
Lagu Mandul selesai. Terra menghela napas lega. Sedang Khasya, Puspita dan Seruni mengelus perut mereka yang kram. Semua bertepuk tangan.
"Matasih ... matasih ... matasih!"
Bomesh membungkuk hormat. Sedang yang lainnya sudah menguap menahan kantuknya.
"Udah dulu ya, nyanyinya. Nanti lanjut lagi," ujar Herman menghentikan kegaduhan yang barusan tercipta.
Empat perusuh itu menurut. Harun pun kini dalam gendongan Kean. Bayi itu pun tertidur dalam dekapan remaja itu.
Semua anak masuk kamar. Herman menghela napas panjang.
Terra, Seruni dan Puspita juga Gisel masuk ke kamar mereka. Demian duduk di sebelah ayah mertuanya.
"Pa," panggilnya manja.
"Ih ... kok manja gitu sih!" ledek Darren.
"Biarin!" sungut Demian kesal.
"Ada apa?" tanya Haidar sambil terkekeh.
"Dulu waktu mama hamil, kok bisa papa sih yang ngidam?" tanya pria itu.
Darren pun mengangguk setuju. Ia sedikit kasihan pada istrinya yang mengalami trimester pertama kehamilannya itu.
"Papa nggak tau sayang. Tapi, itu lah yang terjadi. Tanya babamu, dialah korban ketika papa ngidam!"
Budiman mengangguk membenarkan. Darren yang mengetahui kejadiannya pun terkekeh.
"Darren ingat. Waktu itu malam-malam baba masak nasi goreng buat papa!' selanya.
"Emang Baba bisa masak?" tanya Demian tak percaya.
"Kau meragukanku?" sungut Budiman kesal.
"Aku hanya bertanya Baba!" sela Demian terkekeh.
"Nanti aku minta sarapan nasi goreng baba ah," ujar Darren kemudian.
"Aku juga mau!" sahut Demian.
Darren tadinya ingin memberitahu perihal hamil kembar istrinya. Tapi, pria itu memilih merahasiakannya. Ia ingin membuat kejutan.
Sedang Demian. Lidya meminta suaminya itu tak membicarakan soal kehamilan kembarnya. Bahkan pria itu dilarang oleh sang istri perihal usia kandungannya.
"Iya pengen begitu anak Iya lahir, baru semuanya tau!''
Begitu pesan dari istrinya. Demian hanya menurut. Pria itu paham. Terlebih semuanya sangat menyayangi Lidya, istrinya. Tentu Demian tak mau membuat semuanya khawatir.
"Oh ya, bagaimana kehamilan Lidya. Apa susah ngidamnya?" tanya Khasya.
"Ya, begitu lah Bun. Namanya juga ibu ngidam," jawab pria itu.
Bart berdecak. Virgou mencibir suami putrinya itu. Haidar menatap sinis menantunya.
"Ayo lah Pa, Ayah, Daddy, Grandpa, Papi ... percaya kan Lidya padaku. Oteh!"
"Ck ... dia itu putri kesayangan kami. Tentu kami khawatir dengan kondisinya," sahut David gundah.
"Iya, aku tau kalian sangat menyayangi istriku," sahut Demian tenang.
"Tapi percayalah. Aku juga sangat menyayangi Lidya, karena dia adalah nyawaku," lanjutnya.
Haidar mengangguk, ia menepuk bahu menantunya.
"Kami akan menanti calon perusuh baru di hunian kami!" ujarnya tak sabar.
"Aku penasaran. Apa bibit Dougher Young yang kuat atau Starlight!" seru Dav semangat.
"Wah ... tentu saja bibir bibit Dougher Young yang paling kuat. Lihat putramu Azha, bayi itu mirip aku kan!" sahut Bart bangga.
"Ya kan bibitnya memang dari Dougher Young," sela Demian santai.
"Aku yang menghamili Lidya. Jadi pasti anak yang ada dalam kandungannya mirip aku!" lanjutnya sombong.
"Hai ... jangan ngomong gitu! Nggak baik!" tegur Khasya.
Demian hanya meringis. Berkumpul dengan keluarga yang sableng membuat dia berubah menjadi sableng. Sosok dingin dan tenang, hilang jika ia berkumpul dengan saudara istrinya itu.
Sore menjelang. Semua orang sudah mandi dan wangi. Acara di lanjutkan Benua, Domesh dan Sky belum bernyanyi.
