
Salah seorang pemandu wisata datang menghampiri. Perusahaan Osaka memang menyediakan fasilitas tersebut untuk menyambut kedatangan Terra dan sekeluarga. Terra sedikit mengernyit dengan penampilan pemandu wisatanya.
Tampilan rambut klimis disisir ke belakang. Kumis tipis hanya segaris. Mata sipit dengan lirikan tajam dan licik. Bahkan Terra melihat tinta tatto yang cukup ditakuti di dunia.
"Mas," panggil Terra lalu menggenggam erat tangan suaminya.
Haidar pun ikut merasakan hawa yang tidak biasanya. Jika hanya mereka berdua, mungkin tidak begitu masalah. Tapi, ini ada tiga anak-anak yang masih kecil-kecil.
"Apa kita batalkan saja jalan-jalannya?' tanya Haidar.
Budiman juga langsung menggendong Rion sedang Dahlan menggendong Lidya. Darren berada dalam gandengan tangan Rudi, Fendi pun juga bersiap. Tiba-tiba sosok pria tinggi besar datang dengan berlari. Haidar menyipitkan mata.
"Gomesh?" Terra menyebut nama itu bersamaan dengan suaminya.
Terra melirik pria pemandu wisatanya. Keringat dingin muncul, walau segera dihapus oleh pria bernama Banako Kagama.
"Tuan, Nyonya," sapa Gomesh dengan napas menderu.
"Kak, kok bisa tahu Te ada di sini?' tanya Terra bingung.
"Dari ponsel milik Tuan muda Darren," jawab Gomesh setelah meredakan napasnya yang memburu.
Terra menatap Haidar. Lalu terbesit ide. Sepertinya jalan-jalan ini akan membentuk karakter ketiga anaknya kelak. Ia pun membisikkan sesuatu pada Terra, lalu Darren, Lidya kemudian Rion.
"Bagaimana. Apa kalian setuju?' tanya Haidar.
Terra yang memang menyukai tantangan begitu sangat antusias. Berbeda dengan Lidya dan Darren. Ia tak ingin orang-orang yang ia sayangi terluka.
"Tapi, Mama syama Papa bedimana? Iya tatut nanti Mama terluta. Iya syedih," takut Lidya beralasan.
"Jangan khawatir, sayang. Papa akan jaga Mama. Papa janji," ujar Haidar memberi keyakinan pada Lidya.
"Baik lah, kita let's go!' sahut Darren dengan mata berkilat.
Pria itu memegang ponsel. Ia sudah memindai semua lokasi yang berhubungan dengan kepolisian, atau keramaian.
"Bayo ... pes go!" seru Rion.
Mereka bergerak mengikuti pemandu wisata. Ternyata dugaan Terra benar. Pemandu wisata sebenarnya sudah tewas terbunuh di suatu tempat.
Ketika mereka menaiki sebuah bus pariwisata. Darren masih terus memainkan ponselnya. Semua unit pangkalan militer Jepang terhubung. Memberi skema suhu tubuh untuk menandai mereka. Tentu Pemandu gadungan itu memiliki suhu tubuh yang lebih panas. Kepolisian merespon tanda bahaya yang dikirimkan oleh Darren bahkan semua unit pangkalan militer pun mulai bergerak tanpa sepengetahuan musuh.
Siapa sangka. Jasad pemandu wisata ditemukan dengan cepat oleh pihak kepolisian, di sebuah sumur tua yang tak jauh dari lokasi perusahan pemandu wisata.
Tim perusahaan Osaka mulai mengerahkan kekuasaannya. Mereka tidak menyangka jika keberadaan Terra tercium oleh geng paling ditakuti Yakuza.
Bus berjalan dengan kecepatan biasa. Pemandu menerangkan beberapa poin-poin wisata yang sangat populer di kota itu. Hanya Rion yang begitu antusias melihat lampu-lampu besar juga papan reklame yang menayangkan sebuah iklan empat dimensi.
"Buuuwaaah ... badus petali ... Huuwaaa ... belrjshaneu ... ueuebjw msbdvvmmbsib!" entah bahasa apa yang digunakan oleh Rion.
Terra memperhatikan diam-diam gelagat pemandu wisata. Ia seperti menggaruk kepala. Mengorek telinga. Terra yakin itu adalah handsfree yang biasa digunakan seperti Budiman. Menyambung pada suatu titik yang mengoperasi mereka.
Terra tak sadar. Bahasa yang Rion gunakan mampu mengacak database lawan. Mereka kehilangan titik lokasi bus yang membawa Terra dan keluarga.
Darren pun cukup terkejut karena tiba-tiba signal data sedikit rusak ketika Rion berbicara.
"Masha Allah. Suara Rion mampu merusak frekwensi data?" ucapnya takjub.
