
Gabriel tengah duduk melamun di kantin. Sosoknya yang penuh karisma dan wajah yang begitu tampan, membuatnya jadi sorotan.
"Ih ... ganteng banget sih CEO kita. Gue mau deh jadi selingkuhan dia," celetuk salah satu karyawati memandangi Gabe penuh arti.
"Gila Lo! Dari pada jadi selingkuhan mending jadi istrinya. Emang mau seumur hidup Lo cuma diselingkuhin?" sergah salah satunya lagi.
"Ya, nggak apa-apa lah. Kalo cowoknya seganteng Tuan Gabriel Dougher Young," sela wanita itu masih menatap wajah pria tampan yang tengah melamun.
"Eh, keknya Pak Direktur lagi banyak masalah deh. Tuh, dari tadi dia melamun," sahut salah seorang karyawati lagi yang juga memperhatikan pria tampan itu.
Rosena yang tengah duduk tak jauh dari tempat boss-nya, memberanikan diri mendekat. Dengan sangat elegan gadis cantik itu duduk di depan boss-nya.
Gabe menyadari jika ada seseorang yang duduk di hadapannya. Pria itu sangat tidak suka jika kesendiriannya itu diganggu. Rosena yang melihat wajah gusar di depannya menelan saliva kasar. Sepertinya hati si Boss sedang tidak baik saat ini.
Tanpa kata, tanpa suara apa pun. Gabriel berdiri meninggalkan Rosena dan makanan yang tadi dipesannya, tak tersentuh sama sekali. Semua karyawati menahan tawa melihat wajah sekretaris CEO itu merah karena malu.
"Kasihan banget sih, udah tebel muka, eh malah dicuekin. Ditinggal pergi lagi .... mmppprrfff!"
Ucapan sarkas terdengar di telinga Rosena. Gadis itu mengepal tangan erat-erat. Malu luar biasa. ia ingin tenggelam saat ini juga. Air matanya menitik. Ia tak tahan. Memang dia salah, karena Boss-nya tak meminta dia untuk duduk bersama.
'Sudah lima bulan gue kerja sama di sini. Gue nggak bisa ngedeketin si Boss. Sudah saatnya gue nyerah,' ujarnya bermonolog dalam hati.
Sedang pria yang baru saja pergi karena merasa terganggu kini merasa lapar. Ketika hendak memesan makanan, ia melihat sosok gadis yang tengah duduk di sebuah ruangan. Jika di lihat gadis itu bekerja sebagai pengurus arsip. Terlihat dari seragam dan gaya fashion gadis itu yang terkesan kaku.
Bingkai kacamata yang sedikit tebal. Wajahnya berseri ketika ia membuka kotak bekalnya. Perut Gabe tiba-tiba berbunyi. Gadis itu menatap pria yang memegang perutnya.
Kedua netra coklat bertemu. Saling memandang satu sama lain, menyelami diri masing-masing. Hingga.
Kriiiyuuk! Lagi-lagi bunyi perut Gabe menyadarkan keduanya. Pria itu tersenyum malu dan mengelus tengkuknya. Karena begitu arogan ia meninggalkan makanan yang tak bersalah.
"Anda, lapar Tuan?" tanya gadis itu memecah keheningan.
"Ah ... eh ... iya,'' jawab Gabriel gugup.
"Apa anda mau?' tawar gadis itu.
Sandwich lengkap dengan potongan daging, sayur dan keju. Gabe menelan liurnya. Bau harum keju mozzarella yang terbakar membuat perutnya makin berontak. Gadis itu tersenyum. Pria itu terpana melihat senyum gadis itu.
"Sepertinya jika terlalu lama dibiarkan. Anda bisa pingsan di sini karena kelaparan," gadis itu mengambil separuh sandwich.
Benar, lelehan mozarela terlihat ketika gadis itu membelah dua rotinya. Lalu ia memberikan separuh dalam kotak pada Gabriel.
"Silahkan, Tuan," ujarnya.
Dengan malu-malu, pria gagah itu mengambilnya. Gadis itu meminta sang Boss untuk duduk.
"Tidak baik makan sambil berdiri,” ujarnya lagi.
Gabe duduk di sebelah gadis itu dan memakan sandwich dengan lahap. Keduanya hening saat makan, memilih menikmati makanan dibandingkan mengobrol.
"Terima kasih sandwich-nya lain kali aku traktir sebagai ganti," ujar Gabe lalu beranjak berdiri.
"Sama-sama Tuan," sahut gadis itu.
"Oh ya, siapa namamu?" tanya Gabe.
"Ah, saya Arsindhu Widya Kusmo," jawab gadis itu. "Tuan bisa memanggil saya Widya."
