
Hari minggu, Saf memenuhi janjinya untuk datang ke rumah Terra, ibu dari Darren. Ia mengajak Aini dan dua adiknya turut serta. Tadinya Aini menolak.
"Eh, biar ketemu sama Babang Gio!" seloroh gadis bongsor itu.
Aini mengerucutkan bibirnya. Gio sudah melamarnya. Haidar dan Terra yang mendatangi gadis itu atas pemintaan Gio.
Aini ingat sekali, gadis itu cukup terkejut melihat kedatangan kedua orang penting itu. Tadinya Aini mengira Gio akan datang bersama rekan atau saudaranya.
"Gio Prakoso itu sebatang kara, Nak. Papa harap kamu jangan sungkan pada kami. Walau gagal bersama Darren. Gio juga merupakan bagian keluarga kami," sahut Haidar.
Aini menerima lamaran Gio. Mereka akan menikah secara agama dulu. Karena jujur, gadis itu sudah tak bisa hidup sendiri mengurus dua adiknya.
"Hei ... ngelamun jadinya!" seru Saf mengagetkan Aini.
"Ibu ...," rengek gadis itu.
"Ayo cepat!" ajak Saf.
Ditya dan Radit senang jika kembali berkumpul bersama kakak dan adik mereka.
"Hole ... kita ke Mama Tella ya, Bu!" seru Radit senang.
"Iya sayang," sahut Saf dengan senyum lebar.
Akhirnya Aini ikut gadis bongsor itu. Hanya butuh tiga puluh menit mereka sampai rumah besar. Pagar terbuka. Sosok pria berkisaran lima puluhan mendatanginya.
"Nona Safitri ya?" tanyanya.
"Iya, pak," jawab Safitri ramah.
Pintu gerbang terbuka. Deno masih setia bekerja dengan Terra. Padahal di sana banyak pengawal muda yang tak keberatan mengganti tugas pria itu. Tapi, ia dan istrinya masih setia ikut dengan Terra yang baik hatinya.
Mobil sedan mewah itu masuk perkarangan yang cukup luas. Aini terkagum-kagum dengan kemewahan bangunan. Padahal gadis itu sudah ke sekian kali datang ke rumah Terra, tapi ia masih kagum juga.
"Yuk!" ajak Saf.
Gadis itu membuka bagasi mobilnya. Satu kabinet besar berisi pangsit siap masak. Gadis itu sudah mempersiapkan semuanya. Hanya tinggal rebus saja.
"Bu bidan, biar saya yang bawa," aju Gio yang datang menghampiri mereka.
Pria itu mengambil kontainer plastik yang besar. Kontainer itu memiliki tuas dan roda hingga bisa ditarik.
"Makasih ya Mas," ujar Saf.
Aini cemberut. Safitri malah terkekeh melihat gadis di sebelahnya cemburu.
"Ish ... jangan cemburu gitu," goda Safitri.
"Ibu," rengek Aini kesal.
Mereka masuk ke rumah dan memberi salam. Terra menyambutnya dengan senyum lebar.
"Ditya dan Radit sini!" ajak Rion.
Setelah mencium punggung tangan Terra. Saf mengambil alih kontainer yang dibawa oleh Gio. Pria itu pun pamit ke paviliun.
"Ma, ini tinggal rebus aja kok. Saf bawa banyak," ujarnya menyerahkan makanan itu.
"Makasih sayang. Nggak usah repot-repot gini," ujar wanita itu.
"Nggak apa-apa, Ma. Sekalian nyogok camer!" celetuk Saf tanpa sadar.
"Eh!" gadis itu menutup mulutnya setelah sadar.
Terra terkekeh. Lidya datang menghampiri gadis itu turun dari tangga. Darren juga.
"Papa mana, Ma?" tanya Aini kini.
"Papa main golf sama Daddy, Papi, Baba dan Ayah juga Grandpa," jawab Terra lalu ia memanggil Guna untuk merebus pangsit bawaan Safitri.
"Ata'Babitli!" sambut Sky dan Bomesh bersamaan.
Keduanya baru tahu jika ada kakak cantik mereka. Dua batita itu minta gendong. Dengan senang hati, Safitri menggendong keduanya.
"Ata' pawa bansitna?" tanya Sky langsung.
"Baby, tanya kabar dulu," tegur Darren.
Pria itu tak berhenti mencuri pandang pada Safitri. Gadis itu mencium gemas pipi gembul dua batita itu.
"Kakak bawa banyak," sahutnya.
"Holee ...!" seru Bomesh bertepuk tangan.
