
My dear Papa
Hi, Pa.
Ketika kau baca surat ini, berarti aku sudah tiada selamanya di dunia.
Sedih, kecewa pastinya. Tapi, aku yakin bisa berdansa suatu saat denganmu untuk terakhir kalinya.
Pa, aku tahu kau bekerja begitu keras untuk kelayakanku. Memberiku gelimang kemewahan, agar aku bisa berjalan tegak, seperti tuan puteri, sesuai keinginan Papa.
"Kamu harus jadi princess."
Aku memang princess Papa. Aku cantik kan Pa, sama seperti wanita yang kau cinta yakni Mama.
Pa ...
Kau adalah pria cinta pertamaku. Pria yang selalu mengerti aku, pria junjunganku.
I love you more than you know it.
Once more time
I love you and i'm sorry.
love
Selena Wijaya.
"I love you too my princess. I love you ... hiks ... hiks!" Wijaya menangis membaca surat cinta dari putrinya.
Sepasang suami istri itu menatap tanah rata di depannya. Pendeta baru saja meninggalkannya. Di sana ada nisan bertuliskan Rest In Peace My Lovely Princess Selena Wijaya.
"Huek!" tiba-tiba Brigitta mual.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Wijaya khawatir.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Hanya sedikit pusing dan mual. Mungkin masuk angin," jawab Brigitta dengan wajah sedikit pucat.
"Baiklah, kita kembali ke rumah sakit ya. Dari kemarin kau kurang memperhatikan kesehatanmu," ajak Wijaya dengan perhatian.
Brigitta mengangguk. Sekali lagi ia menatap tanah di mana Selena dimakamkan. Wijaya mengelus bahu sang istri. Ia juga merasa kehilangan.
"Sayang, apa kau sudah mengabari Virgou jika, putri kita sudah meninggal?" tanya Brigitta sambil langkah mereka perlahan meninggalkan makam.
"Aku sudah mengirimnya pesan. Nomor Selena kemarin sepertinya diblokir oleh Virgou. Jadi aku mengirimnya via nomor ponselku," jawab Wijaya panjang lebar.
Lagi-lagi Brigitta mual. Tubuhnya sedikit limbung, nyaris jatuh jika saja sang suami tak sigap. Wajah wanita berusia lima puluh lima tahun ini makin pucat. Wijaya langsung membopong istrinya masuk ke dalam mobil Maserati miliknya. Pria itu membawa Brigitta ke rumah sakit. Siapa sangka ketika memeriksa kesehatan sang istri ia mendapat kabar yang sangat membahagiakan.
"Kita akan menjaganya dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, sayang," ujarnya berjanji.
Brigitta hanya bersyukur. Ia akan segera dianugerahi anak lagi, jika bisa menjaga kehamilannya kali ini.
Sementara di benua lain. Di sebuah bandara internasional. Sepasang suami istri tengah menunggu pesawat yang delay, karena faktor cuaca yang tiba-tiba memburuk. Pria itu memesan sebuah cottage yang berada di bandara. Tiga jam delay membuat istrinya kelelahan menunggu. Sedang pihak bandara atau pesawat belum memastikan kapan mereka akan berangkat.
Virgou merogoh saku dan mengecek ponselnya. Sebuah pesan masuk dengan nomor asing. Ia pun segera membukanya.
(Selena sudah meninggal dunia kemarin malam.)
Pria dengan sejuta pesona ini hanya menghela napas panjang. Ia cukup terkejut, setelah telepon terakhir beberapa hari lalu mengatakan jika perempuan itu sakit. Tetapi ia menggubrisnya. Virgou langsung memblokir nomor Selena.
Pria itu tak berniat membalas pesan singkat itu. Ia hanya berkata dalam hati jika ikut berduka. Segera ia hapus nomor ponsel tersebut. Virgou tak mau lagi berkubang di masa lalu.
"Mas," panggil Puspita.
Wanita itu tampaknya memperhatikan suaminya termenung cukup lama sambil memegang ponselnya. Virgou menoleh.
