
"Berhenti atau Nona kalian akan mati!" ancam pria itu lagi.
Semua berhenti. Lidya yang menyadari jika Putri menjadi dirinya ingin memberitahu, jika dia lah gadis yang mereka incar. Gio yang mengerti jika Putri tengah melindungi sahabatnya, langsung menghentikan Lidya.
"Serahkan, Nona kami!" pinta Gio kini.
Sedang yang lain menyeret teman-teman pria yang menyekap Putri. Pria itu meminta semua rekannya dilepaskan.
"Lepaskan semua temanku!" bentaknya.
Tangannya yang memegang pisau menekan leher Putri, hingga sedikit mengeluarkan darah.
Lidya hendak menjerit, tetapi Juno langsung menjauhkan Lidya dari lokasi itu.
"Om ... Putri, Om ... hiks ... hiks!"
"Tenanglah Nona, serahkan pada kami. Anda pulang lebih dulu, ya, biar Putri menjadi urusan kami!"
Juno meminta Hendra dan lainnya membawa nona mereka pulang. Walau Lidya menolak bahkan sempat berteriak memanggil nama sahabatnya.
"Putri! Putri!"
"Nona, tenanglah. Ini demi keselamatan Putrinya juga!" pinta Hendra memohon.
"Huuu ... uuu ... Putri ... hiks ... hiks!" Lidya tersedu.
Terra yang mengetahui jika Putri menamakan dirinya sebagai Lidya sempat shock. Tetapi, wanita itu tetap tenang, walau air mata mengalir di pipinya.
"Ya Allah selamatkan Putri," doanya meminta.
Sedang di tempat Darren dan Budiman mengetahui jika Putri disandera karena mengaku sebagai Lidya.
"Baba," Darren begitu cemas.
"Tenanglah Tuan. Di sana banyak pengawal terlatih. Kami pernah menghadapi situasi ini," sahut Budiman menenangkan tuan mudanya walau pria itu juga khawatir dengan keselamatan sahabat nona mudanya itu.
Virgou yang masih ada di dunia yang pernah membesarnya belum mengetahui jika Putri sedang disandera anak buah Jordhan. Ia sedang asik mengacau di tempat itu. Pria itu benar-benar membuat dunia mafia kalang kabut dengan kehadirannya.
Putri yang disandera hanya diam tak melakukan pergerakan yang berarti. Lehernya sudah perih karena tekanan pisau.
'Aku harus bertindak, sebelum aku mati konyol!' gumamnya.
Putri menatap Gio dan Robert juga lainnya. Ia melihat posisi para pengawal sahabatnya itu. Dengan berbagai perhitungan. Ia memberi kode pada Gio.
Gio langsung mengerti tanda yang dikirimkan Putri, pria itu pun sigap.
Tangan gadis itu memegangi lengan yang melingkari lehernya dan lengan satunya memegang pisau dan menekan lehernya. Dengan gerakan cepat. Putri melakukan gerakan pelintiran.
"Aarrghh!" pekik pria itu.
Putri berhasil memberi kuncian pada tangan penjahat. Pria itu melakukan perlawanan. Ia menyabet pisau dengan cepat.
Sret!
"Arrghh!"
"Nona Putri!" pekik Gio tak sadar.
Robert mengelam. Pria itu langsung menyerang penjahat yang berhasil memberi luka panjang dan tusukan sedikit dalam pada paha dan lengan Putri.
Baju dinas berwarna putih itu seketika memerah karena darah. Putri tersungkur ke tanah dengan memegangi pahanya yang terluka cukup dalam. Ia mencari sobekan kain atau sapu tangan.
"Pakai ini Nona!" ujar Gio melepas bajunya dan merobeknya.
Terlihat perut kotak pria itu. Putri sempat terkesima. Ia buru-buru mengikat pahanya agar tak banyak mengeluarkan darah.
Delapan pria penjahat menjadi bulan-bulanan, pengawal Lidya. Mereka berteriak minta ampun.
Ambulance datang. Putri digiring dan diletakkan di atas brangkar. Wajah gadis itu sedikit pucat. Felix bersama gadis itu mengantarkan ke rumah sakit.
Sedang di tempat lain. Virgou yang baru mengetahui jika Putri yang menjadi sasaran para anak buah Jordhan. Langsung murka.
"Kirim mereka ke mari dalam keadaan hidup!" titahnya. "
"Biar aku membunuh mereka!" lanjutnya dengan kilatan mata sadis.
Dalam keadaan babak belur. Kedelapan pria itu dibawa pihak polisi internasional. Ternyata mereka tidak sah tinggal di Indonesia. Mereka langsung dideportasi.
