
Di sebuah desa. Dipto tengah mempersiapkan kepulangan mereka. Septian dan beberapa sepupunya telah membeli banyak oleh-oleh untuk semua keluarga dan handai taulan.
"Jadi apa saja yang kau beli, nak?" tanya Dipto dengan senyum lebar.
"Kebanyakan sih kain tradisional, Pak!" jawab Jac dengan senyum.
Dipto mengangguk. Putri berkali-kali mengelus perutnya. usia kehamilannya sudah tiga puluh lima minggu. Tinggal menghitung minggu, ia akan melahirkan.
"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Jac lalu mengelus perut istrinya.
Rasa kram dan kencang perlahan kendur dan nyaman. Ternyata sang jabang bayi ingin ditenangkan oleh ayahnya.
"Nak, sering-sering lah pulang ke rumah. Ibu sudah tua, takut tak ada umur," pinta sang ibu.
"Inshaallah ya, Bu," sahut Dipto berjanji.
Wanita sepuh itu memeluk putranya. Ada tangisan kecil keluar dari sang ibu. Lalu, Nania memeluk mertuanya. Surtini makin kencang tangisnya. Seribu kata maaf ia lontarkan pada istri dari putranya itu.
"Nek, Putri pulang dulu ya," Surtini mengangguk.
Putri menyeka air mata yang meleleh dan membasahi pipi keriput wanita itu.
"Padahal nenek ingin melihat cicit lahir," keluh wanita itu sambil mengelus perut besar cucunya.
"Aarrgghh!" tiba-tiba Putri mengerang.
Tubuhnya sampai hendak merosot ke tanah. Septian yang paling dekat langsung menahan laju tubuh kakak perempuannya itu.
"Mba!"
"Aarrgghh!" pekik Putri kesakitan lagi.
Semua panik termasuk Jac. Dipto buru-buru bertanya apa ada bidan yang bisa dipanggil ke sini.
"Ada Paklik, biar Cipto yang panggilin!" seru Cipto, salah satu keponakan Dipto.
Semenjak Jac menjadi imam. Tak ada lagi paman yang bersikap sinis. Bahkan tetua masjid Pak Rahmat selalu mendaulat Jac menjadi imam. Haryo dan Diryo membantu Jac untuk membawa Putri ke kamar lagi. Beberapa baju dan kain di keluarkan lagi dari mobil.
"Sayang?" panggil Jac cemas.
"Arrghh!" Putri lagi-lagi kesakitan.
Putri sangat paham dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Ini bukanlah kontraksi palsu, tapi asli. Rupanya sang jabang bayi ingin keluar sekarang juga, padahal belum waktunya.
"Sepertinya, Mba Putri akan melahirkan Bang!" terka Septian dengan wajah cemasnya.
Sedang Nania sibuk mengelus punggung putrinya. Tentu ia tahu bagaimana rasanya ingin melahirkan. Wanita itu sudah dua kali merasakannya.
"Apa benar kamu akan melahirkan, Nak?" tanya Pakde Haryo juga dengan nada cemas.
Putri mengangguk. Ia sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Perutnya terus merasakan kontraksi per dua puluh detik. Area bawahnya juga sudah mulai panas, pinggangnya mau patah.
"Bang!" erangnya.
Jac mendekati sang istri lalu menggantikan posisi ibu mertuanya. Dipto membawa semua orang agar tak memenuhi kamar. Nania juga diajak keluar oleh putranya.
"Bang ... sakit!" rintihnya kesakitan.
"Sabar sayang. Sebentar lagi Bu bidan datang," ujar Jac menenangkan istrinya.
Jac terus bersalawat di telinga Putri untuk menenangkannya. Tak lama bidan datang membawa peralatan. Ia menaruh perlak di bawah bokong Putri dan menggunting kain penutup itu.
"Masih sedikit lagi ya," ujar bidan memberitahu.
Putri sudah berpeluh, berkali-kali mengerang kesakitan. Jac dengan setia mengelus. Hingga Putri mulai mengatur napasnya.
"Ya ... benar, jangan diangkat ya, bokongnya," saran bidan.
Putri mulai mengejan ketika bidan memintanya. Tangan Jac tak lepas dari remasan kuat istrinya.
"Tarik napas!" Putri menarik napas putus-putus.
"Dorong!" Putri mengejan.
Peluh membanjiri tubuh wanita itu. Napasnya sudah mulai terengah-engah.
"Ayo sedikit lagi!" teriak bidan nampak mulai kesal.
"Ayo sayang, kau kan jagoan, kau pasti bisa!" ujar Jac menyemangati istrinya.
