
Tiga hari sudah Frans pulang ke Eropa untuk mengurus beberapa berkas yang belum terurus.
Virgou kini bersama sang kakek. Pria itu ingin membeli ponsel pintar ciptaan Darren juga ponsel yang membantunya untuk mengecek pergerakan data juga saham. Mereka kembali bertemu dengan customer service cantik, Puspita Hasan.
Gadis itu sekarang mengenakan baju formal seragam khas perusahaan cyber. Kemeja putih dengan kerah berenda di lapisi blazer warna biru langit dan rok span di bawah lutut warna senada dengan blazer. Gadis itu makin manis, dengan rambut dicepol kecil. Poninya ia sampirkan ke samping. Lehernya berhias scraf bercorak abstrak warna navi dan putih juga kuning pucat, terikat berbentuk pita.
Wajahnya yang oval, kulitnya yang sawo matang. Matanya bulat dan jernih dengan iris hitam pekat. Dihiasi bulu mata lentik alami yang tebal dan sepasang alis yang berjejer rapi tanpa bantuan pensil alis.
Make up tipis dan natural. Mungkin gadis itu hanya mengenakan bedak dan lipstik tanpa perona pipi juga mata yang mencolok. Benar-benar natural. Virgou sampai terpana melihatnya.
Jantung pria itu berdebar luar biasa. Tak pernah ia merasakan hal seperti ini. Senyum manis terpampang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang kembali, Tuan Dougher Young," sapanya ramah.
"Ah, terima kasih, Pus ... ah, maksudku Ita," sahut Bart membalas sapaan gadis manis itu.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya Puspita lagi masih dengan senyum ramahnya.
Virgou meneliti, jika senyum gadis itu tercetak lesung pipit samar.
'Cantik sekali,' pujinya dalam hati.
"Begini, saya ingin membeli BraveSmart ponsel dan Data ponsel," ucap Bart.
Mereka duduk di sebuah sofa. Dua cangkir teh manis menemani mereka. Di sini pelayanannya benar-benar memuliakan tamunya.
"Baik, sebentar. Saya ambilkan dua ponsel tersebut. Silahkan diminum tehnya Tuan," ucap Puspita menunduk dan meninggalkan mereka.
Tujuh menit kemudian, gadis itu kembali membawa dua buah box tersegel dan dua dummy ponsel serupa. Juga beberapa flyer penjelasan dua benda tersebut.
"Ini dummy dua ponsel yang anda minta, Tuan," ucap Puspita menyerahkan mainan tersebut ke arah Bart.
Ia pun duduk di depan dua pria itu dengan sopan dan elegan. Menyerahkan dua flyer pada Bart dan Virgou. Tentunya dalam bahasa Inggris.
"Sebenarnya, jika anda memiliki BraveSmart ponsel. Anda tak perlu lagi memiliki ponsel data. Karena di BraveSmart sudah ada applikasi penunjang untuk mengetahui perkembangan data dan pergerakan saham," jelas Puspita lagi.
"Ah, seperti itu," sahut Bart sambil membaca brosur di tangannya.
Mata Virgou lekat memandangi wajah Puspita. Gadis itu jadi salah tingkah, tapi, ia menahan semuanya. Ia meremas jari jemarinya karena gugup.
Virgou kini tahu kelemahan Puspita. Ia berdiri dan pindah posisi duduk di sebelah gadis itu. Puspita makin gugup. Sebisa mungkin ia menekan kegugupannya. Ia menjelaskan secara detail kinerja BraveSmart ponsel. Bart hanya menggeleng melihat tingkah laku cucu playboy-nya satu itu.
Pluk!
"Jangan sembarangan, godain anak gadis orang, Kak!"
Terra menepuk tangan Virgou dan duduk di sebelah pria itu. Virgou hanya tersenyum penuh arti. Ia menaik-turunkan alisnya.
"Yang di sebelah Kakak itu, maunya langsung dinikahi, Kak. Bukan dipacari," sahut Terra sambil nyengir.
"Nona ...," Puspita malu bukan main.
Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Atau seperti tomat. Ia tidak tahu lagi. Ia pasrah jika diledek oleh atasannya. Puspita menyandarkan punggungnya.
Siapa kira tangan Virgou yang menjulur di atas sofa, seakan-akan merengkuh bahu gadis itu.
Melihat wajah seorang gadis yang penuh kepasrahan membuat, Virgou mengerang. Sungguh ia ingin menyambar bibir yang sedang mengerucut sebal itu.
'Jika ini kamar. Aku sudah membuatmu ...," Virgou menghentikan pikiran mesumnya.
"Baiklah, aku ingin membeli kedua ponsel itu. Bagaimana denganmu, Grandpa?" tanya Virgou.
"Aku juga membeli lima ponsel ini dan dua ponsel BraveSmart," ucap Bart enteng.
Puspita langsung duduk tegap. Wajahnya cerah. Bonus menanti dirinya. Ia butuh uang itu. Ayahnya masuk rumah sakit tadi pagi.
"Baik, Tuan. Silahkan tunggu, saya akan ambil barang-barangnya," ujar Puspita semringah.
