TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BELI MOBIL BARU



Minggu sore, Terra kembali mengajak keluarga kakeknya jalan-jalan. Lagi-lagi Meita tidak ingin satu mobil tapi tak ingin tinggal di rumah, hingga membuat Frans kesal bukan main. Terra tak masalah.


Gadis itu kembali memesan mobil daring untuk membawa uncle Frans dan istrinya. Sedang dalam mobilnya, Leon berserta istri diminta untuk memangku Lidya. Leon menyanggupinya. Darren duduk diapit oleh Leon juga Patricia.


Sebenarnya, Patricia ingin menyuruh Darren duduk di pinggir. Tapi, melihat tatapan dingin dan datar dari suaminya, ia pun pasrah. Lidya yang memang gampang akrab dengan siapapun, tidak merasa keberatan dipangku oleh Leon. Pria itu selalu mendaratkan ciuman pada pucuk kepala gadis kecil itu.


Terkadang, ia mengeratkan pelukannya saking gemasnya. Hingga perbuatan pria itu mendapat protes dari Lidya. Hingga Leon meminta maaf pada gadis kecil itu dan berhenti mengganggunya.


"Kau sekolah di mana Darren?" tanya Leon dalam logat bulenya.


"Public Alementary schoo," jawab Darren.


"Oh ... SD negeri," saut Leon mengerti.


"Antel bisya balasa Indonesia?" tanya Lidya.


"Bahasa, sayang. Bukan balasa," ralat Terra sambil fokus pada jalan.


"Iya, matsudna betitu," saut Lidya.


Rion yang berada dalam pangkuan Bart, hanya diam sedari tadi melihat jalan dengan serius. Terra sengaja tak menyetel lagu di audio.


"Why don't you put on some audio music?" pinta Patricia sedikit kesal.


"Sorry but the songs in the audio are only Indonesian children's songs," jawab Terra.


"Oh," jawab Patricia singkat.


" So what if it's an Indonesian children's song?" (jadi kenapa memang kalau lagu anak-anak Indonesia?) tanya Bart tiba-tba.


Terra memonyongkan bibir ke arah Rion. Bart langsung teringat acara karaoke yang membuat semua harus menahan tawa. Maka pria itu pun berhenti meminta Terra untuk memasangkan musik.


Terdengar helaan bosan keluar dari mulut Rion. Terra tak berani bertanya. Ia masih sayang nyawa. Jika Budiman yang menyetir mungkin pria itu bisa tahan seharian mendengar Rion bernyanyi. Tapi, Terra tidak. Gadis itu tak akan sanggup.


Mobil berhenti di sebuah showroom mobil. Semua terkejut ketika Terra memberhentikan mobilnya di tempat ini.


Terra menyuruh semuanya, turun. Mobil daring yang ditumpangi Frans dan istrinya juga sudah sampai. Keduanya juga turun dalam keadaan bingung.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Frans bingung.


"Aku tak tahu," jawab Leon sambil mengendikkan bahu.


"Ayo masuk," ajak Terra.


"Waw bobim bawu!" seru Rion senang.


"Baby mau mobil baru?" tanya Terra.


Bayi itu mengangguk kesenangan. Terra menurunkannya. Rion langsung menuju mobil yang dari tadi menjadi pusat perhatiannya.


Sebuah Mercedes Benz keluaran terbaru berwarna merah.



"Ma!" panggil Rion antusias.


Terra tersenyum. Gadis itu mendekati bayi montok. Begitu juga semuanya.


"Untuk apa kau menanyakan mobil itu pada Rion, Terra?" tanya Bart.


Terra hanya tersenyum. Gadis itu menyamakan tingginya dengan Rion.


"Boweh!" jawab Rion tegas.


"Mba!" panggil Terra pada customer service.


Seorang gadis datang dengan senyum ramah. Semua masih tak mengerti apa maksud Terra.


"Kalau saya bawa sekarang juga mobil ini apa bisa?" tanya Terra.


"Bisa, Mba, tapi surat-suratnya belakangan, nggak apa-apa?' tanya CS bernama Dinda.


"Tidak apa-apa, soalnya saya mau bawa langsung," jawab Terra tidak keberatan.


"Apa kau membeli ini Terra?" tanya Bart tidak percaya.


Pria itu tahu harga mobil C 200 Cabriolet AMG Line: seharga Rp 1.315 milyar. Pria ini tidak ingin cucunya terlilit hutang.


Meita mencibir. Frans mencoba untuk membayar mobil itu, tapi langsung ditolak Terra.


"Mba, mau bayar cash atau kredit?" tanya CS Dinda.


"Cash, Mba. Tolong urus semua suratnya segera dan langsung dikirimkan ke rumah saya ya," pintanya tersenyum sambil menyerahkan kartu hitam dari dompetnya.


Bart, Frans, Leon, Meita dan Patricia terkejut dengan kartu unlimited milik Terra. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kartu khusus tersebut.


Kartu itu bisa mengeluarkan uang senilai lima miliar sekali transaksi dalam tempo tidak sampai lima menit. Bart tidak membayangkan betapa kaya raya cucunya saat ini.


"Mobil sudah siap Nona. Ini semua hasil bukti transaksinya," ucap CS Dinda ramah.


Sebuah kunci mobil berada di tangan Terra.


"Kak Budi!" panggilnya.


Sosok yang dipanggil datang. Terra melempar kunci mobil itu pada bodyguardnya yang langsung ditangkap oleh Budiman.


"Tolong bawa Uncle Frans dan istrinya dengan mobil ini," titah Terra.


"Baik, Nona!" saut Budiman.


"Mari, Tuan, Nyonya," ajak Budiman pada Frans dam Meita.


Bart hanya terbengong saja. Pria itu kembali duduk di kursi penumpang di mobil Terra. Frans tidak ingin duduk bersama istrinya. Ia ingin naik mobil bersama Terra dan anak-anak.


Akhirnya, Patricia dan Meita menaiki mobil yang baru dibeli oleh Terra, yang disupiri oleh Budiman. Mereka semua pergi ke sebuah mall besar yang ada di kota itu.


Terra bermaksud untuk memanjakan anak-anak untuk bermain sekaligus makan malam bersama keluarga.


Di mall, Terra pun seperti tak sayang menghamburkan uang untuk membeli baju dengan branded ternama untuk kakeknya.


Bahkan ia menghadiahkan sebuah cincin bermata blue safir yang bernilai fantastis untuk Bart.


Meita makin mencibir gadis itu. Frans dan Leon meyakini jika Terra pasti memiliki sesuatu yang mereka tidak tahu. Keduanya hanya menunggu. Kejutan apa lagi yang disuguhkan kemenakannya itu.


bersambung.


gelo deh ... halu othor ketinggian.


next?