
"Innalilahi wa innailaihi radjiun!" seru Gio ketika melihat layar di tangannya.
Hendra dan Felix langsung berhenti begitu juga, Lidya, Demian, Jacob dan Putri. Mereka semua menatap pria yang kini memandangi Lidya dengan pandangan sedih.
"Om ... kenapa?" tanya Lidya langsung panik.
"Kedua orang tua Ditya dan Radit ...."
Gio merasa suaranya habis. Ia tak sanggup berkata-kata. Sedang Lidya langsung menggoyang lengan pria itu.
"Om, jangan buat Lidya mati penasaran?!" pekik Lidya makin panik.
Demian dan Jacob tentu tak mengerti apa yang dikatakan oleh gadis itu. Jacob bertanya pada Putri.
"What happened?"
"I do not know!" jawab Putri juga merasa tak enak.
"Nona, kedua orang tua Ditya dan Radit, menjadi korban pada kecelakaan bus seminggu lalu," lapor Gio dengan suara tercekat.
"Innalilahi!" pekik Lidya dan Putri.
Demian lagi-lagi bertanya. Felix, menjawabnya.
"The parents of the children we visited were victims of a bus accident a week ago," (orang tua yang anaknya kita jenguk kemarin menjadi korban kecelakaan bus minggu lalu).
Demian langsung terhenyak begitu juga Jacob.
"Kita cari di ruang informasi!" sahut Lidya hendak berlari.
Tetapi, Gio langsung mencekal lengan nona mudanya.
"Nona!"
"Om, kita harus mengetahui keberadaannya, dengan begitu Ditya dan Radit bisa bertemu dengan orang tuanya. Iya, tau jika kemarin ada rombongan korban kecelakaan bus yang terguling, bukan?" Gio mengangguk.
"Ya, sudah!" sahut Lidya kesal.
"Keduanya korban meninggal, Nona!" sahut Gio cepat.
Lidya berhenti seketika. Menatap pria pengawalnya. Putri menutup mulutnya. Demian. dan Jacob lagi-lagi tak mengerti dan kembali Felix menjelaskannya. Barulah keduanya shock.
"Om, nggak bohong kan?" tanya Lidya sambil menggeleng tak percaya.
"Sayangnya itu benar, Nona. Mereka menjadi korban meninggal dunia, jenazah keduanya masih tersimpan di rumah sakit ini, karena tak dikenali," jawab Gio dengan nada penuh penyesalan.
Lidya menutup mulutnya. Ia masih menggeleng kuat. Sayang, Gio mengangguk membenarkan perkataannya.
"Keduanya menjadi korban yang tidak dikenali, karena tubuhnya terbakar seratus persen," lanjut pria itu.
Lidya nyaris merosot ke lantai jika Demian tak sigap memegangi tubuh mungil gadis itu. Gio langsung menyingkirkan lengan pria tampan di depannya. Dia lah yang membimbing nonanya ke kursi tunggu di sana. Putri dan lainnya mengikuti. Semua diam. Bingung hendak melakukan apa.
"Put, coba cari tahu kebenarannya di bagian informasi," pinta Lidya.
Putri setengah berlari menuju ruang informasi. Sampai di sana ia pun menanyakan perihal korban kecelakaan. Benar saja, ada tiga jenazah yang tak bisa dikenali. Ia pun mempercepat langkahnya menuju sahabatnya tadi menunggu.
"Lid!"
Lidya menoleh. Melihat wajah sahabatnya yang pucat dengan mata berkaca-kaca. Lidya pun menutup mulutnya. Felix memberitahu Demian dan Jacob tentang berita yang tadi adalah benar. Semuanya kini dalam kebisuan.
Demian bersimpuh di depan Lidya. Pria bule tampan itu, menggenggam jemari gadis idamannya. Memberi kekuatan.
"You must tell them the truth!" (Kau harus memberitahukan mereka yang sebenarnya!") ujar Demian.
"How... this is really very sad news. Especially for those two kids." (bagaimana ... berita ini sangat menyedihkan, terutama pada dua anak itu?) sahut Lidya putus asa.
"I know this is the saddest news. But if you just shut up and give them false hope?" (aku tahu berita duka ini sangat menyedihkan. Tapi, jika kau membiarkan dan memberikan mereka harapan palsu?) ujar Demian. "That would make things worse."(itu akan memperburuk keadaan.)
