
Selesai bernyanyi. Kini mereka mulai berdrama. Nai yang memulai. Gadis kecil itu memulai aktingnya.
"Wahai Raja Satrio, aku dengar kau memiliki anak buah yang sangat kuat!"
Satrio yang tengah memakan lumpia itu menghabiskan makanannya. Setelah habis ia melotot pada Nai yang terkikik geli.
"Ya, aku punya banyak. Kenapa kau ingin menantangku?" sahut Satrio lalu minum air mineral kemasan gelas.
"Heem ... aku memiliki Satria kembar Rasya dan Rasyid. Mereka adalah yang terkuat!" sahut Nai.
"Hahaha ... aku punya sepasang satria dan satu panglima!" ujar Satrio jumawa.
"Aku juga memiliki sepasang panglima dan satu prajurit cantik!" sahut Kean.
Cal menggandeng Bomesh. Bayi itu menatap anak yang semestinya ia panggil tuan muda itu.
Kalian pasti akan kalah dengan penyair saktiku!"
"Pundu Pulu!" sahut Bomesh menghentikan drama.
Semua anak menoleh padanya. Seruni dan Dav yang tidak tau anak-anak sedang apa bertanya pada Terra.
"Mereka ngapain?"
"Main drama," jawab Terra.
Seruni merekam dengan ponselnya.
"Kenapa Baby?" tanya Maisya.
"Beulail ipu pa'a?" tanyanya bingung.
Seruni tertawa. Bahkan penyair pun berubah sebutannya.
"Penyair itu yang suka bernyanyi," jawab Dimas.
"Salah Baby. Penyair itu yang suka berpuisi dengan irama tertentu," sahut Darren meralat jawaban Dimas.
"Oh ... oteh!"
"Biya beulail ipu sontohna pedimana?" tanya Bomesh lagi.
"Seperti ini Baby!" ujar Lidya ia pun berpuisi.
"Aku
tiada berdaya jika tanpa ijinMU
segala dayaku adalah rahmatMU
segala upayaku adalah rejekiMU
segala yang kumiliki adalah amanah dariMU
maka kuatkan aku atas segala keterbatasanku...
atas kelemahanku....
atas ketidak berdayaanku...
karena semua terjadi atas kehendakMU yaa Robb..."
Lidya melantunkan sebuah puisi indah. Bomesh tampak berpikir keras.
"Ipu butana doa?" tanyanya polos.
Lidya tertawa. Memang puisi yang dibawanya seperti doa. Lalu ia pun kembali berpuisi.
"Wahai engkau gemintang di malam kelam. Adakah rindu tersirat di hatimu, seperti aku merindukan dirimu."
Bomesh pun mengerti. Ia pun mulai melakukan hal sama. Tentu saja ala dia.
"Bahai entau Pulan belindu ... Pisa tah entau pelihat dilitu. Atuh menshsnnajha ... bekskhshab ... "
Dan semua pun bengong, Bomesh menggunakan benar-benar bahasa bayi. Semuanya tertawa terbahak-bahak.
"Atuh menatu talah!" ujar Rasya menyerah.
"Atuh judha!" Kaila mengangkat tangan.
Bomesh tertawa senang. Ia menjadi pemenangnya. Maria membawa penganan untuk anak-anak. Drama berakhir begitu saja. Anak-anak berebutan makanan. Maria sampai menegur mereka.
"Babies ... ini cukup untuk semua kok. Lagi pula makanan dari Mama Seruni juga masih ada!"
"Wah ... tue Bante Balia enat judha ya!" sahut Rasyid sambil menghabiskan kuenya.
"Tuena Mama Peluni mana?" tanya Bomesh.
"Ini kuenya Mama Seruni," jawab Nai lalu menyerahkan kue almond pada bayi itu.
Bomesh memakannya.
"Hai dais ... setalan pita ladhi matan-matan mih ... pita pihat pi sini banat matanan!" sahut Kaila tiba-tiba menjadi YouTubers.
"Wah, kek nya asik juga. coba kita ke sini. Di sini juga ada kue-kue hasil buatan tangan Mama Seruni dan Tante Maria!" Arimbi pun mengikuti gaya Kaila.
Para orang tua hanya melihat tingkah anak-anak yang tak ada habisnya. Mereka senang karena tak perlu membayar mahal untuk mencari hiburan dan melepas stress. Anak-anak menjadi obat stress mereka.
Dari menjadi YouTubers tiba-tiba mereka bergombal yang dimulai oleh Nai. Gadis kecil itu menggombal Daddynya.
