TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH KEJADIAN



Rumah Terra sepi. Darren ke rumah istrinya yang tak jauh lokasinya dari rumah Gio. Sedang Lidya juga mengikuti suaminya pulang ke rumah pria itu.


Sementara Sean dan Al sudah mengepaki pakaian mereka dalam koper. Minggu depan keduanya akan berangkat ke Eropa. Bersama Kean, Calvin dan Satrio. Akhirnya Herman melepas putra tertuanya ikut.


"Mama!" panggil Sean.


Remaja yang sebentar lagi berusia lima belas tahun itu memeluk ibunya yang termenung.


Terra tersenyum. Ia membalas pelukan putranya. Al ikut memeluk ibunya.


"Baik-baik kalian di sana ya. Buat Mama dan Papa bangga," ujar Terra dengan suara berat.


"Kami akan pulang sesekali, Ma," ujar Sean.


Terra mengangguk. Ia kembali menciumi wajah anak-anaknya. Sean, Al dan Daud sangat mirip. Bahkan Nai jika berjenis kelamin pria juga mirip dengan tiga saudara kembarnya itu.


"Mama kira kalian akan terus sama Mama di sini," ujar Terra masih berat melepas putranya.


"Ma, perusahan Buyut Bart di sana banyak yang tak tertangani oleh Daddy Gabe, juga dua Grandpa lainnya," sela Al menjelaskan.


Terra berdecak. Perusahaannya di sini juga sudah bertambah tiga buah. Ia juga kekurangan orang untuk mengelolanya.


"Kan masih ada Rasya, Rasyid, Kaila, Dimas, Affhan, Maisya, Harun, Arion, Arraya, Azha, Sky, Benua, Samudera, Bomesh, Domesh, Mariana," sahut Al menyebut semua nama saudaranya.


Terra berdecak. Ia ingin semua anaknya dalam pelukannya. Tapi, ia memang tak boleh egois. Bahkan Bart meminta Seruni untuk tidak melakukan program KB agar seluruh perusahaannya dikendalikan seluruh keturunannya.


"Atau Mama punya anak lagi saja kembar tiga!" seru Sean semangat.


"Hai ... kau kira Mama ini kucing, yang terus-terusan melahirkan!" dumal Terra sengit.


Sean dan Al terkekeh. Mereka akan bermanja dengan ibu keduanya. Tak lama Rasya dan Rasyid pulang. Memang Sean dan Al tidak masuk kerja karena memang sudah mengundurkan diri dari jabatan mereka. Keduanya akan terbang ke Eropa bersama saudaranya yang lain dan hanya dua hari kemudian mereka akan langsung menjabat sebagai CEO.


"Kenapa nggak tunggu tujuh belas tahun dulu. Biar punya KTP Indonesia kak," ujar Rasya.


"Buyut nggak ngasih. Kan dari kemarin Buyut Bart terus-terusan ngingetin buat kita tak lupa ke Eropa!" jawab Sean.


Rasya dan Rasyid memeluk kakak mereka. Keduanya juga sangat manja dan berat jika harus ditinggalkan.


"Kan masih ada Kak Ion," sahut Al membujuk adik-adiknya.


"Ya nggak apa-apa, Kakak juga di sini aja," ujar Rasyid merajuk.


"Baby, biarkan Kakak pergi ya. Kan Kakak bakal sering kok pulang," ujar Terra menenangkan dua putranya.


Sedang di mansion Virgou. Puspita tak berhenti menghapus air matanya. Dua putranya akan pergi meninggalkannya dalam kurun waktu sangat lama.


"Baby, jangan lupa shalat ya," nasihatnya penuh isak.


Kean dan Cal memeluk ibu mereka dan ikutan sedih. Tapi, Mereka juga tak mau ditinggal oleh saudaranya Sean.


Sean lah yang meminta buyutnya mengangkut mereka semua ke Eropa.


"Jangan pisahkan kami!" seru Sean mendrama.


"Andai Nai, Arimbi dan Daud satu fakultas dengan kami. Tentu Sean mau mereka juga ikut serta!"


Bart terharu akan kedekatan anak-anak yang memang hanya beda bulan saja usianya. Anak-anak Terra yang paling muda dari semua.


"Baik, kalian akan pergi ke Eropa! Kean, bagian perhotelan, Sean bagian pertambangan dan mineral, Calvin bagian bandara. Al bagian Pariwisata dan Satrio bagian Cottage juga ritel!"


