TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TIDUR BERSAMA



Hari makin larut, mereka baru saja makan malam. Betapa Bart begitu terharu melihat perhatian dari cucu perempuannya itu.


Gadis itu memasak khusus untuk mereka semua. Bahkan ia juga memikirkan para tim bodyguard yang berjaga. Sepuluh bodyguard yang menjaga Bart dan keluarga cukup terkejut atas perhatian dari cucu kliennya.


Mereka sempat bertanya pada tim Budiman. Pria itu menjelaskan apa kebiasaan gadis itu pada mereka. Kesepuluh orang itu mengucap banyak terima kasih pada gadis itu. Selama ini mereka tidak dianggap. Baru kali ini, ada yang memperhatikan mereka selayaknya manusia.


Bart belajar satu hal dari gadis yang kini, sedang menyuapi Rion. Tak peduli tatapan sinis dan ucapan pedas yang dilontar oleh dua menantunya.


Bart dan kedua putranya sampai malu sendiri, atas apa yang keduanya lakukan.


Sebenarnya Terra sedikit marah atas perkataan dua bibinya itu. Tapi, mendapat pembelaan dari Frans atau pun Leon. Gadis itu memilih tak peduli.


"Kau harus membiasakan bayi itu makan sendiri. Putraku usia sebesar dia sudah makan dengan baik," salah satu sindir Meita.


"Iya, jangan kau manjakan anakmu. Nanti mereka tidak mandiri," sela Patricia.


"Yang menyuapi Terra sendiri memakai tangannya sendiri, tak pakai tenagamu. Diam dan makan lah!" hardik Frans.


"Jika kalian masih ribut dengan hal-hal sepele. Aku pastikan kalian berdua pulang malam ini juga dengan pesawat ekonomi," ancam Leon datar.


Keduanya diam. Terra pun tak peduli. Bart akhirnya memilih makan dengan lahap. Pria itu memuji masakan Terra yang lezat.


"Masakanmu enak sayang."


"Terima kasih Grandpa," saut Terra sembari tersenyum manis.


Sebenarnya, Patricia dan Meita memuji masakan Terra dalam hati. Hanya, hati mereka masih hitam jadi, keduanya masih gengsi untuk memuji kemenakan suaminya ini.


Makan sudah usai setengah jam lalu. Bart dan dua putranya memilih menginap. Beruntung Terra memiliki tiga kamar utama.


Frans dan istri memakai kamar paling depan. Bik Romlah sudah menyiapkan kamar itu dan menyalakan mesin pendinginnya. Sedang bik Ani, menyiapkan kamar yang di tengah, dan sudah dinyalakan mesin pendingin juga.


Bart memilih tidur bersama Terra dan anak-anak. Ketiganya sudah tertidur lelap. Bart yang berbaring di sebelah Lidya, sedikit terusik. Gadis kecil itu masih mengigau. Terra sedih, mendengar igauan Lidya yang belum juga hilang. Walau tidak sesering dahulu.


Bart menanyakan apa yang terjadi. Pria besar itu memeluk hangat gadis kecil yang merengek. Lidya tenang setelah merasa nyaman.


Terra menceritakan masa kelam, putra dan putrinya. Bart tercengang, sebisa mungkin ia menahan emosinya, ketika mendengar cerita Terra.


Ia menyesal kenapa, putranya Ben membiarkan tiga anaknya disiksa oleh istri simpanannya. Bahkan bayi seusia Rion pun tak luput dari siksaan wanita keji yang sudah meninggal itu.


"Bisa ceritakan, kenapa Ayahmu meninggal dunia?" tanya Bart.


"Ayah meninggal kecelakaan tunggal di jalan bebas hambatan. Mobilnya slip karena badai dan menghantam dinding tebing setelah menabrak pembatas jalan," jawab Terra dengan suara serak.


"Ibu mereka tewas di tempat dengan kepala terbelah dua. Ayah meninggal di rumah sakit," lanjutnya lagi.


Terra mengangguk. Gadis itu sedikit heran dengan tanggapan kakeknya itu.


"Kenapa, Kek?"


"Ayahmu adalah pengemudi handal. Ia bisa mengendalikan mobil dalam kecepatan tinggi saat badai salju sekali pun," jelas Bart.


"Ayahmu seorang stuntman, ia mendirikan sebuah perusahaan khusus untuk itu. Bahkan Ayahmu, mampu meloloskan sebuah truk bermuatan minyak dari pusaran angin ****** beliung, saat usianya baru menginjak empat belas tahun," jelasnya lagi.


"Mungkin, saat ini, Ayah sedang apes, Grandpa," sela Terra.


Bart menggeleng. Pria itu yakin dengan apa yang ia katakan.


"Apa, kau sudah memeriksakan semuanya?" Terra menggeleng.


"Polisi tidak memberitahukan mu apa pun?" Terra lagi-lagi menggeleng.


Namun sejurus kemudian, ia mengendikkan bahu tanda tidak tahu.


"Waktu itu Te, tidak berpikir apa-apa selain tiga anak ini. Te shock, Grandpa," jelasnya.


Bart pun mengerti. Ia menjulurkan tangan mengusap lengan cucu perempuannya.


"Tidur lah sayang. Grandpa lelah," ajaknya kemudian.


"Good night, Grandpa."


"Night sweetie."


"Bu bait, Benpa."


Tiba-tiba Rion menyahut, lalu kembali tertidur. Bart terkekeh mendengar perkataan lucu bayi itu. Ia menciumi kening ketiganya satu persatu. Lalu, membuat kiss bye pada Terra.


"I love you, dear."


"Babowu pu!" saut Rion.


Terra menahan tawanya. Rupanya, bayi itu belum begitu terlelap dan masih mendengarkan mereka berbicara. Bart hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Tangannya mengusap kepala Rion, agar cepat tertidur. Sejurus kemudian mereka pun akhirnya tertidur.


bersambung.


hadeh Rion ... masih aja bikin cerita.


next?