TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TUJUH BULANAN



Tak ada yang mampu menghentikan waktu. Begitu cepat, hingga tak terasa usia kehamilan Lidya, Gisel dan Saf sudah tujuh bulan.


Sebenarnya usia kandungan ketiganya hanya beda satu hingga tiga minggu saja.


Hari ini keluarga Dougher Young dan Pratama plus Starlight mengadakan acara tujuh bulanan di sebuah ballroom hotel internasional milik Bram.


Hotel yang kini dikelola oleh Al. Putra dari Haidar itu melamar pekerjaan di hotel kakeknya. Memang Al belajar tentang management perhotelan.


"Jadi, Al sudah bekerja di hotel ini?" tanya Virgou pada Bram.


"Ya, tapi dia mengepalai empat hotel yang aku miliki," sahut Bram santai.


Virgou memeluk pria itu. Ia merengek manja pada Bram.


"Hai ... kau ini ketua mafia!" tekan Bram sebal.


"Oh ayo lah Pa ... jangan galak sama anakmu ini," kekeh pria dengan sejuta pesona itu.


Ketampanan keluarga Dougher Young, Pratama dan Starlight jadi bahan gunjingan para wanita yang ada di sana.


"Astaga ... ganteng amet!" puji salah satu wanita ketika melihat para pria tampan.


"Hai cowok!" sapa salah satu gadis dengan berani.


"Hai cewe!" sahut Saf dengan mata melotot.


Gadis itu sampai ketakutan melihat pelototan Safitri, sampai lari dan bersembunyi.


"Sayang," tegur Darren sedikit terkekeh.


Pria itu merasa lucu dengan sifat cemburu istrinya itu. Ia memeluk tubuh yang lebih berisi dari sebelumnya. Terlebih dada wanita itu jadi tiga kali lebih besar.


"Kamu seksi sekali malam ini," rayu Darren mesra.


Saf langsung merona. Ia paling tak bisa jika dirayu atau dipuji seperti itu.


Bram mengundang beberapa koleganya. Berikut Bart, Virgou dan Herman juga Starlight.


"Ayahmu tak datang, Dem?" tanya Bram.


"Tidak kakek. Daddy datang ketika lahiran saja," jawab Demian.


Bram mengangguk. Semua larut dalam acara. Anak-anak yatim begitu senang ketika mereka pertama kalinya makan stik daging. Kentang goreng dan sosis.


Terlebih ketika mereka mengantri menerima bingkisan. Herman menghentikan Bram ketika hendak memberikan bingkisan pada salah satu anak yatim yang mengantri.


"Kenapa Mas?" tanyanya bingung.


"Sebentar. Mereka ini kebiasaan!" gerutu Herman.


Pria itu menghampiri empat perusuh yang mengantri. Gomesh membiarkan kedua putranya ikut duduk bersama anak-anak panti asuhan, mendengarkan kajian agama dari ustadz.


"Ayo sini, ikut ayah!" ajak Herman pada keempat perusuh plus Harun.


"Pita judha pawu mantli Tate!" seru Sky tak terima.


Para kakak mereka terkikik geli. Ternyata itu adalah ide para remaja termasuk sang ketua mereka Rion.


"Kalian!" tekan Herman gemas pada tingkah usil anak-anaknya.


Keempat perusuh plus Harun menggandeng tangan Herman. Haidar membantu paman dari istrinya itu menangani bayi-bayi cerdas itu.


Bram dan Kanya menggeleng kepala. Pembagian bingkisan di teruskan. Ruangan dengan design mewah itu mulai sepi. Tinggal para kolega yang masih bertahan. Lalu acara selesai.


"Eh ... pita tat banyi ya?" tanya Sky pada Bomesh.


Bayi itu mengendikkan bahu tanda tak tahu. Tidak ada panggung dan alat yang mengiringi ketika mereka bernyanyi menandakan jika memang tak ada aksi panggung.


"Tayana imi putan besta beulnipahan deh!" ujar Benua menimpali.


"Beupeltina bedithu!" sahut Domesh.


Demian benar-benar gemas mendengar empat bayi itu berbicara.


Harun ada di gendongan Sean. Bomesh, Sky, Benua dan Domesh saling bergandengan tangan.


