TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SS 3 MIMPI HAIDAR



Satu hari setelah melamar Aini untuk Darren, entah kenapa pria itu begitu gelisah bukan main. Ia pun bermunajad pada Tuhan agar menghilangkan semua gundah.


Tentu ketika orang menikah. Akan banyak godaan yang datang silih berganti. Ia tak mengatakan apa pun pada istrinya. Ia yakin jika memang itu godaan dari setan. Bukankah setan sangat tidak menyukai pernikahan.


Hingga ketika ia tidur dan bermimpi aneh. Darren hanya berjalan sendiri sosok Aini berada di pelaminan tapi bukan putranya yang ada di sebelah gadis itu. Ia sangat yakin sekali. Hingga tiba-tiba semak belukar menjulang tinggi, ia mencari semua sanak keluarga juga anak-anaknya. Lalu ia ditarik oleh istrinya dan makan bersama dengan bahagia.


Pria itu terbangun, karena mendengar suara adzan. Haidar membangunkan Terra istrinya.


"Jadi Papa mimpi, bukan Kak Dar yang ada di sisi Kak Aini?" pria itu mengangguk.


"Mungkin hanya bunga tidur saja. Papa masih belum mau Kak Darren menikah begitu cepat," jelas Lidya.


Haidar terdiam. Lalu ia mengangguk membenarkan. Sebegitu tidak inginnya kah dia, putranya cepat menikah?


"Papa, jadi tenang sekarang. Kita makan?' ajaknya.


Lidya mengangguk setuju.


"Putri, ayo ikut!" ajak Haidar.


"Putri ...."


"Ayo, nggak usah nolak!" sahut Lidya menarik tangan sahabatnya itu.


Keempat orang itu pun pergi menuju kantin di rumah sakit. Makanan di sana sangat enak dan harga murah. Banyak orang melihat dan kagum akan kesederhanaan orang-orang kaya itu.


Mereka makan dengan tenang dan nikmat. Hingga Haidar pamit dan kembali ke kantornya bersama Rion.


Aini melihat calon mertuanya dengan adik dari kekasihnya Darren. Tadinya gadis itu hendak menghampiri, entah kenapa langkahnya berhenti. Ia pun mundur teratur.


Selama ia menjalin hubungan dengan Darren. Aini juga tidak mengakrabkan diri dengan adik-adik pria itu. Dengan Lidya pun hanya ketika bertemu saja, berbanding terbalik dengan Lidya yang begitu perhatian dan mendekati calon kakak iparnya itu.


"Mba!" panggil Ditya.


"Iya, Dit," sahut Aini cepat.


"Kita nggak jadi ke kantin?" tanya bocah kecil itu.


"Ah ... eh, iya jadi," ajak Aini.


Ia baru mengajak dua adiknya setelah meyakini jika calon mertuanya sudah pergi. Lidya baru melihat gadis yang akan menjadi kakak iparnya itu. Ia tersenyum lebar.


"Kak!" panggilnya.


"Eh, Dok," sahutnya.


"Kok, baru datang, Istirahat udah mau habis loh," ujar Lidya.


"Tadi, udah datang. Eh, Mba nya malah mundur," sahut Ditya memberitahu.


"Mundur?" tanya Lidya.


Radit mengangguk, begitu juga Ditya. Lidya menatap gadis yang akan sebentar lagi menjadi kakak iparnya.


"Ah itu ... aku malu kalo ada Papa," ujarnya menjelaskan.


Lidya sedikit kecewa, ia menyayangkan sikap malu gadis itu. Dulu, Seruni juga pemalu. Tetapi ketika Seruni akan menjadi bagian dari keluarganya. Wanita yang baru melahirkan beberapa bulan lalu, itu langsung mendekatkan diri. Seruni selalu datang ke rumah Terra atau ke rumah Bart, membawa makanan dan kue-kue buatannya.


Aini tak pernah memanggil Lidya dengan sebutan Dik, ketika mereka di luar rumah sakit.


"Kak," panggil Lidya.


"Kenapa Dok!' sahut Aini. Ia tengah menyuapi Radit.


"Panggil Dik, dong," pinta Lidya.


"Ini rumah sakit, nggak enak," sahut Aini lagi.


Lidya pun diam. Ia pun pamit dan menuju ruangannya bersama sahabatnya.


"Lain orang, lain tabiat," ujar Putri mengingatkan.


Lidya mengangguk paham. Semua orang pasti beda. Jadi selama Kakaknya bahagia ia akan membiarkannya. Toh kemarin, Aini begitu manja dengan Terra, ibunya.