"Daddy taukah engkau kenapa matahari selalu tepat naik ketika pagi hari?" Virgou menggeleng.
"Karena dia seperti Daddy yang akan selalu datang dan menyinari hari kami," lanjutnya.
Virgou meleleh. Haidar langsung iri. Pria itu juga mau dirayu seperti itu.
"Papa ... Papa Pau pidat penata buna ipu wani?" tanya Kaila kini berganti.
"Tidak Baby, kenapa ya?" sahut Haidar bahagia.
"Talena buna halus pembuat Olan senan ... seupelti Papa yan puat tami senan!"
Haidar pun mencium pipi gembul Kaila. Semua anak pun merayu para orang tua. Kini giliran Lidya, ia merayu ayahnya.
"Papa, Daddy, Ayah, Baba tau nggak kenapa bulan itu tidak mengeluarkan cahaya sendiri. Ia butuh matahari untuk memantulkan cahayanya?" semua pria menggeleng.
"Itu sama seperti Lidya yang butuh Papa, Daddy, Ayah dan Baba untuk memberikan kekuatan untuk Iya."
Haidar langsung memeluk dan mencium putrinya. Herman dan Virgou pun terharu. Hanya Dav yang cembetut. Ia belum dirayu oleh anak-anak.
"Papa Bef!" panggil Dewi.
Dav langsung berdebar. Pria itu menanti apa perkataan Dewi.
"Jita atu ipu buna, atu eundat mawu Papa dadhi pumban!" sahutnya.
"Loh kenapa?" tanya Dav.
"Talena pumban banya puat buna payu!" jawabnya.
"Trus jadi apa dong?" tanya Dav ingin tahu.
"Pewi, inin Papa Bef jadi wowan yan beulawat puna ... pial eundat payu," jawab Dewi.
"Oh ... so sweet," David meleleh mendengar perkataan Dewi yang menginginkan dia menjadi manusia yang merawat bunga agar tak layu.
Seruni pun jadi gemas melihat anak-anak yang sangat cerdas. Tak ada habisnya ide mereka untuk berulah dan membuat semuanya tertawa. Wanita itu sampai menangis haru.
"Kenapa sayang?" tanya Dav langsung panik.
Seruni tersenyum sambil menghapus air mata harunya.
"Aku bahagia dan sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga ini," jawabnya dengan suara serak.
"Mama Buni ... janan mayis don ... pemana Penua matal ya?"
"Tidak Baby, tidak ada yang nakal. Kalian semua adalah cintanya Mama Seruni. Sini peluk dan cium Mama!"
Seruni merentang tangan. Semua anak berhambur memeluk dan menciumnya. Seruni membalas menggelitik perut mereka hingga semua berlari menyelamatkan diri.
"Lali pemuana .... Mama Buni dadhi bonstel!" seru Dewa.
"Eundat usyah tabun ... pita selan ladhi Mama Puni!" sahut Bomesh.
Semuanya pun menubruk Seruni. Hingga nyaris terjatuh. Tiba-tiba, Dewi melihat alat yang mengikat kaki Seruni.
"Tundu Pulu!" teriaknya menghentikan aksi semua saudaranya.
"Mama tatina penata?" tanyanya dengan mimik ingin menangis.
Seruni melihat gamisnya yang tersingkap dan memperlihatkan alat yang menopang kakinya agar lurus. Seruni melihat sekeliling. Tidak ada Gomesh. Pria itu belum kembali dari apotek. Karena hanya Gomesh yang bukan muhrimnya di sini.
"Oh, ini adalah alat biar kaki Mama nggak bengkok sayang," jawabnya.
"Itu syatit eundat Ma?" tanyanya lagi.
"Tidak Baby," jawab Seruni dengan hati menghangat.
Wanita itu pun menceritakan apa nama penyakitnya. Kakinya yang bengkok dari lahir dan harus memakai alat ketika pertama kali berjalan.
"Kamu nggak terapi aja, Seruni?" saran Herman.
"Iya, sekarang kedokteran sudah makin canggih. Aku yakin dengan treatment kakimu tak akan bengkok lagi!" sahut Budiman.
Fery dan Mia juga mengangguk setuju. Seruni begitu bahagia. Ia di kelilingi orang-orang yang peduli dan sayang padanya. Buah kesabarannya terjawab semua.
bersambung.
Selamat datang di keluarga Terra Seruni. Karena berkat Terra yang penuh kasih lah tercipta keluarga ini.
next?