"Baik, terima kasih sekali lagi, Widya," ujar Gabe sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu.
"Sama-sama Tuan," sahut gadis itu lirih.
Tak terasa waktu pulang pun tiba. Seperti biasa. Gabe kembali lembur. Pria itu kembali bersama tim ahli untuk pengembangan flying internet. Kini merambah ke benua Afrika. Benua terakhir yang bisa mengajukan proyek penelitian cuaca untuk flying internet. Para miliarder Afrika juga menginginkan kelancaran sambungan mereka di udara. Walau biaya per unit dibandrol dua puluh juta euro. Tetapi, masalah observasi lingkungan harus dibiayai sendiri oleh peminat. Jika dihitung semuanya bisa mencapai lebih dari seratus juta euro.
"Oh ya, minta pendata arsip membawa berkas-berkas tertanggal dua minggu lalu. Sepertinya kita harus mengecek ulang!" titah Gabe.
"Baik Tuan," sahut Rommy.
Jika atasan lembur maka bagian arsip juga harus standby di tempat. Mereka yang harus menyusun dan mencari arsip yang diminta. Kepala bagian arsip sedang cuti melahirkan. Maka mau tak mau Arsindhu Widya Kusmo harus menjadi gantinya, karena ia wakil dari kepala arsip tersebut.
Dering telepon berbunyi di meja Widya. Gadis itu mengangkatnya. Ia mendapat perintah untuk mencari arsip dua minggu lalu perkara flying internet.
Gadis itu tentu tahu arsip model apa yang dimaksud. Gadis itu bergegas mencarinya. Tiga berkas ia bawa ke ruang direktur. Rosena yang ikut lembur mengambil arsip yang dibawa Widya.
Widya kembali ke ruangannya. Ia akan menunggu Rosena membawa kembali arsip itu untuk disimpan setelah digunakan.
Sudah tiga jam gadis itu menunggu. Arsip yang ditunggu tak kunjung diantarkan. Ia yakin, jika atasannya sudah selesai lembur. Sekarang sudah pukul 19.30. waktu maghrib sudah lewat. Ia hanya takut jika kendaraan menuju rumahnya sudah tidak ada. Beruntung dia tadi mengabarkan pada ibunya jika ia terlambat pulang.
"Duh mana nih, arsip. Telepon aja deh!'
Gadis itu menekan angka pada telepon khusus. Bunyi sambungan terdengar, tapi tak diangkat. Widya kembali menghubungi ruangan sekretaris, Rosena.
Ternyata Rosena abai dengan tugasnya. Ia langsung pulang ketika atasannya sudah selesai rapat. Padahal arsip itu ada di mejanya.
Sedang di depan lobby, setelah kepergian Rommy dan Rosena dengan kendaraan mereka masing-masing. Gabe teringat jika ia kelupaan dompet. Pria itu memutuskan kembali keruangannya.
Tepat dia sampai, telepon di meja Rosena berbunyi. Pria itu mengernyit. Matanya membelalak ketika melihat tiga berkas di meja sekretaris itu.
"Astaga. Ini kan arsip penting!' tekannya kesal.
"Halo!"
".......!"
"Iya, biar aku antar arsipnya nanti," sahut Gabe ketus lalu menutup sambungan telepon dengan kasar.
Widya tersentak ketika sambungan telepon tiba-tiba terputus. Terlebih mendengar suara laki-laki yang ia yakin atasannya tersebut sangat marah.
Butuh waktu sepuluh menit, Widya menunggu arsip itu. Kini ia benar-benar pasrah. Kendaraan umum yang melintas dekat kediamannya sudah tak ada.
"Sepertinya harus memesan taksi daring," gumamnya pelan.
Sosok yang ditunggu datang dengan wajah kelam. Widya sedikit takut.
"Lain kali, kau harus datang sendiri ke ruangan jika selama satu jam arsip tidak dikembalikan!" tekan Gabe memberi tahu.
Widya bengong. Seorang arsip hanya bertugas mencari bahkan semestinya yang mengambil dan mengembalikan arsip harusnya Rommy sendiri tadi. Tetapi karena pria itu meminta tolong, maka ia pun memberi arsip itu secara sukarela. Tetapi untuk mengambil lagi tentu bukan tugasnya.
Widya hanya diam menanggapi perkataan atasannya itu. Gabe menghela napas panjang. Ia tahu ia salah. Jadi pria itu pun meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Tuan," sahut Widya menaruh kembali arsip ke ruangannya lalu mengunci gudang itu. Hanya sidik Kepala arsip dan dirinya lah yang bisa mengakses gudang itu.
"Aku antar kau pulang!"
"Hah!"
bersambung.
Ahaa ... Gabe?
next?