
Arimbi, Satrio dan Dimas ingin menjadi seorang pengusaha. Ketiga anak dari pasangan Herman ini ingin seperti kakak mereka, Darren.
"Tita bain dlama ladhi yut!' ajak Arimbi.
Kean, Cal, Maisya dan Affhan, langsung menyimak. Keempat anak kembar dari pasangan Virgou dan Puspita ini hanya berbeda satu tahun setengah saja. Mereka juga sangat antusias dengan rencana saudarinya.
Nai, Sean, Al dan Daud. Empat quarto Pratama ini, paling sibuk menanggapi keinginan Arimbi. Mereka langsung membagi peran.
"Talo bemuana zadhi Poss, spasa yan padhi balyawana?" tanya Kean serius.
"Pimas padhi seupelti Om Aden!" sahut Dimas unjuk jari.
Di tempat lain.
"Haaachi!" Aden bersin.
"Yaharkumullah!" sahut Jhenna yang ada di sisinya.
Kembali ke tempat anak-anak berada.
"Bait lah, Sean jadhi Papa, Nai jadi Mama, Al jadhi Baba Pudi sedan Paud badhi Om Puan eh Duan!' ujar Sean mengatur tokoh perannya.
Ketiga saudaranya mengangguk setuju. Mereka memainkan Boss ayah dan ibu mereka masing-masing.
"Pudi, setelan tamu jadhain Nai eh Tella yan beunal, oteh!" titah Sean.
"Tella, atuh lapan!" seru Cal, ia menjadi Virgou, ayahnya.
"Tella, pudah Bayah pilan janan matal!" seru Satrio menjadi Herman.
"Tenapa Mama di syini disuluh-suluh syama dimalah-malahin?" tanya Nai tak terima.
Semuanya pun mengangguk setuju, ia tak pernah melihat ayah dan ibu mereka memarahi atau menyuruh mama kesayangan mereka.
"Tella, apa tau syudah bedandanatani ...." Kean kesusahan mengatakan menandatangani.
"Bedandantatangi!" ralat Dimas yakin.
Nai menggeleng. "Betantantanani!"
"Yan beunel Yan mana?" tanya Kean protes.
"Pudah pilan bolet-polet teltas!' sahut Arimbi menengahi.
Semuanya mengangguk setuju. Karena tidak memiliki kertas dan pulpen. Mereka pun berlari ke ruang tengah di mana semua orang tua mereka berada.
"Daddy, minta beultas pama bulben don!" pinta Affhan.
"Untuk apa, Baby?" tanya Virgou heran.
"Pita. mawu padhi poss taya Tata Dallen," jawab Kean polos.
Virgou tertarik. Ia pun berdiri dan mengambil beberapa kertas kosong dan juga map. Pria itu meletakkan satu kertas kosong pada satu map. Lalu menyerahkannya pada Arimbi.
Semuanya pun kembali ke ruang belakang di sana banyak kursi dan meja. Kolam renang sengaja ditutup oleh Virgou agar tak ada yang tercebur. Pria itu mengikuti anak-anak. Terra, Herman, Budiman dan Haidar mengikuti mereka. Sedang Puspita tengah menyusui anaknya di kamar begitu juga Khasya. Terra sudah melakukannya tadi. Mereka semua kini ada di mansion Virgou.
Melihat pria itu mengikuti para bocah. Mereka pun juga mengikuti kemana Virgou pergi. Di sana para balita tengah memperagakan para ayah dan ibu mereka.
"Seteltalis Pistandal!" panggil Nai pada Affhan..
"Siyap Bona!"
"Om Iskandar belum jadi sekretaris, Baby," peringat Terra. "Masih Tante Alya yang pegang."
"Pidat pama ladhi judha Ante Balya teluan dibusil Om Lommy," celetuk Daud.
Haidar membelalakan mata. Ia merasa feeling putranya ini akan jadi kenyataan. Sedang Terra berdoa agar hal itu tak terjadi.
"Puan Bilgo!" panggil Sean
"Oh ... lada pa'a Buan Baidal!' sahut Kean.
"Atuh inin pita beleja syama!" ujar Sean sok gaya.
Haidar ingin mencium anaknya dengan gemas. Rahangnya mengeras karena saking gemasnya. Herman sudah gatal ingin masuk drama.
"Tuan, saya butuh pekerjaan, anak saya banyak, ada lima. Apa saya bisa bekerja menjadi asisten anda?"
Herman langsung masuk melamar pekerjaan. Satrio yang menjadi dirinya tampak berpikir. Lalu mengangguk.
"Baitlah setalan pita lapat di belusahaan Tella," sahutnya santai.
