
Sudah dua hari mereka bersiap dan melakukan gladi resik. Penyematan gelar pada keturunan terakhir silsilah bangsawan pada Terra. Juga gelar kehormatan pada suami dan seluruh keturunannya.
"Astaga, benar-benar ketat sekali," keluh Virgou.
"Protokol mereka sangat terasa magis dan membuatku merinding dari tadi," lanjutnya.
"Ssshh!" peringat Herman.
Memang semua harus tenang. Anak-anak diungsikan. Para abdi dalem yang mengaturnya. Semua anak dipisah seusai umur. Mereka di"sucikan" begitu istilah adat yang dijalankan.
Sebuah tradisi yang kental dengan ikatan para leluhur mereka. Budiman dan Dav, juga Haidar yang memang sudah terlatih dalam disiplin tinggi. Mereka terbiasa hidup diatur oleh jadwal.
"Besok semuanya harus siap dan sesuai dengan apa yang diarahkan," jelas abdi dalem yang mengurus mereka.
"Gusti Pangeran, hamba pamit," tuturnya sambil membungkuk hormat pada Herman dan mundur sepuluh langkah.
Terra menelan saliva kasar. Hanya dia yang harus melewati semua protokol itu nanti seorang diri. Wanita itu harus berjalan sambil berjongkok dengan kepala tertunduk di hadapan raja nanti. Sultan sendiri yang akan menyematkan gelar itu pada Terra. Sedangkan yang lain akan disematkan oleh perdana menteri kesultanan di tempat lain. Herman yang akan mengantar Terra menghadap raja.
"Ayah," rengeknya.
"Sayang, terima saja, ya," pinta pria itu.
Terra menggelayut manja di pelukan pamannya itu. Herman mengusap sayang kepala ponakannya. Khasya tersenyum melihatnya. Bram begitu bangga, putranya menikahi seorang putri bangsawan turunan terakhir.
Semua tidur di masing-masing pendopo atau istana kecil. Sedangkan para pengawal dan pengasuh di tempat lain, Budiman yang membawa ayah juga ibunya di tempatkan sama dengan Terra. Ia juga akan mendapatkan gelar kehormatan dari kesultanan.
"Nak, Ayah dan Ibu ini mimpi apa, bisa masuk istana ini?" tanya Fery masih tak percaya.
Terlebih kemarin mereka hanya diam termangu ketika Herman memaksa keduanya untuk ikut. Padahal baik Fery dan Mia menolak.
"Alhamdulillah, Bu, Pak. Berkat Nona Terra, derajat kita terangkat," ujar Budiman lembut.
Ketiga putranya tak boleh tinggal bersamanya. Itulah peraturan istana itu. Anak-anak diasuh oleh para dayang istana yang memang diperkerjakan. Beruntung ada asisten rumah tangga yang ikut serta. Jika tidak, mungkin ketiga putranya akan membuat ulah.
"Sayang, aku kangen anak-anak," keluh Gisel.
Budiman hanya bisa memeluk istrinya dan memintanya bersabar.
Selama gladi resik hingga penobatan gelar. Semuanya berpisah dengan anak-anak mereka. Bahkan Gomesh dan istri pun dilarang untuk bersama kedua putranya. Maria yang tengah mengandung juga dilarang tidur sekamar dengan suaminya. Begitu juga Terra.
Haidar yang mengalami hamil simpatik sangat berat berpisah dengan sang istri.
"Nggak bisa kah ada pengecualian gitu?" pintanya pada abdi dalem.
"Minum ini, biar tenang tidur, Daulat Raden," ujar para abdi dalem sambil membungkuk hormat.
Haidar menggaruk kepalanya. Padahal, ia ingin sekali bersatu tubuh dengan sang istri di istana ini.
"Sebelum, penobatan tidak ada yang boleh melakukan hal intim, karena besok ketika acara, akan banyak tenaga yang harus disiapkan," jelas abdi dalem, masih setia membungkuk hormat.
Haidar akhirnya pasrah dan meminum air yang dinyatakan manjur untuk pria ngidam seperti dirinya.
Waktu berlalu. Semua abdi dalam sibuk dengan acara. Banyak arak-arakan abdi dalem menjemput di masing-masing istana.
Terra sudah memakai kebaya lengkap. Ia begitu cantik dengan kebaya ala putri keraton itu. Belum lagi kulitnya kontras dan wajah bulenya yang begitu kentara.
Ia berjalan setengah berjinjit, sulit sekali. Haidar terpana menatap istrinya yang begitu cantik.
"Daulat Raden," panggil salah satu abdi dalem.
Pria itu menghela napas panjang. Ia juga akan disematkan gelar kehormatan dari perdana menteri kesultanan di beda ruangan dengan sang istri.
Herman dan para abdi dalem lainnya menunggu Terra di sebuah singgasana yang dipanggul oleh para pria. Terra hanya bisa menghela napas panjang ketika ia harus berjalan dengan berjongkok ketika mendatangi pamannya.
Pria itu langsung menarik bahu Terra untuk membantunya berdiri. Herman tersenyum lebar melihat betapa cantik dan anggunnya sang keponakan.