Lalu setelah mengambil napas panjang..Putri mulai mengejan kuat, kepala bayi pun keluar hingga bahu.
"Udah, bu ... udah!' titah bidan menghentikan aksi Putri.
Semua orang di luar mengucap hamdalah. Nania dan Surtini berpelukan, sedang Septian memeluk ayahnya yang nyari pingsan karena mendengar tangisan bayi yang begitu keras.
"Selamat pak, bayinya cantik," ujar bidan memberi selamat.
Setelah bayi menghisap kolostrum yang berasal dari air susu ibunya. Jabang bayi dibersihkan.
Bayi mungil itu kini berada dalam tangan Jac. Pria berhati dingin itu menangis lalu meng-adzani putri pertamanya.
Bidan sudah pulang lima belas menit lalu. Bahkan semua orang sudah menjenguk bayi cantik Jac. Kini sepasang suami istri menatap sosok mungil di tengah-tengah mereka. Jac sibuk mengabadikan putri pertamanya.
"Abang, sudah bilang tak bisa pulang hari ini?" tanya Putri mengingatkan.
Pria itu menepuk keningnya. Kelahiran putrinya membuat ia lupa. Kemudian ia pun menghubungi atasannya.
"Halo, assalamualaikum!" sahutnya memberi salam ketika sambungan telepon diangkat.
"Wa'alaikumussalam, kau sudah ada di mana Jac?" tanya Demian langsung.
"Maaf, Tuan. Hari ini saya tak bisa pulang ... sa ...."
"Apa maksudmu tak bisa pulang?" tanya pria di sana gusar.
"Sebenarnya sih tak masalah. Penggantimu di sini lebih pintar dan lebih muda darimu," lanjutnya meledek.
"Istri saya melahirkan, tuan!" lapor Jac langsung.
"Jangan bercanda, Jac! Usia kandungan istrimu aku juga tahu!" ujar pria itu tak percaya.
Jac melakukan video call. Demian menatap bayi mungil duplikat Jac. Ia termenung cukup lama.
"Tuan!" panggil Jacob.
"Ah ... iya Jac. Baiklah. Aku akan memperpanjang cutimu," ujar Demian kemudian.
"Terima kasih, tuan!" sahut Jac senang.
"Apa kau sudah memberinya nama?" tanya Demian.
"Namanya Aaima Khalisa yang artinya pemimpin yang suci, tuan," jawab Jac dengan nada bangga.
"Nama yang sangat indah," sahut Demian senang.
"Terima kasih, tuan!" sahut Jac senang.
Sambungan telepon terputus. Demian menghela napas panjang. Ia menghapus genangan yang hampir saja meleleh.
"Selamat Jac!" ujarnya sambil tersenyum.
Jac kini menatap istrinya dengan pandangan memuja. Ia mengecup kening Putri penuh cinta.
"Terima kasih, sayang," ujar Jac haru.
"Sama-sama sayang. Kita sekarang sudah menjadi orang tua. Aku harap, kita berdua bisa menjadi sosok orang tua yang baik untuk anak-anak kita, inshaallah," sahut Putri.
"Inshaallah," sahut Jac.
Sementara di tempat lain. Lidya sangat bahagia setelah mendengar kabar kelahiran putri pertama sahabatnya. Ia tak berhenti-henti mengucap syukur. Terra, juga ikut menangis haru mendengar kabar itu.
"Ya Allah, Mama ingat dulu Putri yang lemah dan sangat sabar, lalu berubah tomboy dan sangat kuat. Kini dia jadi seorang ibu," ujar wanita itu mengingat.
Lidya mengangguk. Wanita itu sudah tidak praktek penuh. Ia akan ke rumah sakit jika ada pasiennya yang benar-benar butuh penanganannya. Hanya Saf yang masih bersikeras untuk praktek, hingga Lidya melahirkan.
"Sayang, bagaimana perkembangan di sini?" tanya Terra.
"Mereka sehat Ma, Alhamdulillah!" jawab Lidya.
Semenjak ingin melahirkan, Lidya makin manja dengan Terra. Bahkan Virgou tak luput dari sifatnya itu.
"Daddy belum datang?" tanyanya.
"Papa di sini, kau tak perlu Daddymu!" sungut Haidar sebal.
Lidya terkekeh. Sedang Terra hanya mencebik kesal. Dan benar saja. Begitu Virgou datang. Lidya akan terus menempel bersama pria beriris biru itu. Hingga membuat Herman dan Haidar berikut Budiman akan kesal dengan pria dengan sejuta pesona itu.
bersambung.
Yaaa dari kecil kan Lidya udah sayang sama Virgou.
next?