
Bart datang bersama Frans dan Leon. Ketiga pria itu langsung memanggil Rion.
"Baby!"
"Glandpa!' pekik Rion kesenangan.
Bart tampak bercucuran air mata ketika mendengar Rion terkunci di gudang dan ditemukan dalam keadaan tak berdaya. Pria renta itu menciumi Rion.
Setelah puas dengan Rion barulah keempat anak Terra pun tak luput dari ciuman Bart.
"Benpa!" sambut Sean sambil memegang pipi kakeknya.
"Baby, how are you?" tanya Bart.
"Oteh," jawab Sean.
Bart tersenyum lebar. Banyak hadiah Bart bawa untuk semua cucunya. Bahkan Satrio dan Arimbi pun dapat.
"Terra," panggil Bart ketika melihat cucunya menghidangkannya kopi dan camilan.
"Grandpa," sambut Terra.
Bart memeluk cucunya dengan erat. Ia rindu sekali. Andai ia bisa memboyong Terra ke negaranya. Ia akan lakukan segera. Berkumpul dengan mereka.
"Kapan kau berlibur ke Eropa?" tanya Bart.
"Mungkin setelah kelulusan Darren, Grandpa," jawab Terra.
"Apa Darren mau sekolah di sana?" tanya Bart antusias.
"Tidak, kami hanya libur satu bulan, untuk mengganggu mu Grandpa," kekeh Terra usil.
"Ck ... kau ini. Aku senang jika kau, suami dan anak-anak menggangguku. Aku akan mati dalam keadaan bahagia," sahut Bart kesal.
"Grandpa, jangan berkata seperti itu. Oke!" ujar Terra tak suka dengan perkataan kakeknya.
"Ya, aku sudah tua. Lalu mau apa lagi, sayang?" Terra memberengut.
Bart memeluknya. Ia sangat menyayangi Terra dibanding cucunya yang lain. Bukan membandingkan. Tetapi, Terra memang pantas mendapatkannya.
Bart mencium pipi cucu perempuannya itu. Terra membalasnya. Mereka pun bertatapan dan saling melempar senyum hangat.
Frans dan Leon diganggu oleh kelima bayi yang mengerumuninya. Gelak tawa pun terdengar karena dua pria itu gemas bukan main..
"Kenapa kalian lucu-lucu sekali. Dan kau komandan Kau biangnya lucu!" sahut Frans pada Rion.
"Ion lucu?" Frans menggangguk.
"Ya, kau biangnya lucu, biangnya onar dan biangnya jahil!" sahut pria itu.
Leon mengangguk membenarkan. Rion sedikit berpikir, padahal ia tak berniat melawak selama ini. Tetapi, ia pun membiarkan tanggapan orang-orang.
Sekarang para pengawal sudah sering berjaga di taman belakang dekat kolam renang. Semenjak Rion terkunci. Mereka makin sering berkeliling. Baik di luar maupun di dalam rumah. Bahkan mereka menjadi aksi bulan-bulanan empat bayi yang tentu dikomandoi Rion..
"Om Puno!" panggil Nai.
"Juno, Nona Baby, bukan Puno," sahut Juno dengan lemas karena nona bayinya mengubah nama seenaknya.
"Iya, Om Puno!" angguk Nai merasa benar.
Juno hanya diam saja, membiarkan nona bayinya memanggilnya demikian.
"Om Buno papain?" tanya Sean dengan tatapan polosnya.
"Biya, Buno!" lagi-lagi bayi itu merasa benar dengan apa yang ia ucapkan.
"Meleka belum bisa bicala Om ... jadi maapin ya," pinta Rion dengan senyum terbaiknya.
"Iya, Tuan Baby tidak apa-apa. Saya mengerti," ujar Juno akhirnya bernapas lega. Setidaknya tuan baby Rionnya menyebut benar namanya nanti. Tetapi.
"Makasih Om ...," Rion menghentikan ucapannya.
"Duno" lanjutnya sambil terkikik geli.
Juno pun akhirnya pasrah. Ia dijahili habis-habisan oleh lima balita yang menggemaskan.
Al tiba-tiba melempar bedak padat milik ibunya ke kolam renang. Ia pun berteriak hingga semua pengawal berdatangan.
"Tuan Baby!" Al hanya memandang aneh pada pria dewasa yang berwajah panik.
Bart, Leon dan Frans yang tengah mengobrol dengan Terra pun berlarian.
"Ada apa Baby, apa kau terluka?"
Al hanya menunjuk bedak yang ia lempar ke dalam kolam. Lalu tersenyum lebar.
"Pambilin ipu!" pintanya dengan mata memohon.
Terpaksa salah satu pengawal menyemburkan dirinya mengambil bedak padat di dalam kolam. Al pun senang lalu memberinya pada Terra.
"Mama, pini pedatna, Al pudah bambilin," ujarnya santai.
Terra hanya menghela napas panjang. Lalu memandang penjaga dengan permohonan maaf. Semua penjaga hanya menunduk hormat tidak mempermasalahkan.
Semua anak, diajak masuk oleh Terra. Ia sepertinya harus memberi banyak petuah pada keempat bayinya terutama pada sang komandan bayi, Rion.
"Baby, lain kali jangan gitu ya. Kan kasihan Om nya jadi basah," tegurnya lembut pada Al.
"Biya, Ma. Mamap," ucapnya sambil menunduk menyesal.
"Nanti minta maaf sama Om Gio ya!" ujar Terra. Al mengangguk.
"Nanti Kakak Ion antelin," ujar Rion menawarkan diri.
Al pun tersenyum senang. Ia ada yang menemani. Terra pun lega. Anak-anaknya dapat dinasehati.
Nai, Sean, Al dan Daud mendatangi paviliun ditemani oleh Rion. Kelima bayi itu pun meminta maaf pada para pengawal karena telah mengganggu mereka bekerja.
"Mamapin Al ya, Om Pio," ungkapnya dengan nada memelas.
Gio hanya tersenyum lebar. Juno pun tertawa. Ternyata bukan hanya dia saja yang diganti namanya oleh majikan bayi mereka.
"Iya, nggak apa-apa, Tuan baby. Yuk kita kembali ke rumah," ajak Gio.
Mereka berlima minta gendong. Maka lima orang pengawal menggendong mereka sampai dalam rumah. Terra hanya bisa mengelus dada. Sabar.
bersambung.
duh maaf ya ... dikit dikit aja up nya.
soalnya othor lagi banyak kerjaan.
next?