"Sepertinya mereka tak akan terpisahkan selamanya," ujar Bart dengan senyum lebar.


Mereka pulang ke rumah masing-masing. Lidya dan Safitri sudah besar perutnya karena jumlah bayi yang mereka miliki.


"Iya bingung, nanti kalo melahirkan, Mam Saf gimana?" tanya Lidya tiba-tiba.


Semua menoleh. Mereka baru sadar akan hal ini. Semua menatap Safitri.


"Tenang, sayang. Aku bisa menangani kelahiranmu, baik setelah aku melahirkan atau pun belum," jawab Saf santai.


"Kau yakin, sayang?" tanya Kanya khawatir.


"Iya Oma ... Saf bisa kok," jawab Saf meyakinkan wanita paru baya itu.


Semua diserahkan pada wanita beriris abu-abu itu. Mereka benar-benar berharap semua baik-baik saja.


Semua pulang ke tempat tinggal masing-masing. Darren pulang ke rumah istrinya sedang Lidya pulang bersama suaminya.


Di rumah Terra merebahkan dirinya. Ia sedikit lelah mempersiapkan tujuh bulan Lidya dan Saf. Dua bayinya sudah satu tahun. Keduanya sudah sama-sama rusuh seperti kakak-kakak mereka.


"Ah, semua anak-anak cepat sekali besar," gumamnya.


"Sayang," panggil Haidar lalu pria itu ikut merebahkan dirinya di ranjang.


Pria itu langsung mengulum bibir istrinya lembut. Ciuman itu berlangsung seru dan agak lama.


Keduanya berhenti ketika merasa pasokan udara di dada mereka sudah menipis.


Hidung keduanya saling bersentuhan. Napas Terra dan Haidar menderu dengan degup jantung begitu cepat. Terra bersemu merah. Sang suami sudah menindihnya.


"Sayang ...," panggil sang pria serak.


"Mama, papa!"


Sebuah suara menganggarkan keduanya. Rion ada di sana. Rupanya Haidar lupa menutup pintu.


"Ah ... baby!' panggil keduanya buru-buru bangkit daru ranjang.


Rion bukan lagi bayi yang tak tahu apa yang terjadi. Remaja itu mendengkus kesal pada sepasang manusia dewasa itu.


"Bisa tunggu waktu atau paling tidak pintu ditutup kalau bisa dikunci!" tegur bayi besar itu kesal.


Muka Rion memerah bertanda ia sangat malu dengan apa yang ia lihat barusan. Walau bukan pertama kalinya. Karena ia sering kedapatan asisten ayahnya berciuman dengan istrinya yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengannya.


"Mata suci Ion ternodai," keluhnya lagi.


Remaja itu pun keluar kamar orang yang mengasuhnya sejak bayi itu. Ia menutup pintu. Terra dan Haidar saling lirik lalu mereka berciuman lagi.


Sedang di rumah Demian. Pria itu mengelus perut besar istrinya. Mereka baru saja melakukan panggilan kamera pada Dominic, ayah Demian.


"Sayang, ayah akan menanti kalian," ujar Dem.


"Ayah?" Demian menoleh.


"Semua anak memanggilmu Papa. Jangan bedakan," terang Lidya meminta pengertian.


Demian pun tersenyum. Ia mengerti. Lalu mengecup bibir sang istri lembut.


"Sayang ... aku menginginkan mu," ujarnya serak.


Lidya merona. Wanita itu juga ingin disentuh suaminya. Ia pun membalas pagutan Demian dengan panas. Pria itu senang bukan main. Mereka pun berkumpul dalam penyatuan cinta yang panas.


Beda lagi di tempat Darren. Sepasang suami istri itu tengah melakukan yoga. Tapi dalam keadaan naked. Saf memiliki ide, Darren mengikuti keinginan istrinya.


"Kau ternyata mesum juga ya," kekeh pria itu.


Mereka melakukan gerakan yang cukup erotis. Darren benar-benar tak tahan akan godaan istrinya. Pria itu menggendong ala pengantin Safitri dan merebahkannya di ranjang.


Dua netra saling menatap. Jantung keduanya berdegup kencang. Hingga percintaan mereka di mulai.


bersambung.


wah ... othor halunya ke mana ini ... 🤭


next?