
Terra dan Haidar sudah sampai di rumah mereka. Anak-anak sudah terlelap dalam mobil. Darren membantu ayah ibunya mengangkat semua adik-adiknya bersama Gio dan Juan yang ikut membantu.
"Babamu sudah pulang, Nak?" tanya Haidar sambil menggendong Rion masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah tadi, Pa. Baba, sedikit kelelahan, tadi kami ke proyek yang ada sedikit masalah di sana. Ada kericuhan hingga Baba mesti menggunakan kekuatan Hulk-nya," seloroh Darren.
Haidar terkekeh mendengarnya. Ia mengingat Affhan yang menjuluki pria pengawal putranya kini sebagai tokoh Marvel raksasa hijau itu.
"Ya, jika marah kekuatannya seperti Hulk," sahut Terra juga terkekeh.
Haidar dan Darren memandang Terra penuh arti. Keduanya tersenyum lalu mengangguk membenarkan.
"Kamu sudah makan malam, Nak?" tanya Terra lalu mencium kening putranya itu.
"Sudah Ma," jawabnya.
"Ma, Darren boleh curhat berdua nggak sama, Mama. Please," pintanya memohon.
Terra menatap suaminya. Haidar pun mengangguk Ia yakin, jika putranya sedang ingin berduaan dengan ibunya, mencurahkan segala kegundahannya. Terutama perihal pengangkatannya nanti sebagai CEO menggantikan Gabriel.
Haidar pun pergi ke ruang kerjanya, ada beberapa berkas di email yang belum ia periksa. Bobby tengah melakukan perjalanan ke luar kota B menggantikannya. Pria itu akan melakukan meeting secara daring,.
Terra masuk kamar remaja yang kini sudah berubah seleranya. Dinding kamar berwarna coklat bergradasi dengan orange. Menandakan jiwa pemilik kamar yang tenang seperti senja. Bahkan lukisan di dekat jendela bergambar matahari tenggelam.
"Ma,.tadi Mama habis dari mana?" tanya Darren langsung ketika tubuh mereka sudah berbaring di ranjang.
"Di mansion Daddy kamu," jawab Terra dengan kening berkerut. Wanita itu lupa dengan pertemuannya dengan Aden di kantin.
"Iyalah?" tanya Darren setengah menyelidik.
"Iya. Kenapa sih, apa kamu mencurigai Mama?" tanya Terra sedikit emosi.
"Enggak Mama..Mana berani, Darren mencurigai Mama. Emang apa yang Mama perbuat yang mesti Darren curigai?" sahut Darren berputar-putar.
Terra sedikit menghela napas panjang. Ia masih belum paham dengan maksud putranya.
"Darren ingat kata baby Ion dulu. Panan bolon, tamu belbosa," jelas remaja itu mengingat perkataan Rion.
Terra tiba-tiba tercerahkan. Wanita itu membelalakan matanya tak percaya, jika kenekatannya diketahui putranya.
"Sayang," panggil Terra meyakinkan.
Darren tertawa jahil. Ia mengenal ibunya sangat baik. Gelagat Terra yang sedikit aneh dan pakaiannya yang sedikit nyentrik, menjadi kunci kecurigaannya. Lalu, ia melihat BraveSmart ponsel miliknya sebentar. Kecurigaannya pun benar. Ibunya menaiki motor trail milik Mommy yang disandera Daddy-nya.
"Mama sama Mommy kerja sama ya?" tanya Darren lagi ingin tahu.
"Nggak, Mama yang merayu Mommy kamu buat mencari kunci yang disembunyikan Daddy," jelas Terra sambil setengah berbisik.
"Ngapain Mama ketemu sama Om Aden?" tanya Darren ingin lebih banyak tahu.
"Dari mana kamu ... ah BraveSmart itu ternyata," keluh Terra.
Darren terkikik geli melihat wajah bersalah ibunya. Padahal, jika pun jujur ingin bertemu dengan wakil direktur perusahaannya itu, juga tak ada yang melarang.
"Mama, sengaja melarikan motor trail milik Mommy-mu, karena memang malas dikawal, trus Mama kangen kebut-kebutan di jalan," jelas Terra dengan nada sedikit menyesal. "Mama juga masih penasaran dengan kisah Alya itu."
Darren hanya menggeleng kepala tak percaya dengan kelakuan ibu yang semestinya adalah kakak satu ayahnya itu.
"Mama terlalu cepat nikah sama Papa. Jadi kurang menikmati hidup ya?' tuduh Darren.
""Hei, itu tuduhan tak mendasar. Mama yang emang ingin cepat menikah dengan Papamu. Dari pada diambil cewek lain!" sangkal Terra tak terima.
"Papamu itu ganteng, udah ganteng kaya raya, mapan trus cinta sama Mama," jelasnya lagi dengan percaya diri.