Lidya terdiam. Ia menghapus genangan di matanya. Putri mengusap bahu sahabatnya. Lidya menoleh meminta pendapat.
"Yang dikatakan Tuan Starlight benar, Lid," sahut Putri berat.
Lidya menghela napas panjang, menutup mata. Beribu doa ia ucapkan. Memang benar, ini semua harus dia beritahu pada Aini.
"Kak, bisa bicara sebentar?" pinta Lidya dengan susah payah.
Aini mengernyitkan keningnya. Ia pun turun dari brangkar di mana dua adiknya berada. Gadis itu menghampiri Lidya.
"Ada apa Dok?" tanya Aini dengan hati berdebar.
Lidya menoleh orang-orang di belakangnya terutama pada Demian. Ia seperti meminta kekuatan pada pria itu. Demian mengangguk.
"Kak, ini tentang Paman dan Bibi kakak," ujar Lidya.
"Apa mereka sudah ketemu?" tanya Aini antusias.
Lidya mengangguk. Aini bernapas lega. Ia tersenyum ke arah dua adik misannya itu.
"Apa mereka ada di sini?" lagi-lagi Lidya mengangguk.
"Di mana mereka? Aku ingin memarahi keduanya!" sungutnya kesal.
Lidya menatap wajah gadis yang lebih tinggi darinya itu. Aini terdiam, melihat netra berkaca-kaca di depannya membuat ia makin penasaran dan dilanda kecemasan tinggi.
"Dokter ... tolong katakan, apa yang terjadi?" pintanya dengan suara lemah.
"Kak, Paman dan Bibi menjadi korban kecelakaan bus minggu kemarin,," jawab Lidya.
Aini lagi-lagi mengerutkan kening, lalu netranya membola. Ia ingat, ketika itu dia bertugas malam dan kedatangan rombongan korban kecelakaan bus yang terguling, tapi ia tak menemukan paman dan bibinya di sana.
"Dok ...."
"Paman dan Bibi ... jadi korban meninggal dunia yang jenazahnya tak dikenali, Kak," cicit Lidya nyaris tanpa suara.
Aini terdiam seketika. Buliran bening menetes di pipinya. Ia menggeleng tak percaya. Tapi, kesungguhan Lidya membuatnya nyaris histeris. Aini menutup mulutnya. Lalu ia menatap dua adiknya yang juga menatapnya. Ditya sangat yakin ada sesuatu yang buruk terjadi dan itu perihal kedua orang tuanya.
"Apa yang harus kukatakan pada mereka, Dok?" tanya Aini dengan suara serak.
Lidya terdiam, ia juga menangis tertahan. Dua orang anak yang dibuang oleh kedua orang tuanya, lalu kini menjadi yatim piatu dalam waktu yang singkat.
"Kakak, harus kasih tau ke mereka," sahut Lidya.
"Aku ... tak sanggup," ujar Aini menahan isaknya.
"Harus, Kak. Jangan membuat mereka berharap," sahut Lidya.
Dengan langkah gemetar Aini mendekati dua adik misannya.
"Dik," panggil Aini dengan linangan air mata.
Dulu, ketika ia mendapati ayah dan ibunya meninggal dunia, ia juga menangis histeris, padahal waktu itu usianya sepuluh tahun. Ditya menatap kakaknya dengan pandangan jernih. Lidya tak tahan. Ia menangis melihat tatapan sendu Ditya.
"Bapak sama Emak, udah nggak ada ...."
Ditya masih terdiam, ia mencerna perkataan Aini. Sedang Radit bingung.
"Nggak ada gimana, Mba? Bapak sama Emak, emangnya ilang?" tanyanya polos.
Aini sesngukan. Lidya memeluk Aini, ia juga menangis. Ditya langsung mengerti jika bapak dan emaknya sudah tidak ada di dunia ini.
"Dek, Bapak dan Emak udah pergi ke surga," jawabnya dengan senyum mengembang pada Radit.
"Bapak sama Emak ke sulga?" tanya Radit dengan antusias.
"Kok, nggak ngajak kita, Kak?" tanyanya dengan nada kecewa.
"Bapak dan Emak culang, dong ...."
Lidya dan Aini menangis pilu dan memeluk dua anak kecil yang sudah yatim piatu ini.
bersambung.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
next?