Terra membelalakan mata. Ia benar-benar geregetan dengan semua anak-anak. Virgou apa lagi, ia ingin sekali menggelitiki perut bundar anak-anak gembul itu.
"Baik Tuan," sahut Herman mengikuti langkah putranya.
"Puan Helman aba pabal?" tanya Kean dan Sean bersamaan sedangkan Cal dan Al berada di sisi keduanya sebagai asisten pribadi.
"Bait-pait ... badaipana dengan panda Buan Pilgo, Duan Bidal," sahut Satrio sambil menjabat tangan.
"Pita atan beutelja syama. Pita halus beumbuat benjatan sunai di daelah teulbencil. Bendilitan Pian pistlik di daelah beulpindal," ujar Satrio tenang.
Para orang tua tertegun. Selama ini mereka mencari keuntungan dengan mendirikan perusahaan-perusahaan besar. Namun, mereka melupakan untuk membangun negeri ini.
Terra terharu mendengar ide Satrio yang mestinya menjadi adiknya, kini pangkat balita itu sama dengan kesembilan anaknya.
"Biya, pita judha halus itut benbanun setolah-setolah judha palan-palan yan pelum bi saspal," sahut Al menimbrung.
"Pita judha halus benbanun benpat beuldoa pala mumat pelagama," lanjut Sean juga memberi saran.
"Pasal dan lumah satit bi daelah teulbencil judha halus bi belbatitan!" seru Nai tak mau kalah.
"Ah, janan lupa pita halus belinduni putan-putan tundul. Lintunan bijau halus judha dibanun!" ujar Maisya.
Semua orang dewasa yang mendengar celotehan anak-anak mereka termenung. Mereka begitu tercerahkan. Selama ini mereka hanya mengumpulkan pundi-pundi. Ide-ide brilian justru keluar dari mulut-mulut balita yang sebenarnya tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Herman tak kuat, ia memeluk semua anak-anak. Begitu juga, Virgou, Terra, Haidar, dan Budiman. Betapa bangganya kesemua orang tua.
"Kalian memang luar biasa," puji Budiman.
"Baba sangat bangga menjadi ayah kalian juga," lanjutnya penuh kekaguman.
Semua mengangguk setuju. Rion datang bersama Dahlan dan Gio. Lidya belum pulang. Jam baru menunjukan pukul 10.45. Masih dua jam lagi Lidya baru keluar dari kelasnya.
Mereka semua makan siang. Anak-anak antusias bercerita pada kakaknya jika mereka baru saja bermain drama.
"Oh ya, kok nggak nunggu Kakak?" tanya Rion kecewa.
"Manti pita bain ladhi!" ajak Affhan penuh semangat.
Semua mengangguk otak mereka langsung mencari ide untuk bermain drama yang makin lama makin seru menurut mereka.
"Kalian bobo siang dulu, Baby. Baru main," ujar Terra menimpali.
"Mama, pita syudah jadhi Poss, pidat busah bobo sian ladhi!" ujar Kean dengan mimik serius.
Terra manyun. Ia langsung mencium Kean dengan gemas hingga balita itu protes.
"Siapa tadi yang manggil Mama namanya saja, hah?" tanyanya geregetan.
"Woh, manana Mama tan Tella," sahut Nai membenarkan perkataan nya.
"Tella jadi nama umbi-umbian, Baby!" rengek ibunya.
"Pumbi-bumbian?" tanya Dimas polos.
"Sinton, Bimas!" sahut Cal memberitahu.
"Oh, binton," ujar Dimas.
"Sinton butan dinton!" ralat Maisya.
"Biya pinton!" sahut Dimas membenarkan perkataannya.
"Binton, sinton, linton. Atau apapun itu salah semua!" sahut Rion.
"Tlus pa'a Ata'Ion?" tanya Affhan..
"Singkong!" jawab Rion.
"Coba ikutin Kakak!" ujarnya lagi.
"Sing ...!"
"Bin!"
"Pin!"
"Din"
"Sim!"
"Nah, itu tadi. Sim!"
"Sim!" semua menyahut sama.
"Kong!"
"Ton!"
"Pon!"
"Bon!"
"Don!"
Rion menggaruk kepalanya. Para orang tua sudah tak bisa bergerak karena lemas menahan tawa mereka.
"Singkong!"
"Binpon!"
"Pinpon!"
"Simpon!"
"Dimdon!"
"Sintong!"
bersambung.
oke terserah mereka lah.
Readers... othor mohon maaf jika up hanya satu karena tiba-tiba tekanan darah othor rendah jadi rada pusing dan pandangan mulai buram.
Mungkin butuh dada bidang om Gio eh ...
next?