
Dav benar-benar memenuhi janjinya. Kini rumah Seruni penuh dengan anak-anak, bahkan Rion, Lidya dan Darren pun ikut bersama mereka.
Seruni menangis haru ketika Lidya datang dan memeluknya. Bahkan, nyai Hadijah juga kini selalu memeluk gadis itu.
"Jadi Nak Lidya ini sebentar lagi jadi Dokter?" tanya Gustaf tak percaya.
"Iya, Ya'i," jawab Lidya yang senang-senang saja dipeluk oleh istri dari pria sepuh ini.
Lidya juga merasa ia dipeluk oleh ibunya sendiri Terra. Minggu pagi di rumah Seruni menjadi sangat ramai hingga membuat semua tetangga ingin tau apa yang terjadi di rumah paling besar di daerah itu.
"Wah, ada apa tuh di rumah gadis cacat itu?" tanya salah satu ibu tambun memakai daster pada tetangga sebelah bilik rumah sewanya.
"Nggak tau tuh. Mo ada pesta kali. Wah, nggak terima nih jika Seruni nggak ngundang-ngundang kita!" jawab tetangganya.
"Lihat mobilnya sih mewah dua-duanya," sahut tetangga sambil melirik mobil yang terparkir di dalam halaman rumah.
Memang Baik Dav dan Darren menggunakan mobil Pajero sport milik Terra untuk memudahkan mengangkut semua anak-anak. Salah satu ibu-ibu kepo tadi melihat asisten rumah tangga Seruni keluar membawa sampah. Ia pun memanggilnya.
"Eh, Mba Pur. Ada apa nih rumah majikan rame?" tanyanya penasaran.
"Iya, lagi banyak tamunya Mba Seruni," jawab asisten yang bernama Puri.
Wanita berusia tiga puluhan itu hendak masuk kembali, namun ditahan oleh ibu-ibu tadi karena ia masih penasaran.
"Tunggu dulu, Mba Pur. Kek sama siapa aja," ujar tetangga kepo itu.
"Tamu dari mana sih Mba? Apa Mba Seruni mau adakan hajatan lagi?" tanyanya masih penasaran.
"Minta doanya saja ya, Bu. Mari!" jawab Puri singkat dan langsung pamit meninggalkan ibu-ibu kepo tersebut.
"Eh, Mba Pur ... tunggu dulu!" serunya malah tak terima. "Huh dasar sombong. Cuma babu aja!"
"Ah, udah biarin dulu. Nanti kita tinggal tanya sama, Nyai aja," ujar tetangga satunya memberi saran.
Keduanya pun masuk bilik kontrakan mereka dan melanjutkan aktivitas mereka. Sedang dalam rumah Seruni terjadi kericuhan. Mereka membuat Drama. Ya'i Gustaf sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat kelucuan tingkah anak-anak yang begitu cerdas.
"Astaghfirullah ... astaghfirullah ...!" pria sepuh itu tak berhenti beristighfar.
"Nak, sudah cukup, Nak. Ya'i udah nggak kuat," pintanya memohon agar anak-anak menghentikan tingkah mereka..
"Bait lah ... palena Ya'i syudah pidat pahan pelutna syatit ... pita bentitan dlama ini," ujar Kaila bijak.
Seruni sudah lemas. Ia memeluk Lidya karena tidak kuat. Dav hanya menatap gadisnya penuh arti. Ini lah bedanya jika berdekatan dengan gadis seperti Seruni, ia tak bisa asal menyentuhnya.
"Tante, Nanti, kalo udah sama Om Dav, kita belajar ngajinya sama Tante aja ya," pinta Arimbi antusias.
"Boleh sayang," ujar Seruni menyanggupi.
"Assik ... banti pita pisa matan tue banat-banat!" seru Dewi semangat.
"Hei, kau Baby gembul. Kue itu nanti Kak Darren suruh Tante Seruni umpetin selama mengaji!"
Arimbi cemberut dipanggil baby gembul oleh kakaknya itu. Seruni langsung membela gadis cantik itu.
"Nggak apa-apa, Baby. Tante juga gembul kok, karena pake hijab aja jadi nggak kelihatan gembulnya."
Arimbi langsung senang. Sedang Lidya mulai bertanya-tanya tentang hijab pada nyai Hadijah.
