
flashback.
Satu jam berita kematian Hardi Triatmodjo di siarkan seluruh stasiun televisi. Pria kelahiran kertabumi, delapan puluh enam tahun yang lalu itu, meninggal dunia akibat serangan jantung.
Terra menatap layar kaca dengan pandangan sendu. Sedikit rasa menyesal di dada tidak melihat wajah sang kakek ketika masih hidup. Herman menelponnya barusan mengatakan kesediaannya untuk melihat wajah kakek dan mencium untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum dimandikan dan dikafani.
Terra menyanggupi. Ia datang bersama Haidar kekasihnya. Herman cukup terkejut, ketika kemenakannya itu datang bersama CEO PT Bermegah Pratama.
Terra memandang wajah kakek yang tidak pernah ia lihat seumur hidup. Bahkan terakhir kali kemarin, gadis itu memilih lari, dari pada bertemu dengan pria renta ini. Tidak ada air mata. Hanya segurat rasa penyesalan dan kecewa.
Terra mengelus wajah sang kakek lembut.
"Beristirahat lah dengan tenang Kek. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT," doa Terra.
"Kau tidak ingin menciumnya, Nak?" tanya Herman.
Terra menggeleng. Awalnya ia memang ingin memeluk dan menangis serta menceritakan tentang hidup yang dialami selama ini.
Namun begitu melihat jasad kakeknya. Gadis itu urung melakukan niatnya. Ia merasa percuma, toh kakek tidak bakal mendengarnya. Terra pulang, karena gadis itu harus masuk kuliah.
Herman tidak bisa memaksa gadis itu untuk tinggal. Ingin rasanya ia mendekatkan diri dengan kemenakannya itu. Namun, memang ia sudah dari dulu menjauhi Terra. Makanya, gadis itu tidak merasa dekat dengannya.
"Maafkan aku Aura. Sebagai kakak. Aku tidak bisa melindungimu," ujarnya penuh penyesalan.
Sepanjang perjalanan. Terra hanya diam. Haidar juga tidak banyak mengalihkan lamunan gadis cantik itu. Hanya tangannya menggenggam erat jemari kekasihnya, mengatakan jika ia selalu ada untuknya.
"Kita nanti kencan, yuk. Sudah saatnya kau me time sebentar," ajak Haidar.
Terra sedikit ragu. Ia tidak biasa meninggalkan anak-anak terlalu lama.
"Ayo lah. Kau juga butuh kesenangan," rayu Haidar.
Lama Terra menjawab ajakan kekasihnya itu. Ingin ia mengangguk, tapi sekelebat bayangan ketiga anaknya, gadis itu akhirnya menggeleng.
Haidar hanya menghela napas panjang. Pria itu ingin sekali menghabiskan waktu bermesraan bersama kekasih yang sangat ia cintai ini. Tapi, ia harus menurunkan ego jika berhubungan dengan tiga anak yang memang masih butuh perhatian ekstra dari Terra.
"Baiklah, bagaimana jika kita berkencan bersama anak-anak saja?" ajakan Haidar langsung diangguki antusias oleh Terra.
Haidar tersenyum, lalu ia mengacak rambut gadisnya itu. Hingga membuat Terra manyun. Pria itu tertawa melihat kelakuan manja pacarnya itu.
*******
Sementara di sebuah ruangan mewah. Herman didatangi seorang pengacara yang kemarin disewa mendiang Ayahnya.
Setelah mengungkapkan perihal keinginan sang ayah sebelum meninggal. Pria itu ingin mengubah isi dari permintaan mendiang ayahnya.
Pengakuan akan keturunan Triatmodjo pada Terra tetap dilakukan, tapi tidak untuk pengalihan harta. Hanya memberitahukan pada semua orang jika gadis itu adalah cucu perempuan dari anak bungsunya mendiang Triatmodjo.
"Semoga dengan pengakuan itu. Terra mau lebih dekat denganku. Ketimbang dengan kekasihnya. Biar bagaimana pun, aku masih paman yang harus dihormatinya."
Herman sudah menyiapkan segalanya. Bahkan telah membuat janji jumpa pers pada media massa setempat. Daily news adalah media yang paling cepat untuk menyiarkan info apa pun tanpa sensor.
Pukul 16.17. waktu setempat. Herman memulai bicaranya. Semua mata memandang di layar kaca. Sebuah pengakuan yang mengejutkan. Yakni, terdaftarnya kembali Aura Sabriana Triatmodjo sebagai anak dari mendiang Hardi Triatmodjo dan pengakuan Terra Arimbi Hudoyo sebagai cucu.
Terra hanya menatap layar datar itu tanpa ekspresi. Setelah sekian lama diabaikan. Seseorang datang mengakuinya sebagai keluarga. Gadis itu tersenyum simpul. Mendiang ibunya, tak pernah mengajarkan kebencian pada siapa pun.
Namun, gadis ini bukan manusia lugu atau polos yang bisa dibodohi dan membiarkan keburukan menimpanya. Terlebih untuk ketiga anaknya. Dengan pengakuan itu membuktikan jika Herman tidak jauh berbeda dengan mendiang ayahnya n
bersambung.
hah ... harta ... harta.
next?