TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LIDYA SEKOLAH



Sudah satu bulan Lidya bersekolah di taman kanak-kanak dekat sekolahan Darren. Pembawaan yang ceria membuat gadis kecil itu disukai banyak orang. Hingga banyak ibu-ibu gemas padanya.


Hal itu membuat tim pengawal kualahan. Para guru pun menertibkan wali murid agar tidak mengganggu anak-anak yang tengah belajar dan bermain.


Lidya sangat cerdas. Tentu saja, Terra telah membekalinya banyak pengetahuan sesuai dengan usia Lidya.


"Ini huruf apa anak-anak?' tanya seorang guru di depan kelas sambil menunjuk huruf E.


"E!" seru Lidya menjawab.


Semua anak menoleh padanya. Guru tersenyum Lidya memang sangat berbeda. Gadis kecil itu selalu tekun menyimak apa perkataan gurunya. Makanya Lidya cepat sekali menyesuaikan diri dengan pelajaran.


Bel berbunyi. Tanda pelajaran usai. Anak-anak berhamburan keluar termasuk Lidya. Entah sengaja atau tidak. Ada salah seorang gadis kecil mendorong Lidya hingga terjungkal ke depan. Dagunya berdarah. Lidya menangis kencang.


Para pengawal langsung berlarian menuju nona kecil mereka. Guru-guru pun menghampiri muridnya yang terjatuh.


"Aduh, jangan dorong-dorong dong. Temennya jatuh nih!"


Tidak ada yang menggubris. Semua anak-anak berlarian keluar kelas. Para bodyguard sedikit kesulitan menangani anak-anak. Lidya masih menangis dengan dagu sobek.


"Duh, dagunya luka. Kita obatin dulu ya," Lidya menolak.


"Mama ... huuu ... uuu ... Mama ... hiks ... hiks!"


Rudi mengangkat Lidya mendekapnya dan menekan luka di dagu nona kecilnya. Lidya sesungukan.


"Maaf ya, Pak. Namanya anak-anak jadi mereka langsung lari nggak lihat-lihat," ujar salah satu guru langsung meminta maaf.


"Mestinya kejadian ini tidak terjadi. Anda seharusnya bisa menangani anak-anak untuk tertib!" sanggah Rudi datar.


"Ya, namanya anak-anak. Kami tidak bisa terlalu keras. Mereka terlalu dini untuk tau apa itu disiplin," sahut guru itu.


Rudi hendak membalas perkataan guru itu. Tapi, salah satu rekannya langsung melarang.


"Sudah, kita harus segera mengobati luka, Nona kecil," ujarnya menengahi.


Rudi dan tim bergegas menuju rumah klien mereka. Menggunakan mobil golf milik Darren. Lidya tidak menangis. Tapi masih sesengukan. Gadis kecil itu memanggil ibunya.


Terra berada di kantor. Wanita itu tengah menata ulang divisi yang kemarin baru dirombak. Banyak pegawai baru terekrut. Termasuk dua sekretaris dan dua asisten.


Rommy memilih Bondan untuk menjadi asistennya. Pria berusia dua puluh empat tahun itu sangat kompeten juga cekatan. Lalu memilih Sandra sebagai sekretarisnya. Gadis berusia dua puluh empat tahun.


Aden memilih Rio untuk sekretarisnya. Pria berusia dua puluh tiga tahun. Terra memilih asisten cadangan pengganti Aden. Seorang gadis bernama Jhennaka Adinda, usia dua puluh dua tahun.


Drrrtt ... drrtt ... drrtt. Ponsel Terra bergetar. Nama Budiman tertera. Terra mengernyit lalu mengangkat telepon.


"Halo, assalamualaikum. Ada apa Kak?"


"......!"


"Apa!" pekik Terra panik.


"......!"


"Oke, siapkan mobil kita pulang!" ujar Terra langsung mematikan sambungan telepon.


"Kak Rom. Aku serahkan semuanya kepada mu," titah Terra.


"Kenapa Te?"


"Lidya terluka. Dagunya sobek," jawab Terra dengan wajah cemas.


"Astaghfirullah. Ya, sudah serahkan semua padaku. Kamu cepat urus Lidya!' sahut Rommy ikutan khawatir.


Terra pun langsung mengambil tas dan ponselnya. Lalu bergegas keluar dari ruangannya. Sandra menatap atasannya itu sedikit mendengkus kesal.


"Ck, kek apaan aja," gumamnya sangat pelan.


