domesh ingat perkataan tetangga yang bertengkar itu.


Terra mau menangis mendengarnya. Sedang Gisel, Seruni, Widya, Aini, Lidya dan lainnya nyaris tertawa mendengar gosip heboh yang keluar dari mulut para bayi. Kakak-kakak mereka malah asik mendengarkan percakapan unik itu dan membiarkannya.


"Panita pain?" tanya Sky tak mengerti.


"Piya!" jawab Domesh sangat yakin akan ingatannya.


"Memana banita pain pa'a?" tanya Benua penasaran.


"Pidat pahu!" jawab Domesh akhirnya.


"Memangnya pertengkaran itu kedengaran jelas ya?" tanya Demian pada ayah dan ibu Bomesh.


Maria mengangguk kuat dengan wajah sedih. Demian dan Darren tersenyum lebar. Rion yang masih penasaran apa lagi yang diketahui oleh Bomesh dan Domesh, kembali bertanya.


"Terus Baby?"


Semua melotot mendengar pertanyaan bayi besar itu.


"Baby!" peringat Herman tertahan.


"Uh ... selu Ata' Ion ... Domesh deneul pilin bi lempan tlus becah!" jawab Domesh sangat yakin.


Tiba-tiba Bomesh ingat sebuah lagu yang sering ia dengar ketika menjelang malam.


"Tu menayis ... peumpayan tan ... peutapa ... peujamna dili tuh patas bili mu ... tau pua tan pinta imi ... tau peuldhi peulsyamana ... wouwwooo ... Pu menayis!"


bersambung.


okeh deh Bomesh ... kau tepat sekali nyanyinya.


Next?