TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
JALAN HIDAYAH VIRGOU



Budiman datang setelah mengantar Puspita dan ibunya. Ia menyerahkan kunci mobil pada Virgou. Virgou menyerahkan kunci motor kepada pengawal Terra itu.


"Ambil ini, kau segeralah istirahat," titah Virgou.


"Baik, Tuan," sahut Budiman sambil menunduk hormat.


Pria tampan itu pun berlalu dan pergi dari sana. Virgou menatap pria yang terbaring lemah. Adzan isya pun berkumandang. Pria itu berdiri, lalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Debaran jantung Virgou berpacu ketika membasuh wajahnya dengan air. Dadanya sesak menahan gemuruh. Ia ingin segera bersujud, merendahkan segala ego juga emosinya. Kepalanya yang tegak harus mencium tanah tempat ia berpijak.


Tidak ada yang bisa dibanggakan. Siapa sesembahan yang patut disembah kecuali Zat Maha Agung. Pencipta Alam semesta.


Virgou tergugu ketika bersujud. a


Air matanya mengalir membasahi lantai. Ia shalat tanpa sajadah. Pria itu ingin. ke musolah tapi tak mungkin meninggalkan calon mertuanya.


Basri yang sudah sedari tadi terbangun. Menatap punggung lebar yang bergetar menahan isak. Pria paru baya itu juga kini melaksanakan shalatnya.


Shalat usai. Virgou belum bergerak dari duduk bersilanya. Ternyata ia sedang berdzikir. Sejak bertemu dengan Terra dan dipeluk Lidya. Pria itu mulai tertarik dengan agama yang dijalankan oleh adik sepupunya itu.


Ia pun makin mendapat secercah sinar. Pria itu makin mendalami agama Islam. Belajar dengan ustad yang mau membimbingnya. Tidak ada yang tahu jika ia sudah mualaf tiga bulan yang lalu.


Usai dzikir, barulah Virgou berdiri dan membenahi pakaiannya. Mendekati brangkar tempat di mana calon mertuanya berbaring.


"Om, sudah bangun?" tanyanya ketika melihat netra ayah dari gadis idamannya itu terbuka.


"Heemm," Basri hanya berdehem.


Pria itu masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pria bule sholat? Bahkan berdzikir? pikirnya.


"Siapa namamu?" tanya Basri datar.


"Virgou Black Dougher Young," jawabnya.


"Nama Islam?" Virgou menggeleng, ia belum mengubah namanya.


Basri menghela napas. "Kau mualaf?"


Virgou mengangguk.


"Sejak kapan?"


"Tiga bulan lalu," jawab Virgou singkat.


"Ah, baru ternyata. Tadi, aku dengar kau membaca salah satu surah di juz'ama. Apa kau hapal semua?" tanya Basri terus mengorek keterangan.


"Inshaallah, saya hapal," jawab Virgou tegas.


"Kenapa kau menghapalnya?" tanya Basri masih penasaran.


"Buat bacaan shalat. Kan nggak lucu kalau baca three qul doang," jawab Virgou santai.


"Jawab yang serius," tegur Basri, menahan senyum.


"Iya, saya serius. Masa, mau menghadap Allah bacaannya tiga surah itu mulu. Tapi pas doa mintanya banyak. Kan malu," jawab Virgou penuh dengan ekspresi.


Basri akhirnya mengulas senyum lebar. Ia masih ingin menguji pria itu.


"Kau mau jadi bule alim, ya?" Virgou menggeleng.


"Tidak ada satu manusia pun di bumi ini bisa alim selama ia hidup. Kecuali para Rasul dan wali Allah."


Jawaban Virgou membuat Basri terhenyak. Ia malu mensahkan dirinya pada semua orang sebagai orang alim. Ia sadar jika perbuatannya bukanlah ciri orang alim.


"Om tahu ...."


"Panggil Papa," potong Basri cepat.


Virgou terdiam. Ia menatap netra lamur di hadapannya. Basri mengangguk. Virgou terharu, matanya berkaca-kaca.


"Apa yang aku harus ketahui, Nak?" tanyanya dengan nada lembut.


"Baru keluarga Papa yang tahu aku adalah seorang mualaf," jelas Virgou.


"Loh, kenapa? Apa ada yang menentangmu jika kau masuk Islam?" Virgou menggeleng.


"Bagiku, Islam bukan untuk dipamerkan, Islam adalah perangai seseorang terhadap sesamanya. Bukan untuk kaum muslim saja tapi untuk kaum lainnya," jawab Virgou.


"Tapi jika mendengar namamu, orang akan mengira kau masih beribadah di gereja, Nak," ungkap Basri memberi tahu.


"Iya, saya tahu. Tapi tak apa. Bukankah ibadah itu mestinya rahasia? Hanya Allah yang berhak menerima ibadah kita, bukan orang lain," jawab Virgou.