"Apa kamu bilang?" tanya Rommy keras menatap tajam Sandra.


"Ah ... enggak Pak," jawabnya terbata.


Rommy diam. Ia belum mengambil langkah apapun. Nilai akademik gadis itu sangat bagus, bahkan sesi interview Sandra bisa dibilang yang terbaik. Makanya, Rommy mengendurkan syarafnya. Pria itu akan melihat lebih jauh lagi.


"Kau akan berurusan denganku, jika kau macam-macam, Sandra!' ancamnya dalam hati.


Terra berada di mobil. Ia sedikit lega..Luka Lidya sudah ditangani. Tetapi gadis kecil itu demam dan terus memanggil dirinya.


Butuh waktu satu jam, Terra baru sampai rumah. Tanpa salam. Ia langsung menuju kamarnya. Di sana Lidya tengah menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.


Beruntung ia sudah memeras air susunya untuk minum empat anak kembarnya. Semua air susu itu ditaruh dalam storage khusus.


"Sayang," panggil.


Lidya langsung menatap ibunya. Lalu menangis.


"Mama ... Iya jatuh ... syakit Ma," adunya dengan linangan air mata.


Terra langsung memeluk putri kecilnya. Badan Lidya hangat. Romlah mendatanginya.


"Tadi, Non Lidya sudah saya beri obat penurun panas, Nyah," jelasnya.


"Makasih ya, Bik," ungkap Terra.


"Iya, kenapa bisa luka seperti ini, sayang?" tanya Terra lembut.


"Tadi ... hiks ... Iya, kelual kelas. Iya ... hiks terdorong, jatuh ... hiks," jawabnya masih sesengukan.


"Besok-besok kalau pulang, jangan buru-buru ya, tunggu sampai semuanya keluar, baru kamu juga keluar ya," pinta Terra.


Wanita itu tak mungkin memarahi teman-teman putrinya itu. Mereka anak-anak yang belum paham artinya bahaya. Mestinya guru yang mengawasi mereka bertindak cepat, bukan membiarkan.


"Iya, Ma," sahut Lidya menurut.


"Ya, sudah. Besok, Iya nggak usah masuk dulu, yaa," pinta Terra.


"Iya, mau setolah aja, Ma," sahut Lidya.


Gadis kecil itu kadang benar mengatakan ucapannya. Kadang celat juga cedal. Terra tak mempermasalahkannya.


"Ya, sudah. Besok sekolahnya bareng Mama ya," Lidya mengangguk.


Terra membaringkan lagi Lidya. Memeluknya erat dan memberi ciuman hangat. Lidya pun tertidur.


Haidar langsung pulang ketika mendengar Lidya terluka. Pria itu begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya.


*Apa nggak perlu ke Dokter, sayang?" tanyanya khawatir.


"Lukanya sudah tertutup, Lidya juga tidak mengeluh apa-apa. Kak Rudi tadi bilang darahnya cepat berhenti tadi," jelas Terra.


"Kita panggil Dokter aja ya, aku khawatir," ujar Haidar. Terra mengangguk.


Tak lama dokter datang. Ia pun memeriksa gadis kecil itu dengan seksama. Benar Lidya tidak apa-apa, hanya sedikit shock.


"Ini vitamin untuknya juga obat pereda nyeri," ujar dokter menyerahkan resep.


Haidar menerimanya. Pria itu menyuruh Deno untuk menebus resep. Pria itu langsung menuju apotik yang tidak jauh dari rumah majikannya.


Malamnya, Bram datang bersama Kanya. Wanita itu sedih melihat luka di dagu Lidya.


"Itu sakit ya?"


"Eunda Oma ... udah syembuh," sahut Lidya tersenyum.


Hari pun berganti. Terra dan Haidar menemani Lidya bersekolah hari ini. Wanita itu membawa keempat anak kembarnya, Rion juga ikut. Kemarin ia sangat sedih melihat kakaknya terluka.


Bel berbunyi. Tanda pulang. Anak-anak berhamburan keluar. Lidya menuruti perkataan ibunya. Membiarkan seluruh teman-teman keluar lebih dulu.


Setelah yakin tidak begitu ramai. Gadis kecil itu pun keluar kelas. Ia tersenyum melihat ayah dan ibunya.


"Mama ... Pa ...."


"Lidya awas!" pekik Terra dan Haidar.


Bug!


"Huwwwaa!"


bersambung.


Eh ... Lidya!


next!