Sedang di benua lain. Akhirnya Demian menyelesaikan semua pekerjaannya. Jacob bersorak riang. Semua data beres tak ada lagi kendala. Beberapa orang ditangkap karena berusaha mencuri data perusahaan. Berkat pengaman dari perusahaan Hudoyo cyber tech. Pria itu bisa melindungi semua asetnya dari yang pencuri.


"Iya Tuan. Kita pulang pada hati kita masing-masing!" sahut Jacob dengan bahagia.


Dominic yang datang mendengar percakapan itu. Pria itu begitu kesal. Empat bulan putranya ada di negara dan kota yang sama dengannya. Tapi, tak satu hari pun Demian sempatkan untuk mengunjunginya.


"Oh, begini kah anak-anak muda jaman sekarang?" sahut pria itu ketika masuk ruangan.


Demian dan Jacob langsung berdiri kaku. Kesibukan keduanya membuat lupa akan sosok tua di hadapan mereka.


"Apa jadinya jika aku menarik semua dan mendepak kalian berdua dari gedung ini?" ancamnya.


"Daddy!"


"Tuan!"


Dua pria tampan itu kini duduk bersimpuh di hadapan Dominic. Pria itu menatap sebal dan kesal pada keduanya.


"Begitu kerjaan selesai, yang kalian ingat adalah kekasih kalian. Bukan orang tua ini," keluhnya menyindir.


"Ah, betapa malangnya aku. Dua putraku menjadi durhaka. Apa aku harus punya anak lain, agar ada yang mau sayang denganku?' ujarnya berdrama.


"Dad!"


Dua pria itu merasa bersalah. Mereka benar-benar melupakan pria yang mendukung mereka dari kecil hingga sesukses ini.


"Ah ... aku memang orang tua tiada guna," ujarnya sedih.


"Daddy, maafkan kami," sesal Demian.


"Bagaimana jika Daddy ikut kami ke Indonesia!" ajak Jac semringah.


"Untuk apa? Buat jadi nyamuk atau kambing congek?" sindirnya.


"Daddy, bukan begitu. Kan, bisa jalan-jalan, having fun. Siapa tau dapat jodoh," sahut Jac.


Demian dan Dominic menatap Jac. Pria itu mengernyit. Ia merasa tak ada yang salah dengan perkataannya.


"Kau pikir ada wanita yang mau dengan pria tua ini?" tanya Dominic kesal.


"Eh ... benar juga kata Jac, Dad. lagi pula, Daddy belum tua, baru empat puluh sembilan tahun," ujar Demian.


"Kau dulu lah, menikah. Aku sudah tak memikirkan hal itu lagi," sahut Dominic.


Demian diam. Ia tak tahu bagaimana hubungannya dengan Lidya. Usianya sudah mau dua puluh tujuh tahun. Tetapi, Lidya seakan jauh dari jangkauannya.


Kembali ke tempat Lidya. Gadis itu memeriksa ponselnya. Ia melihat ada nomor asing yang melakukan panggilan telepon dan satu kiriman pesan. Gadis itu merasa tak pernah membalas pesan tersebut. Tetapi, pesan yang terkirim seperti dengan sengaja dihapus.


Lidya yang genius bisa mengecek pesan yang terhapus itu dengan BraveSmart ponsel miliknya.


Maka muncullah pesan yang dikirim. Ia melihat ada satu nama hilang dari kontak ponselnya.


"Nama Mas Demian kok nggak ada?" gumamnya pelan.


Ia meyakini jika ada tangan lain memegang ponselnya.


"Baby," keluhnya langsung.


Ia melihat pesan yang dikirimkan Demian. Ia pun tersenyum simpul. Dengan keberanian lebih, ia mencoba mengirimkan pesan pada pria itu.


"Paling nggak dibales, secara di sana masih dini hari, belum bangun," gumamnya lagi.


Demian tengah bersin-bersin. Ayahnya sudah pulang dan akan ikut dia ke Indonesia. Jam menunjukkan dini hari. Ia terbangun karena bersin.


"Astaghfirullah!" ujarnya lalu ia ke kamar mandi.


Di ruang kantornya memang ada kamar khusus untuknya dan juga Jacob. Mereka tidur terpisah.


Demian menggelar sajadah. Ia telah memakai koko dan peci yang ia beli di Indonesia. Tak berapa lama, ia pun khusyuk dengan ibadahnya.


bersambung.


ah ... Papa belum mau Darren nikah, sampe mimpi kek gitu?


next?