Sedangkan Putri kini dilarikan ke ruang unit gawat darurat. Gadis itu kehilangan cukup banyak darah.
"Astaghfirullah, Suster!" pekik Aini.
"Pasien butuh darah O negatif!" pekik salah satu dokter yang menangani Putri.
Semua terhenyak mendengar golongan darah gadis itu. Darah yang sangat langka, yang hanya ada satu persen di seluruh Asia.
Aini menangis mendengarnya. Gadis itu langsung memposting status di grup donor darah.
(Urgent O negatif!). Postingannya langsung menyebar. Semua bertanya siapa yang memiliki darah langka tersebut.
"Kita panggil kedua orang tua Putri," ujar Gio. "Saya yakin salah satu dari mereka pasti memiliki darah yang sama dengan Putri!"
Gio baru saja datang ketika dokter meneruskan darah sahabat nona mudanya itu. Felix langsung meminta salah satu rekannya yang ada di tempat Terra menjemput ayah, ibu juga adiknya Putri.
Terra terhenyak mendengar golongan darah emas itu. Maria berdarah sama dengan Putri sayang, ia tengah mengandung.
"Darah saya sama dengan Putri, tetapi saya sedang hamil," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Kak. Semoga kedua orang tua dan adik Putri memiliki darah sama," sahut Terra menenangkan.
Demian dan Jacob yang memang berada dalam grup donor darah terkejut dengan postingan yang telah dibagi oleh Aini.
"Jac, kau bergolongan darah sama, apa kau mau menghubungi Dokter Aini?" tanya Demian.
"Saya akan langsung ke rumah sakit, Tuan!" jawab Jac.
"Aku ikut!" sahut Demian.
Kedua pria tampan itu langsung bergegas ke rumah sakit. Kedua orang tua dan adik Putri datang. Mereka semua diperiksa.
"Sayang, semuanya tidak segolongan darah dengan Putri. Ketiganya memiliki O positif," jelas dokter yang memeriksa mereka.
"Kenapa bisa berbeda Dok. Putri adalah anak kandung kami," ujar ayah Putri.
"Ada beberapa jenis golongan darah yang perlu diketahui, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O. Pada anak, golongan darah yang dimiliki belum tentu mengikuti sang ayah. Hal ini disebabkan golongan darah yang dimiliki oleh anak mengikuti gen yang lebih kuat di antara ayah atau ibunya." jelas dokter. "Kemungkinan golongan darah pasien terjadi karena terbentuk sendiri dan gen itu lebih kuat."
Kedua orang tua Putri akhirnya mengerti. Ia meyakini gen Putrinya begitu kuat hingga menciptakan golongan darahnya sendiri.
Aini berkenalan dengan orang tua suster yang bekerja di rumah sakit ini.
"Pasien dalam keadaan koma!" teriak salah satu perawat.
Semuanya shock. Terutama ibu dari gadis yang kini berjuang antara hidup dan mati. Wanita paru baya itu menangis.
Sedang di rumah Terra.
"Ma, Iya mau ketemu Putri Ma!" pinta Lidya sambil menangis.
Terra mengangguk. Ia meminta Maria untuk menjaga semuanya di rumah termasuk Puspita. Wanita itu juga tak berhenti dengan rada cemas. Suaminya belum pulang hingga hari yang sudah dijanjikan.
"Kak, titip semuanya ya," Maria mengangguk.
Gisel datang bersama mertua dan anak-anaknya. Terra juga menitipkan semuanya pada adik iparnya itu.
"Kakak mau ke rumah sakit, lihat keadaan Putri," ujarnya dengan suara serak.
Semua dilanda kecemasan. Hingga anak-anak datang. Rion dan Haidar juga Darren bersama Budiman datang ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Darren langsung.
"Nona Putri koma, Tuan muda," jawab Gio.
"Innalilahi!" sahut Darren.
Lidya datang sambil berlari. Ia langsung ingin masuk ruang UGD tapi ditahan oleh Haidar.
"Pa, Putri begini karena Iya, Pa ... ini karena Iya ...!" pekik gadis itu.
Nania, Ibu Putri langsung memeluk Lidya. Ia tak ingin gadis itu menyalahkan dirinya.
"Tidak sayang ... ini bukan karena kamu. Tapi, ini memang sudah takdir Putri. Ibu bangga dia mau menjadi tameng untuk kamu," ujarnya menenangkan Lidya.
Terra terharu begitu juga Haidar, Darren dan Rion. Kini mereka menunggu donor darah untuk kelangsungan hidup gadis yang ada di dalam ruangan.
Sedang Jacob dan Demian memaki panjang pendek para pengendara yang saling berebut jalan, hingga mengalami kemacetan panjang.
bersambung ...
Putri ðŸ˜
next?