Bart membagi perusahaan yang harus mereka kelola.. Pria itu masih butuh di bagian pelabuhan dan kapal pesiar. Ia berharap cicit-cicitnya belajar masalah itu.


Di hunian Herman juga terjadi drama. Arimbi sangat sedih ditinggal oleh saudaranya. Ia memeluk Satrio erat.


"Mana boleh begitu. Eropa dan Indonesia itu jauh, jangan pergi kalau sering pulang!" seru Herman geregetan.


Khasya mencebik dengan ulah suaminya yang terkesan garang jika mendidik anak-anak. Walau tujuan pria itu baik. Khasya yakin, jika suaminya kini menahan tangis di dadanya.


Sedang Satrio hanya menunduk mendengar ocehan ayahnya itu.


"Ayah, jangan marah-marah sama Mas Satrio. Dia kan mau pergi lama," ujar Dewi sedih.


Dewa dan Dimas juga sedih atas perginya sang kakak ke negara yang sangat jauh menurut mereka.


Semua tengah sibuk mengurusi keberangkatan anak-anak laki-laki ke Eropa. Sedang Lidya dan Putri pulang bersama dari rumah sakit. Suami mereka meminta datang ke kantor karena akan pulang sedikit lama.


Kedua wanita yang tengah hamil itu datang ke kantor. Semua tentu mengenalnya. Mereka membungkuk hormat, kecuali ...


"Hei ... berhenti! Anda tak bisa masuk begitu saja tanpa ijin!" teriak resepsionis.


Gio, Hendra dan Felix yang mengantar nona mereka berhenti dan menatap datar pada sosok yang bermake up tebal dan memakai baju kekecilan.


Bagaimana tak dibilang kekecilan. Kancing baju gadis itu seperti mau copot karena menutupi tubuh, terlebih dadanya yang membusung.


"Apa istri seorang presiden direktur tak bisa begitu saja masuk?" tanya Gio penuh penekan.


Resepsionis itu menatap Lidya dan Putri bersamaan. Tentu ia kenal. Atasannya telah mengenalkan dua wanita itu beberapa hari lalu.


"Sekarang apa kami boleh masuk?" tanya Lidya membuyarkan lamunan resepsionis.


Gadis itu menelan saliva kasar. Ia pun mengangguk. Kelima orang itu pun berlalu dari sana.


"Kau cari mati!" runtuknya kesal pada diri sendiri.


Gio memencet tombol lift khusus untuk nonanya. Beberapa karyawati melirik. Lidya dan Putri tak peduli. Mereka pun masuk ke dalam ruang persegi empat itu.


"Iiiyuuhh ... lagaknya seperti yang punya perusahaan. Padahal Boss kita sendiri orangnya low profile!" sahut salah satu karyawati ketika pintu lift tertutup.


Beberapa mengangguk setuju.


"Aku heran, Boss kita nyari cewe di mana sih? Apa nggak diselidiki bobot, bibit dan bebernya? Nggak sopan, asal main masuk dan naik lift khusus lagi!" cela wanita yang sama.


"Iya, kan mendingan aku. Manners aku baik, sopan, cantik dan seksi lagi," lanjutnya membanggakan diri.


Kali ini para wanita yang tadi mengangguk malah menggeleng tak setuju.


"Cantik dari mananya?" sela salah satu sambil berbisik.


"Hei ... ada apa ini!? kenapa malah bergosip!" teriak kepala karyawan yang tengah melintas.


Semuanya pun bubar dan kembali menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.


Tak lama Demian dan Jacob turun dengan menggandeng mesra tangan istri mereka masing-masing. Beberapa karyawan dan karyawati yang pulang di jam yang sama membungkuk hormat dan mengulas senyum. Sebagian tersenyum tulus sedang yang lain cari muka dan pura-pura.


"Anda mau pulang Tuan?" tanya Gea sang kepala divisi administrasi dengan suara manja.


Lidya menatap gadis itu dari kepala hingga kakinya. Alis matanya naik sebelah melihat penampilan gadis itu.


"Mba, kamu nggak punya baju yang sedikit sopan ya. Ini kantor loh, bukan klub malam!" tegurnya pedas.


bersambung.


mampus Lo Gea!


next?