Gadis itu bangkit dengan wajah berbinar. Terra hanya tersenyum melihat perubahan drastis wajah Puspita. Hanya butuh sepuluh menit. Gadis itu membawa ponsel yang di minta.
Sepasang mata menatap Puspita sinis. Ia meruntuki keberuntungan gadis itu.
"Mestinya gue yang ngelayani tamu-tamu tadi. Kenapa sih Ita nggak manggil gue? Dasar serakah!" sungut salah seorang customer service.
Ketika awal Bart datang bersama dua putranya bersama Virgou. Gadis itu yang melayani mereka. Tapi, Ia banyak mengeluarkan ******* hingga membuat keempat pria itu jijik. Terlebih ia sengaja membuka tiga kancing kemejanya yang ketat, hingga terlihat belahan dua gundukan.
Bart meminta ganti CS karena merasa risih. Gadis itu ditegur keras oleh kepala pelayanan. Ia dilarang untuk melayani customer selama satu bulan.
Ia hanya boleh membuka pintu mengucap salam datang dan salam pergi. Hukumannya memang sudah berakhir. Tadi, dia menyuruh Puspita menggantikannya bertugas dengan alasan sakit. Padahal ia sengaja tidur di ruang istirahat, kerena malas.
Kini Puspita mendapat berkah tak terhingga karena tak pernah menolak rejeki. Teman sejawatnya berhalangan dan menyuruhnya menggantikan. Maka ia lah yang mendapat bonusnya.
"Awas Lo. Gue bakal kasih perhitungan ke Lo nanti," ancamnya dengan seringai licik.
Jam pulang kantor sudah datang. Semua mulai sibuk membereskan meja kerja mereka. Ada sedikit rapat di ruang customer service, rapat yang membuat salah satu karyawannya makin iri.
"Selamat buat Puspita. Hari ini berkat dia, kita semua kecipratan bonus!" ungkap manager divisi pelayanan publik semringah. "Beri tepuk tangan yang meriah!"
Semua bertepuk tangan sambil mengucap selamat dan terima kasih. Di sini lah enaknya bekerja dengan tim. Jika salah satu rekan mereka memenuhi target. Maka seluruhnya mendapat bonus walau tidak sebanyak CS yang mencapai target.
Puspita hanya mengucap hamdalah. Biaya rumah sakit ayahnya pun teratasi. Ia merasa lega bukan main.
"Kalau gitu bisa dong kita pesta-pesta di restoran, Puspita yang bayarin," sahut Gea memberi ide dengan seringai sinis.
"Aduh, maaf. Bukannya saya pelit atau apa. Tapi, saya butuh uang itu, jadi maaf. Saya tidak bisa menyanggupi pestanya," ucap langsung Puspita dengan nada menyesal.
"Halah, bilang aja Lu pelit, Ta!" sengit Gea. "Emang keperluan apa sampai ngabisin bonus lu yang nyampe tujuh digit itu!"
"Sekali lagi maaf, ya. Untuk kali ini," ucap Puspita dengan nada penuh permohonan.
"Udah nggak apa-apa. Lagian kita juga dapet bonusnya kok. Kita bisa makan pake uang kita sendiri," sahut Anne menengahi.
Semua mengangguk setuju. Tapi, Puspita tak bisa bergabung, ia harus segera pulang. Ibunya sendirian di rumah sakit menunggui ayahnya.
Semua rekannya memaklumi, kecuali Gea. Gadis itu selalu melontarkan sindiran pedas pada Puspita.
Gadis itu cuek dengan segala ucapan dan ledekan Gea. Ia segera mengganti bajunya. Melangkah lebar menuju parkiran. Sedari tadi ibunya sudah menghubungi, menanyakan kepulangan gadis itu.
Terra melihat salah satu karyawan terbaiknya melangkah buru-buru. Ia sedikit bingung yang melihat raut karyawannya itu penuh kecemasan.
"Kak Ita kenapa ya?"
"Kenapa, sayang?" tanya Haidar sambil membukakan pintu untuk istrinya.
Hari ini sang suami datang ke ruangannya. Pria itu mengatakan mobilnya bermasalah. Jadi ia ingin bersama sang istri.
Budiman tetap menjadi supir gadis itu. Terra duduk di belakang sedangkan Haidar berada di sisinya.
"Mas, boleh ikutin Kak Ita, nggak?" pinta Terra.
"Emm ... boleh. Bud kejar motor tadi kalau kau bisa!" titah Haidar.
Dengan sigap. Budiman melaksanakan titah dari atasannya itu. Dengan kecepatan dan teknik balap profesional. Mobil Terra mampu mengejar kecepatan motor yang ditunggangi Puspita.
"Itu motornya!" pekik Terra.
Motor itu tiba-tiba dihadang sebuah mobil hitam. Beruntung Puspita mampu mengerem mendadak. Enam pria keluar salah satu di antara mereka membawa pemukul baseball.
Puspita turun tanpa melepas helm. Terra melihat sekeliling, benar-benar sepi. Budiman tiba-tiba menekan klakson.
Enam pria tersebut terkejut bukan main. Tapi, mereka tiba-tiba langsung menyerang Puspita.
bersambung.
Nah ... loh! main keroyok di depan Terra?!
Next?