Terra hanya geleng-geleng saja. Ia meminta Saf dan Aini untuk duduk. Safitri memilih bersama anak-anak sedang Aini duduk manis di sana. Lidya mengajaknya ngobrol. Darren mengikuti Safitri.
"Assalamualaikum!" sapa gadis itu.
"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.
"Bu bidan!"
"Ata' Babitli!"
"Manana spasa sih seupeunalna? Pu pidan apau Ata' Babitli?" tanya Benua masih penasaran.
"Sama saja, Baby. Mau panggil Bu bidan atau kakak Safitri, sama saja," sahut gadis itu.
Benua akhirnya mengangguk tanda mengerti. Rasa penasarannya telah terobati.
Ada saja kegiatan mereka di taman. Darren tak mau jauh dari sisi gadis bongsornya itu. Ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Safitri.
"Dek," panggilnya pelan.
Gadis itu menoleh. Dua mata saling tatap. Ada getaran aneh mereka rasakan. Safitri menunduk dengan dua pipi memerah. Beruntung anak-anak sedang sibuk bermain. Jadi tidak memperhatikan keduanya.
"Dek, lihat Mas!" pinta Darren.
"Ish ... apa sih Mas!" sahut Safitri malu bukan main.
Sudahlah tadi ia salah ngomong dengan Terra. Kini, pria yang sudah menghias mimpinya itu begitu dekat dengannya. Safitri meyakini dirinya akan sulit tidur malam ini.
"Sayang," panggil Darren mesra.
"Ih ... istighfar Mas!" sahut Saf dengan rona di pipinya.
"Maaf ... sayang," sebut Darren makin mesra.
"Ih ... aku pulang nih!' ambek Saf kesal.
"Iya ... iya ... maaf. Makanya nikah yuk, biar panggil kamu sayang," pinta pria itu serius.
Gadis itu menatapnya. Dua iris berbeda saling pandang. Darren benar-benar serius. Saf memalingkan mukanya.
"Safitri!" panggil pria itu tegas.
"Udah ah ... jangan ngaco. Kita baru kenal, aku nggak mau nanti Mas lihat cewek lebih cantik dari aku, Mas berpaling," sahut gadis itu.
"Hei ... aku bukan pria seperti itu!" sanggah Darren tak terima.
Pria itu merapatkan tubuhnya pada Safitri. Gadis itu ingin menjauh, tapi tubuhnya berkhianat. Malah kini merasa nyaman. Sungguh, insting pria Darren bangkit karena gadis bongsor ini.
"Nikah yuk," ajaknya lagi.
"Mas," rengek gadis itu.
"Iya sayang," sahut Darren mesra.
Saf makin merona. Ia ingin sekali berlari dan bermain bersama anak-anak. Tapi, tubuhnya malah makin nyaman dengan pria itu.
Terra melihat kedekatan putranya bersama Safitri. Ia tersenyum. Entah kenapa, ia sangat ingin gadis itu menjadi adik iparnya. Ia akan membayangkan jika rumah ini ramai penuh dengan anak-anak Darren dan Lidya.
"Ata'Babitli!" panggil Sky.
"Tot dudutna detet-detetan syama Ata' Dallen?" tanyanya.
Safitri sudah ingin menjauhi Darren. Tapi, pria itu malah merangkul bahunya.
"Nggak apa-apa Baby, Kakak pengen duduk berdua saja sama Bu bidan," jawab pria itu.
Sky menjauhkan tubuh Darren dari tubuh Saf. Ia menggeleng kuat.
"Janan beulduaan manti yan tetida ipu betan!" ujarnya menasehati.
Darren gemas bukan main. Sedang Safitri tertawa mendengar nasihat bayi lucu itu.
"Tuh dengerin Ata' Dallen. Janan peulduaan Yan tetida ipu ketan!" selorohnya.
"Ata' meman pahu betan?" tanya Sky ingin tahu.
Saf menggeleng. Bayi itu memanggil Bomesh. Batita itu pun datang mendekati.
"Bomesh pahu betan ipu pa'a!" ujarnya memberitahu.
"Petan Sty butan betan!" ralat Bomesh..
"Piya matsutna ipu!" sahut Sky.
"Jadi apa itu betan?" tanya Darren penasaran.
"Teumalin petanda beubelah lumah teuliat-teuliat. Betan!" cerita Bomesh.
Semua pun akhirnya mendengar dan mulai berkumpul.
"Setan Baby, bukan betan!" ralat Kean.
"Piya ipu!"
"Daddy suluh pita putup pelina pial eundat deungeul!" lanjut Bomesh.
"Olan ipu teliat. .. bocon!"
bersambung.
oke deh ... suka-suka Bomesh cerita.
next?