TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HELLO AZHA



Hari ini mansion Virgou ramai. Keluarganya Dougher Young menambah personil mereka. Seorang anak laki-laki hadir menyemarakkan suasana.


Ali Razka Bartazha Dougher Young, kini berada di tengah ruangan tengah tidur di atas bantal khusus. Dengungan marhaban terdengar dari mulut-mulut tiga ratus anak yatim-piatu. Memuji Rasulullah Salallah Alaihi Wassalam. Leon menggunting rambut cucunya, begitu juga dengan David. Virgou membawa cukur rambut dan membotaki kepala putra dari adiknya itu.


Sedang Haidar dan Budiman mengabadikan semuanya melalui kamera. Darren menyiapkan semua bingkisan untuk anak-anak panti yang diundang.


"Mami, semuanya udah siap," ujarnya memberitahu.


"Terima kasih, sayang," sahut Seruni sambil mengusap pipi pemuda itu.


Darren melempar senyum. Ia bahagia karena kini keluarganya bertambah. Terlebih perut sang ibu mulai membesar.


"Jangan cape-capek, Ma," tegur Rion ketika melihat ibunya super sibuk.


"Tenang, Baby," ujar Terra.


Haidar juga sangat khawatir melihat kegesitan istrinya itu. Setelah diperingati Herman barulah Terra duduk manis.


"Kau duduk manis, atau aku yang akan mengikatmu di kursi!" ancam pria itu.


Terra langsung duduk. Khasya hanya terkekeh dan mengecup kepala kemenakan suaminya itu. Terra merengek manja.


"Bunda ... ayah galak."


"Nggak apa-apa. Habis kamu kalo nggak dimarahin ayahmu nggak nurut," sungut Khasya gemas.


Terra cemberut. Puspita datang dan memberikan Harun pada adik iparnya itu.


"Biar kamu diam!" ujarnya.


Anak-anak bermain bersama anak-anak panti asuhan. Dari dulu, mereka tak pernah membedakan status, karena itu yang ditekankan oleh semua orang tuanya.


Setelah cukuran. Seruni mengendong bayinya dan masuk ke kamar dan menyusui. Azha sudah rewel karena lapar. Ketika pembagian. Semua anak berbaris termasuk. Kean, Cal, Arimbi, Satrio, Nai, Sean, Al, Daud, Dimas, Kaila, Dewa, Dewi, Rasya, Rasyid, Samudera, dan Benua. Tak ketinggalan Sky yang paling kecil dari semuanya.


"Ngapain kalian ikut baris?" tanya Herman dengan pandangan horor pada semua anak-anak nakal itu.


"Ih, kita juga mau, Kakek!" sahut Kean memberengut.


"Ajak semua saudaramu, duduk!" titah pria itu.


Kean yang memang lebih tua hanya bisa menurut. Bocah berusia dua belas tahun itu, mengajak semua saudaranya memisahkan diri.


"Aaahhh!" keluh semuanya.


David terkekeh melihat kenakalan semua kemenakannya itu. Usai membagikan semua bingkisan. Barulah semuanya kembali bercengkrama. Leon kini menggendong Harun dan menciumi bayi yang sudah mulai berat itu.


"Kau sudah berisi sekali, bayi gembul," ujarnya.


"Opa yang sudah terlalu tua untuk menggendongnya," ledek Virgou.


"Sembarang kau!" sungut Leon tak terima.


Semua terkekeh mendengar pertengkaran kecil itu. Bart hanya bisa mengelus dada melihat kedua keturunannya.


"Kalian ini tak ingat umur!" sungut pria tua itu.


"Ayo kita nyanyi-nyanyi!' ajak Kean pada semua saudaranya.


"Ayoo!" seru semuanya.


Kini mereka sudah bisa memasang alat karaoke itu. Keanu yang kini memimpin semuanya. Tak lama, Gomesh datang bersama dua putra juga istrinya. Domesh dan Bomesh meminta makan pada Puspita.


"Mommy, tami lapal."


"Ayo, sini makan. Mommy suapin," ujar Puspita langsung menyiapkan makanan untuk dua anak itu.


"Jangan disuapi, mereka bisa sendiri, Nyonya," ujar Maria tak enak hati.


"Sudah, biarkan. Kalian makanlah dulu," titah Virgou.


Gomesh pun duduk satu meja dengan tuannya. Mereka makan dengan tenang. Tampak Domesh dan Bomesh begitu lahap dengan suapan yang diberikan Puspita.


"Spy bawu banyi!'


Bayi itu pun menyambar mik. Rion memang melepas adik-adiknya. Ia sengaja tak membantu Kean mengendalikan para bocah.


"Penua dulu!" sahut Benua.


"Gantian ya," ujar Kean menengahi.


"Emba mawu ... Penua bulu!' tekan Benua.


"Spy!" pekik Sky di depan mik.


"Suit deh ... yang menang duluan!" sahut Rasya ikut menengahi.


