
Seperti janji Terra kemarin, mereka kini tengah bersiap-siap ke pantai. Bram sudah menyewa mini bus untuk membawa keluarga mereka.
Terra sudah menyiapkan pakaian diri dan ketiga anaknya. Membawa perlengkapan Rion, seperti susu dan popoknya.
Anak-anak begitu antusias pergi ke pantai, mereka sudah googling pantai yang mereka kunjungi sekarang ini.
Pantai dengan pasir putih dan bersih. Di sana para wisatawan bisa snorkeling dan melihat juga budidaya terumbu karang. Naik banana boat dan speadboat.
David dan Gisel yang sangat berisik dengan semua persiapan mereka. Rion sampai bingung dibuatnya.
"Mama, wowang ipu pate balasa pa'a?" tanyanya dengan mata bulat dan wajah polosnya.
Terra mencium gemas bayinya. "Mereka pakai bahasa Inggris, Baby."
"Oh," saut Rion sambil mengangguk sok tahu.
Dengan percaya diri bayi montok itu berjalan mendekati, keributan antar saudara itu.
"Hei ... pamu wowang besisit!' hardiknya galak.
"Baby!' panggil Terra.
David dan Gisel yang sedang ribut dengan bawaan mereka menatap bayi yang memandangi mereka dengan wajah galaknya. Bukannya takut, mereka malah mengajak ngobrol bayi itu dengan bahasa mereka.
"Hi, Baby, We're busy with things to bring later." ucap Gisel memberi tahu.
Rion mengangguk tanda mengerti.
"Imi pa'a?" tanyanya sambil menunjuk sebuah kamera handycam.
"Oh, this is a camera for video recording." jawab David.
"Tamela?" ulang Rion.
"No, Camera," Ralat Gisel.
"Pamela?" ulang Rion.
"Ca- me- ra," Gisel mengeja.
"Ba - me - la!" ulang Rion.
David hanya tersenyum lebar mendengar perkataan Rion yang salah.
"Cam ...."
"Stop Gisel, he's not fluent yet." (berhenti Gisel, dia belum lancar bicara) saut David.
"He's not even two years old" (dia belum genap dua tahun.) jelasnya lagi.
Gisel hanya terkekeh. Ia pun mencuri ciuman pada pipi Rion. Mendapat ciuman mendadak, membuat bayi itu memandangnya dengan tatapan tak suka.
Rion mengelap pipinya. Hal itu malah membuat Gisel makin gemas. Ia malah memeluk bayi itu erat-erat. Rion yang melihat dirinya dipeluk. Sangat marah.
Bayi itu hendak mengangkat tangannya untuk memukul Gisel. Terra sudah meneriaki Rion.
"Jangan pukul, sayang. Baby kan dipeluk!"
Rion urung memukul Gisel. Gadis itu menatap Darren yang hanya menggeleng. Pria kecil itu mendatangi kakaknya dan mengatakan jika Rion anti dipeluk dari orang yang belum begitu ia kenal.
"Oh, is that so?" Darren mengangguk.
"Even, Daddy Virgou got a crushing blow from Rion," (bahkan Daddy Virgou dapat pukulan telak dari Rion) jelas Darren.
Gisel terkisap mendengar jika kakak tertua mereka dipanggil Daddy oleh Darren. Namun, mereka tak mempermasalahkan panggilan itu. Yang mereka tidak percaya bagaimana raksasa itu dipukuli oleh bayi yang belum genap dua tahun.
"how could that be?" tanya Gisel tak percaya.
"It's long story," jawab Darren malas.
Bus yang ditumpangi oleh keluarga Haidar sudah datang. Mereka pun bersiap-siap. Terra menitip rumah pada keempat orang yang bekerja di rumahnya.
"Bik, titip rumah ya."
"Iya, Non. Hati-hati di jalan ya," saut Romlah.
Setelah semuanya naik bus. Barulah Deno menutup pagar. Rumah Terra tetap ada pengawal yang menjaga.
Butuh waktu tiga jam untuk sampai ke pantai itu. Terra baru tahu, jika pantai itu milik keluarga Pratama.