Kini, keduanya diusung tandu yang sangat cantik. Terra sedikit terpekik, ia beda tandu dengan Herman. Butuh waktu lima belas menit ia diusung sedemikian rupa. Sungguh, ini adalah pengalaman pertama Terra.
Setelah sampai dan turun dari tandu yang membawanya. Herman membimbing keponakannya ke dalam.
Jantung Terra berdegup kencang dari tadi. Ini pertama kalinya pula ia bertemu dengan sultan, sang sultan adalah buyutnya.
Herman ikut jongkok ketika menyambangi rajanya, begitu juga Terra. Pria itu menjelaskan siapa Terra dengan bahasa Jawa kromo yang sangat halus.
"Daulat Gusti Raja Agung," sahut Terra sambil menakup dua tangannya ke udara.
Gelar disematkan. Nama Terra kini bertambah menjadi. Raden Ayu Terra Arimbi Hugrid Dougher Young. Raja menarik bahunya. dan menuntunnya pada para tetua. Untuk memberikan doa dan ujar-ujar.
Walau nyaris seluruh bahasa yang digunakan, Terra tak mengerti artinya. Tetapi, wanita itu tetap menunduk dan mendengarkan wejangan yang pastinya baik untuknya itu.
Usai penobatan. Semua abdi dalem bersimpuh ketanah dan memberikan penghormatan padanya. Terra sampai terkejut melihatnya.
"Ayah," cicitnya takut.
"Tenang dan minta semuanya bangkit," titah Herman.
"Bangkitlah Abdi dalem," pinta wanita itu lembut.
"Mantur nembah nuwun Raden Ayu," sahut para abdi dalem.
Jantung Terra tak berhenti berdetak kencang, ia masih terus menjalani proses penobatannya. Hadir diantara para kerabat kerajaan. Wanita itu diperkenalkan . Banyak rakyat awam begitu antusias melihat acara ini. Para wartawan dari dalam dan luar negeri menayangkan acara ini. Semua mata melihat siapa yang baru saja disematkan. gelar kebangsawanan Jawa.
Sebuah tradisi ribuan tahun yang masih dijaga utuh oleh para penerus menjadi sorotan dunia.
Kecantikan Terra dan wajah bulenya menjadi perbincangan seluruh warga Indonesia. Menanyakan kebenaran jika dirinya adalah masih turunan bangsawan Jawa.
"Masa iya bule gelarnya Raden Ayu?"
"Mana bisa gitu, kan kalo turunan cewe udah nggak dapet gelar lagi kan?"
"Pake duit kali, gelarnya?"
Begitulah cuitan-cuitan sirik dari para netizen. Mereka hanya menilai apa yang mereka lihat tanpa mau mencari tahu kebenarannya.
Usai protokol, barulah Terra berkumpul dengan keluarga besarnya. semua berdecak kagum melihat banyaknya keturunan Dougher Young dan Pratama.
Darren, Lidya dan Rion menjadi sorotan karena kecakapan wajah ketiganya, terutama Rion. Remaja itu begitu banyak membuat para gadis histeris, bahkan banyak para pejabat istana meminta perjodohan pada putra dan putri Terra, mau pun keluarga Dougher Young juga Pratama.
'Daulat Raden, bisakah kita menjodohkan Rara Ayu Lidya dengan putra saya," aju salah seorang bangsawan.
"Maaf, saya tidak ingin menjodohkan putra dan putri saya, karena takut mereka memiliki jodoh impian mereka masing-masing," tolak Haidar.
Pria itu juga sangat tampan dengan pakaian beskap lengkap. Terlebih Virgou. Semua kaum hawa mengusap saliva mereka melihat pria dengan sejuta pesona itu. Iris birunya membuat para wanita hingga gadis menjerit histeris. Puspita sampai kesal dibuatnya.
"Jangan iri sayang. Kau tetap wanita nomor satu di hatiku, setelah Lidya," aku Virgou.
Puspita hanya mengerucutkan bibirnya saja. Tak ada yang bisa menggeser putri atau adik iparnya itu dari hati sang suami. Jangankan suaminya, Gomesh dan Budiman pun berkata sama seperti Virgou.
"Aku bisa membayangkan pria yang akan menyukai Lidya nanti. Ia pasti berjuang keras untuk menaklukan para singa posesif ini," keluhnya bergumam.
"Siapa pun kau. Aku harap nyalimu harus besar dan kuat, wahai pria," lanjutnya lagi sambil menatap Lidya yang begitu cantik.
"Haachi!' Demian bersin. "Alhamdulillah!"
"Yaharmukallah!" sahut Jacob.
"Siapa lagi yang membicarakan mu?" tanyanya kemudian.
"Mungkin Lidya merindukanku," jawab Demian begitu percaya diri.
Bersambung.
berat ... berat ... Demian kau harus punya nyawa cadangan menghadapi para pria pelindung Lidya.
hai ... readers setia Terra the best mother. Sebentar lagi. Episode novel ini mencapai 500.
Othor cuma nanya, apa mau dilanjutkan hingga 1000 episode, atau dipersingkat hingga kesemuanya sudah menikah dan novel ini tamat?
Yang bilang next 1000 episode. Bilang yes!
next?