"Seorang muslimah memang wajib menutup auratnya, Nak. Pakailah yang simpel dan tidak mengganggu aktivitas mu," jelas Hadijah.
Lidya ingin menutup auratnya. Memang selama ini dia tak pernah memakai baju terbuka atau ketat. Papanya akan memarahinya jika memakai celana pendek saja di sekitar rumah.
"Di sini banyak pria! Untuk apa kau memakai celana pendek seperti itu!"
Itu baru Papanya, belum Daddynya yang akan mengancam membutakan semua pria pengawal di rumah jika Lidya mengenakan celana pendek lagi. Sedang Ayahnya Arimbi malah meminta Lidya mengambil semua celana pendek dan membakarnya.
"Bayi ... bayi!' panggil Kaila pada pria sepuh yang sedang mendengarkan Kean melantunkan salah satu ayat suci Al-Quran.
"Di latih lagi ya. Masih ada yang kurang sedikit," ujar Gustaf mengelus sayang kepala Kean menyudahi latihan bacaannya.
"Ada apa, Nak?' sahut Gustaf, pria sepuh itu tak mempermasalahkan panggilan para bayi padanya.
"Ila temalin tan bensil Ila pipinzem pemen, tlus pelum bipalitin laaamaa setali. Tlus, Ila pihat bensil Ila ada pi meja pemen Ila yan binjem. Tlus Ila bambil dithu aja, eundat pilan-pilan," ujar Ila bercerita.
Gustaf tampak.mengernyitkan keningnya. Pria itu berusaha mencerna perkataan balita cantik itu.
"Ila beulbosa pidat bayi?" tanya Ila.
Pria sepuh itu menyerah. Ia tak mengerti perkataan bayi cantik itu. Kean yang menatapnya pun akhirnya menterjemahkan cerita dan pertanyaan Kaila.
Mendengar hal itu. Gustaf langsung tertawa. Betapa cerdasnya balita itu bertanya perihal perbuatan yang menurut Kaila salah tersebut.
"Memang sudah berapa lama teman Ila nggak balikin pensilnya?" tanya Ya'i.
Balita itu tampak berpikir dan mengingat dengan menghitung jarinya. Gustaf sampai gemas dibuatnya.
"Buwa tali labu, Bayi," jawab Ila.
Pria sepuh itu menoleh Kean. Lagi-lagi ia tak tahu arti bahasa Kaila.
"Dua kali hari rabu, Ya'i," sahut Kean mengartikan perkataan Kaila.
"Hmmm ... Ila nggak dosa karena yang Ila ambil adalah milik sendiri. Kan, temennya udah lama pinjem," jelas Ya'i.
Kaila akhirnya lega. Dari beberapa hari lalu ia merasa gelisah karena merasa mencuri barang sendiri. Walau temannya itu tak mencari pensil yang hilang itu.
Kini, Seruni bersama Lidya, Maisya, Nai dan Arimbi tengah membuat adonan kue. Dav duduk di sebelah Gustaf.
"Ada dua yang tak bisa saya bawa, Ya'i. Yakni Samudera dan Benua," sahutnya.
"Tidak masalah. Lain waktu, ya. Oh ya berapa bulan kandungan adikmu?" tanya Gustaf.
Gisel tengah mengandung anak ketiga yang diyakini adalah perempuan.
"Baru usia tujuh bulan, Ya'i," jawab Dav.
"Mudah-mudahan lahir dengan selamat. Ibu dan bayinya sehat tak kurang dari apa pun," doa Gustaf untuk Gisel.
"Aamiin," Dav mengamini doa pria sepuh itu.
Usai makan malam, semuanya pun pulang dengan bingkisan kue yang banyak. Anak-anak begitu gembira mendapat kue begitu banyak.
"Nanti dibagi untuk teman-temannya ya," ujar Seruni.
Kini, rumah kembali sepi. Ya'i dan istrinya juga sudah pulang. Seruni kini merebahkan diri di ranjang queen size miliknya. Ponselnya berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk.
"Selamat tidur semoga Allah memudahkan semuanya. Aamiin."
Seruni tersenyum. Gadis itu mengamini pesan singkat yang dikirimkan oleh pria yang baru saja pulang. Ia menekan ponsel itu ke dadanya.
"Bismillahirrahmanirrahim ... Seruni mencintai Kak Dav," ungkapnya bermonolog.
bersambung.
Alhamdulillah ... rasa itu hadir juga.
next?