Benar saja. Bus tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi. Berbelok ke arah yang bukan seharusnya. Semua kepolisian mengejar. Terra menyuruh putranya agar kepolisian setempat berhati-hati.
"Baik, Ma. Darren sudah kirim pesan jika kita ada di dalam bus dan menyuruh mereka untuk berhati-hati dan menjaga jarak," sahut Darren menanggapi permintaan ibunya.
Bus berhenti di sebuah gang sepi. Terra sangat tahu di mana ia berada. Semua dipaksa keluar. Gomesh menarik kerah pemandu wisata juga supirnya, lalu melemparnya keluar.
"Kak Dahlan. Tolong dekap Lidya agar tidak melihat semuanya. Tenangkan dia ya," pinta Terra sangat.
"Baik, Nona!" sahut Dahlan menyanggupi permintaan Terra.
Lidya didekap. Gadis kecil itu sangat tahu jika bahaya akan mengancam keluarganya. Ia pun berdoa dalam hati agar semua orang yang ia sayangi selamat dan tidak kurang suatu apa pun.
"Tidak Pa. Darren tidak takut!' sahut Darren dengan kilatan mata tajam.
Sedang di negara lain. Virgou yang mendapat laporan jika Terra dan anak-anak diculik oleh kelompok Yakuza langsung berang luar biasa. Tapi, ia tak bisa pergi. Istrinya sudah sering kontraksi.
"Mas, pergi saja. Aku juga khawatir sama Terra dan anak-anak," ucapnya kemudian.
"Percuma aku datang. Sampai sana juga pertarungan sudah selesai. Tidak apa-apa. Kita berdoa saja agar semuanya selamat. Aku sudah mengirim Gomesh ke sana. Dia sudah ada bersama Terra," jelas Virgou panjang lebar.
Sedangkan Bart yang tahu jika cucunya dibawa lari oleh Yakuza langsung menyuruh beberapa anak buahnya untuk membantu Terra.
Semua bantuan sudah berada di sekitar lokasi di mana Terra, Haidar, Budiman, Dahlan, Rudi, Gomesh dan tiga anak Terra, Darren, Lidya dan Rion.
"Mama, pentat pa'a imi, Ma?' tanya Rion ingin tahu.
"Ini tempat musuh, Nak," jawab Terra.
"Busuh?' tanya Rion tak mengerti.
"Tempat penjahat, Baby," jawab Haidar menyahuti.
"Oh ... pembahat!" Rion angguk-angguk tanda mengerti.
Terra, Haidar dan Budiman juga Gomesh maju. Sedangkan Dahlan, Fendi. dan Rudi menamengi tubuh anak-anak dengan tubuh mereka. Jantung Terra berdebar kencang. Adrenalinnya terpacu. Ia begitu bersemangat menanti apa yang terjadi. Tiba-tiba.
Set! Set! Set!
Tiga buah senjata berbentuk bintang dilempar dari berbagai arah. Terra, Haidar, Budiman dan Gomesh menangkis dengan tangan mereka.
Plak! Plak! Plak!
"Lindungi anak-anak!" pekik Haidar murka.
Rudi, Fendi dan Dahlan merapatkan tubuh mereka. Darren keluar dari pengawalan ia melihat ada beberapa bilah besi di sisi jalan. Ia pun berlari dan melempar bilah-bilah besi itu pada kedua orang tuanya juga Budiman dan Gomesh. Rudi kembali mendatangi Darren menarik tubuh pria kecil itu masuk dalam lingkaran pengamanannya.
Mendapatkan senjata, membuat ke empat orang dewasa itu makin siap. Rion melihat senjata berbentuk bintang. Ia mengambilnya. Bayi itu menangkap sosok hitam di atap yang mengendap-endap. Tampak melempar sesuatu.
Ziing! Trang!
Benda berbentuk bintang itu terpental oleh lemparan benda yang sama. Terra terkejut. Bukan hanya Terra, tapi juga Haidar, Budiman dan Gomesh.
Mereka melihat kebelakang. Dahlan dan Rudi yang takjub menunjuk pelaku penyabotase serangan.
"Baby?" Gomesh tak percaya.
"Don't kidding me!"
Rudi mengambil beberapa senjata itu. Diberikannya pada Rion. Terra sepertinya harus memperlihatkan kebisaan bayi itu pada raksasa yang memandang bayinya tak percaya.
Serangan tiba-tiba datang. Sepuluh orang berpakaian ninja menyerang.
Sring! Set! Set!
Senjata bintang berterbangan. Teriakan menggema. Gomesh terpana.
"You're not a Baby!" serunya pada Rion.
Sret! Rion melempar benda itu tepat di samping wajah Gomesh.
"Arrghh!'
Bersambung.
nah loh ... siapa tuh yang teriak?
next