Lagi-lagi Basri mengangguk membenarkan. Selama ini banyak orang memamerkan ibadahnya. Begitu juga dia. Pria itu malu dengan sosok bule yang di duduk di hadapannya ini.


"Pa, bolehkah saya bermanja dengan Papa?" pinta Virgou dengan mata memohon.


Basri dapat melihat luka yang begitu besar di mata biru tersebut. Ia merentangkan sebelah tangannya. Dengan hati-hati, Virgou meletakkan kepalanya di sisi tubuh pria itu. Basri membelai lembut rambut pirang kemerahan tersebut.


Hati, Virgou sesak. Baru kali ini ia mendapatkan kelembutan dan belaian kasih sayang dari seorang ayah.


"Tumpahkan lah semua keluh kesahmu, Nak," ucap Basri.


"Hhhh ... hiks ...!"


Isak pelan mulai keluar dari bibir pria itu. Basri terus membelai rambut Virgou dengan curahan kasih sayang. Mencoba mengobati luka yang menganga.


"Sejak aku lahir. Aku terbiasa dengan kekerasan. Bentakan dari Ibh juga ayah, bahkan pukulan juga sering kudapati, ketika aku mulai bisa melakukan sesuatu."


Air mata Virgou mengawali ceritanya. Pria itu terus menahan isaknya, mencoba ikhlas dan terus beristighfar agar tidak mengumpat atau membenci orang-orang yang menyakitinya.


"Ayah dan Ibu selalu membandingkan ku dengan kepintaran orang lain. Bahkan pialaku menjadi pispot oleh kakekku," lanjutnya sambil tersenyum.


Virgou menegakkan kepala. Ia meraih tangan Basri menggenggamnya erat lalu mencium buku-buku tangannya.


Basri melepas genggaman Virgou, mengusap pipi pria itu. Ia tahu luka itu ternyata sudah tidak ada artinya bagi Virgou.


"Ternyata kau sudah melewatinya dengan jalan yang benar. Berterima kasihlah, padanya, Allah menyentuhmu melalui dirinya," ujar Basri.


"Tentu, aku sangat menyayangi Lidya. Gadis kecil itu adalah penolongku," jawab Virgou enteng.


"Lalu, kenapa kau tak menikahi penolongmu itu?" tanya Basri, ada nada tak suka di sana.


Virgou mengernyit tanda bingung. Lalu terkekeh kemudian.


"Mana bisa aku menikahi adik sepupuku sendiri, terlebih dia baru berusia empat tahun," kekehnya.


Basri malu dengan dugaannya. Ia mengira gadis bernama Lidya adalah benar-benar seorang gadis.


"Beruntunglah siapapun nanti yang akan menjadi suaminya," ujar Basri.


Virgou setuju. Ia menatap calon ayah mertuanya.


"Pa, boleh tidak putrinya untuk saya Biar saya ambil alih tugas Papa untuk menjaganya juga memuliakannya, sebagai istri, saya?" pinta Virgou dengan nada permohonan juga ketulusan di sana.


Basri menatap iris biru itu. Ada kesungguhan di sana. Basri belum menjawab. Ia masih ingin menguji calon menantunya. Ia tak mau salah untuk segera menyetujui pria itu mengganti peran menjaga putrinya.


"Papa, masih ingin mengujimu, jika kau tidak keberatan. Namun, kalau kau menolak. Silahkan mundur dari sekarang."


Sebuah pilihan yang sulit bagi sosok arogan seperti Virgou. Pria yang notabene suka memerintah dan bertindak sesuka hatinya. Pria dengan sikap dingin dan tak mau bertele-tele, harus tunduk demi mendapatkan seorang gadis.


"Untuk seorang gadis seperti Puspita. Sepertinya aku memang harus banyak memperbaiki diri. Bismillah, saya bersedia diuji, Pa!" jawab Virgou penuh ketegasan.


"Apa kau yakin?' tanya Basri lagi.


"Saya yakin, jika pun kami tidak berjodoh dengan putri Papa. Saya akan banyak belajar dari Papa."


Jawaban Virgou membuat Basri tersenyum bangga. Ia yakin putrinya nanti akan berada di tangan yang tepat.


"Istikharah lah, Nak. Itu saja pinta Papa. Yakin kan dirimu jika Puspita Hasan adalah jodohmu. Minta lah pada Allah, agar memang Putrikulah yang bersanding denganmu. Itu saja, Papa minta," ujar Basri dengan suara tercekat.


Virgou terdiam. Ia sedikit takut untuk melaksanakan shalat sunnah tersebut. Takut jika jawabannya berbeda dengan yang ia inginkan.


Namun, kemudian ia mengingat jika jodohnya ada di tangan sang maha kuasa. Maka ia harus melaksanakannya.


"Baik, Pa. Akan aku lakukan, inshaallah," jawab Virgou tegas.


Basri tersenyum. Ia juga akan meminta sang putri untuk melakukan shalat istikharah.


bersambung.


jodoh othor belum ada ... istikharah ah ...


next?