"Buit pa'a?" tanya Sky.


"Jika jempol dengan jari telunjuk yang menang adalah jempol, jika telunjuk dengan kelingking yang menang telunjuk. dan kelingking bisa menang kalau lawan jempol," terang Kaila.


"Bempol yan mana?" tanya Benua.


Kaila menunjuk ibu jari adiknya.


"Ini jempol, ini jari telunjuk dan ini jari kelingking," jelasnya lagi.


Benua mengangguk Sky juga. Mereka akhirnya bersuit. Sayang, mereka menunjukkan kelima jarinya.


"Atuh menan!" sahut Benua.


Sky pun menangis karena kalah. Semua menggaruk kepala. Nai menarik Sky dalam pangkuannya dan menenangkan adiknya itu.


"Huuu ... uuuu ... Spy talah Ata' Nai ... hiks ... hiks!"


"Ssshhh ... udah nggak apa-apa, kan bisa gantian," ujar Nai.


Tak lama bayi itu pun tidur dipangkuan kakak perempuannya. Nai menggendong adiknya. Melihat adiknya menggendong Sky, Lidya langsung membantu.


"Biar kakak aja yang gendong Sky," Nai pun membiarkan kakak perempuannya itu menggendong Sky.


"Sky berat," keluhnya.


Virgou yang melihat Lidya menggendong bayi, langsung ikut membantunya.


"Sayang," panggilnya.


"Nggak apa-apa, Daddy, Iya bisa kok," ujar gadis itu.


Virgou membuka kamar khusus anak-anak, Lidya masuk dan meletakan Sky di sana.


"Makasih, Dad."


"Sama-sama, sayang," sahut Virgou mencium pucuk kepala Lidya yang terbungkus hijab.


Darren pamit, ia masih harus mengurus beberapa pekerjaan. Banyaknya permintaan titik sinyal di lautan membuat ia sedikit sibuk. Belum lagi ia juga menemukan beberapa penyelewengan anggaran dana untuk perkembangan titik internet itu.


Budiman dan Gomesh yang akan menjadi pengawal pemuda itu. Virgou menyuruh pria bawahannya itu untuk menemani Budiman.


"Aku yang menyetir," pinta pria dengan tinggi dua meter itu.


Budiman menyerahkan kunci Pajero sport hitam milik Darren. Ketiganya kini sudah ada dalam mobil dan meluncur ke perusahaan milik Terra.


Tak lama Lidya juga pamit, karena ia harus kembali membuka praktek di rumah sakit.


"Ma, Kak Aini kan sekarang merawat dua adik misannya," lapor Lidya.


"Oh ya, memang dua orang tuanya kemana?" tanya Terra.


Wanita itu cukup terkejut mendengar berita dua adik dari gadis yang menjadi ta'aruf putra tertuanya itu. Masalahnya, yang ia tau Aini adalah anak tunggal.


"Kak Aini kemarin sih cerita kalau paman dan bibinya itu pergi meninggalkan kedua anaknya begitu saja di rumah," jawab Lidya.


Kini barulah Terra ingat akan cerita Aini waktu itu. Wanita itu meyakini jika kedua anak itu adalah anak dari paman yang memakan harta peninggalan mendiang orang tua gadis itu.


"Sekarang dua adiknya dirawat karena gizi buruk," jelas Lidya dengan mimik sedih.


"Ma, kok kisah Kak Aini nyaris mirip sama kisah Mama yang ngurus kita ya?" lanjutnya.


"Sayang," tegur Terra.


Wanita itu memang kurang suka dengan cerita masalalu. Tetapi, mendengar kisah Aini yang mengasuh dua adiknya mengingatkan dia saat masa dulu.


"Ya, sudah, kamu jenguk mereka nanti ya, bawa makanan buah untuk keduanya juga mainan," pinta Terra.


Lidya mengangguk. Lalu setelah mencium semuanya. Ia pun memanggil sang suami.


"Mas, Darren belum ngasih tau perihal ta'arufnya sama Kak Virgou dan Ayah ya?" Haidar menggeleng.


"Belum, anak itu terlalu sibuk. Nanti, aku akan memperingatinya," jawab pria itu.


Terra mengangguk. Kini mereka pun kembali ke dalam riuhnya suasana dan mendengarkan suara anak-anak kini giliran Domesh yang bernyanyi.


"Huuuaaammm ... patu-patu ... atuh ... huuuaaam ... sayan ibu ... huaaam ... Ata' Ila yan banyi ... Domesh antut," ujarnya.


Dengan berani ia pun masuk ke kamar di mana Sky tidur. Pintu memang sengaja dibuka oleh Virgou. Semua menggeleng melihat bayi itu. Akhirnya semuanya pun ikut masuk ke kamar. Anak-anak seusia Sky berada dalam satu kamar. Sedang kamar untuk yang lain sudah disiapkan. Untuk anak perempuan dan laki-laki pun dibuat terpisah.


Bersambung.


ah ... begitulah.


Next?