TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PENGAJIAN



Pagi hari. Semua orang sibuk menggelar tikar. Terra sedang menyusun barang-barang yang akan dijadikan hadiah untuk anak-anak yatim-piatu dibantu oleh Gabe, David dan Gisel.


Kali ini Terra mengundang lima ratus anak yatim-piatu dari berbagai panti asuhan di wilayahnya.


Bart dan lainnya juga membantu Terra memasukkan uang dalam amplop, untuk dibagikan buat anak-anak yatim nanti.


Bart sempat bertanya kenapa, gadis itu harus melakukan hal merepotkan seperti itu.


"Kenapa kita harus sibuk seperti ini. Kenapa tidak kasih saja langsung ke badan amal, biar mereka yang urus?!"


"Memang bisa juga seperti itu, Grandpa. Tapi, Te ingin juga berbagai kebahagiaan pada anak-anak kurang beruntung itu. Sekalian untuk sedekah Te," jelasnya.


Bart kemudian mengangguk. Mungkin acara pernikahan umat Islam harus seperti ini. Pikirnya. Pria itu hanya mengikuti apa keinginan gadis itu.


"Nanti, Grandpa dan lainnya duduk di sini ya," ujar Terra memberi tahu.


Tempat duduk mereka agak menjorok ke belakang. Terra tidak menjadikannya satu lingkaran. Bart lagi-lagi bertanya.


"Kenapa kau memisahkan kami dari yang lain?"


"Karena kita beda majelis, Grandpa. Doa kita berbeda. Grandpa tak mungkin mengikuti doa yang sama dengan Te, kan?" jawab Terra lagi.


"Jika Te, memasukkan Grandpa satu lingkaran dengan kami. Grandpa mau tak mau ikut doa ala kami," jelas Terra lagi.


Akhirnya Bart mengerti. Pria itu sangat memahami perbedaan agama mereka dan ia pun tidak lagi mempermasalahkannya.


"Apa Haidar akan datang juga?" tanya Leon.


"Mereka sebentar lagi datang, Uncle," jawab Terra.


Benar saja. Keluarga Pratama pun datang. Mereka langsung masuk dan duduk di hadapan keluarga Terra. Haidar mengulas senyum. Pria itu menatap gadis yang kini mengenakan hijab dan gamis warna putih dengan motif kembang. Sangat cantik.


Acara pun dimulai. Anak-anak yatim piatu sudah mulai berkumpul. Terra juga mengundang ustad setempat, untuk memimpin acara.


Acara dimulai dengan pembaca ayat suci Al-Quran. Darren memberanikan diri untuk membaca dua ayat Al-Qur'an. Terra terharu mendengar lantunan merdu suara putranya ketika mengaji.


Kemudian acara berlanjut dengan tausiyah tentang pernikahan. Terra dan Haidar banyak sekali mendapat wejangan di hari itu.


Acara terus bergulir. Berlanjut pada acara makan-makan. Para pengawal ikut mengatur anak-anak mengantri mengambil makan. Sedang untuk tuan rumah dan keluarga Pratama. Terra sudah menyiapkan sendiri di taman belakang.


Bart begitu terharu ketika melihat anak-anak yatim-piatu begitu lahap memakan makanan. Tampak sekali mereka menikmati makanan yang lezat setiap harinya.


"Seperti yang Grandpa bilang tadi. Kita juga ada majelis yang mengurus itu semua. Jadi kita tinggal memberi donasi kita dan mereka yang akan menyalurkannya," jawab Terra.


Bart mengangguk. Acara pun berakhir. Terra, Haidar dan keluarga berdiri berjejer. Terra membagikan amplop berisi uang dan Haidar membagikan bingkisan pada anak-anak itu.


Bart makin semringah ketika punggung tangannya dicium oleh anak-anak berbagai usia itu. Mengusap kepala mereka dengan lembut.


Setelah semuanya pulang. Para pekerja mulai membereskan ruangan. Terra memesan jasa cleaning servis online sebanyak sepuluh orang.


Bram dan Bart tengah berbincang di taman belakang. Anak-anak sedang bermain bersama.


Semuanya asik sampai-sampai mereka tidak tahu, jika tiba-tiba Terra menghilang dari rumah.


"Mama!" panggil Lidya ketika ia tak menemukan di mana ibunya berada.


Di sanalah semuanya panik. Budiman juga ikut menghilang begitu juga Haidar. Semua kaget.


Nampak Bram sendang menelpon Haidar. Namun ternyata ponselnya ada di kantung jasnya sendiri.


"Loh kok, ponselnya ada di sini?" serunya bingung.


Hanya Darren yang nampak tenang. Sepertinya ia tahu kemana ibu, ayah dan pengawalnya pergi.


"Kita main lagi yuk," ajaknya pada dua adik juga kakaknya, Raka.


Anak-anak pun kembali bermain. Sedangkan semua orang dewasa ribut mencari tiga orang yang menghilang mendadak.


Virgou yang melihat anak-anak asik bermain langsung memahami sesuatu.


"Tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Anak-anak masih asik bermain, terlebih Darren yang memiliki insting tinggi," simpulnya.


Pria itu akhirnya membiarkan yang lain kalang kabut. Virgou mendatangi anak-anak dan ikut bermain bersama mereka.


bersambung.


walah kemana tiga orang itu ya?


next?