"Iya deh ... iya. Darren juga kalo Mama nggak jadi sama Papa, juga nggak bakal nerima pria mana pun selain Papa," jelas Darren juga.
"Oh ya kenapa begitu?'' tanya Terra ingin tahu.
"Takut Mama nggak lulus-lulus dibikin Papa!" ujar Darren berkelakar.
Terra tertawa lalu memukul gemas lengan remaja yang kini ketampannya menguar itu. Ia pun mencium kening putranya sayang.
"Mama, sayang kamu, Nak," ungkap Terra tulus.
"Sekarang, apa ada gadis yang kau taksir?" goda Terra bertanya.
"Ah ... ayo lah Ma. Bagaimana aku bertemu dengan gadis itu jika Baba Budiman selalu di sisiku?' tanya Darren lagi dengan nada malas.
Terra terkikik geli. Ia pun kembali mencium putranya yang tingginya sudah melebihi dirinya itu. Bahkan, kini Darren telah membentuk otot-otot di tubuhnya dengan latihan bersama instruktur Gym bersama Haidar, Virgou dan Herman.
"Sekarang tidur lah," titah Terra lalu bangkit dari ranjangnya.
Ia membenahi selimut putranya. Kembali mencium kening Darren.
"Selamat tidur, sayang."
"Selamat tidur Mama."
Terra memindahkan lampu ruang dengan lampu tidur. Kemudian menutup pintu. Wanita itu melihat jika ruang kerja suaminya masih menyala. Bertanda pria itu belum selesai pekerjaannya.
Terra turun ke bawah membuat dua cangkir kopi untuknya juga suaminya. Setelah itu, ia membawanya dengan nampan ke lantai atas di mana suaminya bekerja.
Ia membuka pintu, bertepatan dengan wajah Haidar yang tersenyum menatapnya, lalu memberi tanda angka dengan jarinya. Memintanya untuk menunggu.
Terra meletakkan dua cangkir kopi di atas meja lalu ia duduk di sofa dan mengambil majalah di kantung sebelah kursi. Berapa artikel tentang keberhasilan Darren dalam mengembangkan proyek penguat signal di lautan lepas. Kini Ocean Internet ide bisnis Darren juga merambah ke kapal pesiar. Ia tersenyum bangga akan kegeniusan putranya itu.
Haidar pun telah selesai melakukan meeting dengan beberapa kolega yang ada di luar negeri. Pria itu menutup laptop setelah mematikannya. Lalu berjalan dan duduk di sisi istrinya.
Ia menaruh dagunya di bahu wanita yang telah memberinya sembilan anak itu.
"Putra kita hebat ya!" pujinya penuh kebanggan melihat foto Darren yang tengah berdiri memimpin rapat.
Terra mengangguk setuju. Ia begitu bangga dengan putranya itu.
"Sayang," panggil Haidar.
"Ya," Haidar mengambil majalah di tangan Terra dan meletakkannya di kolong meja.
Terra pun menghadap suaminya. Netra keduanya saling menatap. Haidar menuntut penjelasan dalam tatapannya. Terra akhirnya menghela napas panjang.
"Ah ... ketahuan juga deh," keluhnya keki.
"Apa yang ketahuan, sayang?" tanya Haidar sedikit kesal dengan kebadungan istrinya itu.
"Sayang," rengek Terra.
Wanita itu sudah tertangkap basah. Ia tak bisa membela diri. Haidar menempelkan hidungnya di hidung sang istri lalu menggesek-geseknya. Deru napas menerpa di wajah sepasang suami istri itu.
"Kau sudah mengendarai motor tanpa ijin, pergi menemui lelaki lain di belakang suamimu ...."
"Te bilang kok kalo mau ketemu Kak Aden!" sela Terra membela diri.
Cup! Haidar mengecup bibir istrinya.
"Diam!" titah Haidar. Ia lupa akan hal itu. Terra sudah minta ijin dan ia telah mengijinkannya.
"Kau harus kuhukum!" sahut Haidar gemas.
Terra hendak menyela ucapannya, tetapi sejurus kemudian bibir itu tak bisa berucap satu pembelaan apa pun karena telah disumpal oleh mulut suaminya.
Sedangkan di mansion. Kamar Puspita menjadi panas karena sang suami menghukum istrinya hingga menjeritkan namannya.
"Kau mau saja dirayu oleh adikku dan membawa motor itu?" tanya Virgou gusar lalu mengigit sayang leher istrinya.
"Mas!" pekik nikmat Puspita. "Aku tak tahan!"
Maka terjadilah penggempuran habis-habisan hingga keduanya terkulai lemas.
bersambung.
eeeummm ... mereka ngapain sih?
othor kan volos! ðŸ¤
next?