Virgou menggeleng. Ia pun tersenyum lalu mengecup bibir istrinya. Kecupan itu lama-lama berubah menjadi *******. Semakin lama semakin menuntut. Baru saja Virgou mengangkat tangan untuk meremas benda kenyal favoritnya. Tiba-tiba sebuah pengumuman berbunyi.
Ting ...
"Untuk penumpang penerbangan negara A, segera menuju pesawat anda karena sebentar lagi akan take off."
Ciuman itu berhenti. Puspita membenahi pakaiannya yang nyaris berantakan akibat ulah suaminya. Mereka langsung bergegas meninggalkan kamar dan menuju pesawat yang akan membawa mereka. Virgou sengaja tak memakai jet pribadi milik Bram. Ia ingin menikmati perjalanan selama enam belas jam ke depan bersama sang istri. Menikmati satu kali transit di sebuah kota indah selama empat jam. Sambil menunggu take off kembali, mereka akan berjalan-jalan sebentar menikmati suasana musim dingin dan matahari terbenam di antara gedung-gedung bertingkat.
Sedang di tempat lain..Tampak sosok bayi montok tengah melakukan aksinya kali ini. Ia bekerja sama dengan kakak perempuannya. Obyek keusilannya kali ini adalah para pekerja di rumah.
"Man Deno ... Iya penen dadhi pelias penanten. Man Deno dadhi modelna ya," pinta Lidya dengan wajah memelas dan puppy eyes-nya.
Siapa yang akan tega menolak. Bukan itu saja. Rion sudah memasang wajah garang.
"Man Peno ... balus mau bi pandanin Ata' Iya, palo pidat. Wawas!" ancamnya.
"Sama Bik Romlah aja ya. Kan Bik Romlah perempuan. Kalo Mamang kan laki-laki, masa laki-laki didandanin, Non," ujar Deno mencoba memberi saran.
"Oh iya ya. Tan ada Bit Lomlah syama Bit Ani. Baby, bisya tolong pandilin Bit Lomlah," pinta Lidya pada Rion.
"Oteh!"
Deno mengelus dada. Ia bernapas lega.
"Selamet ... selamet."
"Bit Pomlah!" panggil Rion.
Romlah sangat tahu apa yang akan terjadi, jika ia menjawab panggilan itu. Wanita itu pun pura-pura tidur. Begitu juga Ani dan Gina, istri Deno.
Sayang, mereka berpura-pura tidur bukan di tempat tidur mereka melainkan, di meja, ada yang menyender di kulkas bahkan ada yang berdiri sambil memegang sapu.
Melihat keanehan itu membuat Rion seketika terdiam. Ia berpikir, kenapa orang-orang ini tidur sambil berdiri.
Mata para asisten rumah tangga itu mengintip sebelah. Melihat aksi tuan bayi mereka. Sungguh ekspresi Rion nyaris membuat ketiganya tertawa. Rion yang tidak suka dirinya dibohongi tiba-tiba berdoa.
"Waa Allah ... mamapin, Bit Bomlah, Bit Amin bama Bit Dima ... pemuana bolon ma Ion ... pemuana belbosa waa Allah, aamiin."
Dan ketiga asisten rumah tangga itu pun sontak bangun. Mereka langsung menanggapi panggilan Rion.
Sayang, bayi montok itu terlanjur kecewa. Ia pun mengadu pada kakak perempuannya.
"Ata' pita emba utah mawin ama Bit Tomlah, Bit Amin, Bit Pina wagih!'
"Penata Baby?" Lidya menatap tiga asisten rumah tangga itu dengan sedih.
Ketiganya merasa bersalah dengan nona kecilnya itu.
"Meweta bolon, puwa-tuwa pidul beldili!" adu Rion lagi.
"Pialin adha Ata' beuntal Mama puwang, pita bilanin Mama," usulnya lagi.
Lidya sedih. Ia menatap alat make-up yang baru saja dihadiahi Daddy-nya.
"Non, maafin Bibi ya, Bibi mau deh jadi model Non," ujar Romlah memohon.
Lidya menatap Rion. Bayi montok itu mengedipkan matanya. Akting sedih mereka berhasil. Kini ketiga asisten rumah tangga itu menjadi model rias pengantin ala Lidya.
bersambung.
kek apa yaaa. hasil olahan Lidya
next.