Tiga buah villa bertingkat, sudah dipersiapkan. Terra sebenarnya tidak menyukai berpergian, seperti ini. Tapi, untuk menjamu keluarga yang datang dari jauh. Gadis itu menurunkan ego.
Sesampainya di villa, Bram membagi villa itu, satu villa utama menjadi tempat Terra dan keluarga sedang villa yang lain untuk keluarga Bram dan satunya lagi untuk tim pengawal.
Setelah menyusun semua pakaian mereka. Bart melarang cucu-cucunya untuk turun ke laut karena ombak sedang besar. Hari juga sudah beranjak siang.
Sedikit kecewa, David dan Gisel tetap menurut apa kata kakek mereka.
Lidya dan Rion sudah terlelap karena jauhnya perjalanan. Sedang Darren bermain bersama David dan Gisel juga Raka. Pria kecil itu sudah bisa membaur.
Terra menyiapkan makan siang. Para penjaga villa membawa tiga ekor ikan kakap. Terra mengolahnya menjadi stik ikan. Gadis itu dibantu oleh Kanya dan Karina.
Selesai memasak. Terra langsung membagi dua makanan, untuk keluarganya dan juga tim pengawal.
Para pengawal Bart dan Bram sangat senang akan perhatian dari calon menantu atasannya. Mereka merasa dihargai keberadaannya.
Setelah mengantar makanan untuk para pengawal. Terra hendak membangunkan Lidya dan Rion. Ternyata dua bayinya sudah bangun dan telah duduk di kursinya masing-masing.
"Ayo kita makan sayang," ajak Kanya.
Terra menyuapi Rion yang masih belum benar makannya. Bahkan Lidya juga ingin disuapi ibunya.
Setelah makan. Anak-anak diambil alih Haidar dan membawanya ke sebuah gazebo. Sedang Terra, Kanya dan Karina membersihkan sisa makan mereka.
Suasana kekeluargaan begitu kental. Terra terharu. Begitu lama ia hidup sendiri, tiba-tiba sekarang ia berada di sebuah keluarga besar.
"Sayang," suara berat yang ia kenali.
Terra tersenyum. Sosok pria gagah memeluknya erat. Gadis itu membalas pelukan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
"I love you," bisik Haidar.
"I love you too," bisik Terra.
"Mama!" panggil Rion dan Lidya bersamaan
Terra melepas pelukannya. Haidar menggenggam erat jemari kekasihnya. Saling pandang dengan penuh cinta.
Mereka mendatangi ketiga anaknya juga saudaranya yang lain.
Berkali-kali Terra mengucap hamdalah dalam hati.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Kau berikan aku keluarga sebesar ini, setelah lama aku sendirian."
Semuanya bersenang-senang. di temani suara deru ombak. Tiba-tiba Rion bernyanyi.
"Baut bilu ... puas belentang ... apu wowang tinta ladamu!"
Terra tertawa mendengarnya. Ia lupa. Rion menatapnya garang. Bukannya takut, Terra makin gemas dengan bayinya itu.
"Nyanyi ini sayang, ikut Mama, ya ...," ajak Terra kemudian duduk dan memangku Rion tak ketinggalan Lidya, Raka pun ikut bergayut pada tubuh Terra.
"Suatu hari ... di saat kita duduk di tepi pantai ...."
Suara merdu Terra mengalun. Bram, Kanya, Karina dan Haidar baru mengetahui suara merdu Terra.
Sedang Bart dan lainnya yang tidak begitu mengerti bahasa Terra. Hanya menikmati suara merdu gadis itu.
"Hei berhenti dulu, sebentar," ucap Haidar menghentikan kekasihnya bernyanyi.
Terra berhenti. Haidar meminta seorang penjaga membawakan gitar.
Haidar mengambil gitar yang diberikan padanya. Setelah menyetemnya, pria itu memetik gitar.
Terra kembali bernyanyi diikuti Rion.
"Buatu hali ... bi pasat pita dudut bi pepi lantai ...."
bersambung ...
kenapa jadi Lantai ... Rion!
next?