Azha sudah merambat kemana-mana. Bayi berusia sembilan bulan itu juga mulai mengoceh tak jelas. Sedang Dua bayi Terra mulai menunjukkan keahliannya.
"Tit ... tit ... tit ... punyi bujan ... pi patas bentil ... pailna bulun ... bidat pelila ... tobalah tenot ... pahan lan pantin ... bohon lan bebun ... pasah pemua!"
Semua ikut bernyanyi lagu yang dinyanyikan anak-anak. Cemilan pangsit goreng dan rebus dihidangkan. Maid Khasya yang membuatnya. Sky antusias. Ia langsung mencomot dan memakan makanan itu.
"Putan Mama Papitli ya yan puat?" terkanya.
"Iya sayang. Mama tadi ngantuk berat jadi nggak buat," jawab Safitri.
Budiman berdehem. Sky menghabiskan pangsit yang tadi ia makan. Benua menatap adiknya. Ia tadi mau mengambil makanan itu. Tapi urung karena melihat wajah adiknya yang berubah.
"Eundat pa'a-pa'a, punda," jawab Sky dengan senyum manis.
Khasya menatap horor Budiman. Pria itu hanya mengendikkan bahu. Wanita itu penasaran. Ia mencobanya. Lalu kini ia mengerti kenapa Sky langsung bisa menerka jika masakan ini bukan buatan Safitri.
"Padahal bumbunya tadi sama loh," gumamnya pelan.
Demian memakan pangsit itu. Biasanya Sky akan marah jika ada yang mengambil makanan kesukaannya itu lebih dari satu. Tapi, bayi itu tidak memakannya lagi.
"Ini enak loh, Sky. Papa Dem habisin ya," goda pria itu.
"Iya Papa. Sty budah benyan tot!' ujarnya.
Benua, Bomesh dan Domesh juga hanya makan sepotong saja. Sudah itu mereka tidak minat untuk memakannya lagi.
"Ah, makanannya kurang enak ya?" tanya Khasya sedih.
"Enak kok Bun!" sahut Kean sungguh-sungguh.
"Kean makan tiga tadi!" lanjutnya mengaku.
"Nai juga tiga!"
"Daud dua!"
Semua menyebut berapa pangsit yang mereka makan. Memang pangsit habis dimakan oleh para remaja dan orang dewasa. Tapi tidak dengan empat perusuh itu. Mereka hanya makan satu, bahkan Bomesh membagikan pangsitnya pada kakaknya.
"Mungkin beda tangan Bunda," ujar Terra menenangkan istri pamannya itu.
"Padahal bunda sudah meminta maid sesuai resep," ujar Khasya.
"Sudah lah ... tak apa. Toh, habis juga kan?" sahut Herman menyudahi kekecewaan istrinya.
Khasya mengangguk. Makanan memang habis. Perempuan itu pun diam dan tak mempermasalahkan lagi.
"Mami Beluni pudah lama eundat pawa tue!" tegur Benua.
Seruni yang mendapat teguran itu menepuk dahinya. Kebiasaannya membawa kue buatannya berhenti semenjak ia melahirkan.
"Besok deh, Mami buatin ya!" janji wanita itu.
"Peunel ya!" ujar Benua.
"Eh nomon-nomon. Teumalin tetanda seupelah libut-libut ladhi woh!" adu Bomesh.
Domesh mengangguk. Gomesh dan Maria menghela napas.
"Aku akan mencarikan lagi rumah untuk kalian!" janji Virgou pada anak buahnya itu.
Gomesh memandang atasannya penuh harap. Kemarin ia sampai mendatangi tetangga yang ribut hingga mereka ketakutan.
"Emang ribut gimana Bom?" tanya Kean penasaran.
"Astaghfirullah, Kean!" tegur Herman gemas.
Kean terkekeh. Ia hanya senang dengan ekspresi anak bawahan ayahnya itu.
"Piya libut-libut meleta, nelualin pinatan seupeulti banjin, pabi, petan ... eum telus pa'a ladhi ya?" jawab Bomesh sambil mengingat kata-kata apa saja yang keluar dari mulut tetangganya.
"Pansat, pelenset!" timpal Domesh.
"Astaghfirullah. Besok kau pindah, sementara kau tinggal di mansionku!" titah Virgou langsung.
Mendengar kata pindah Sky menoleh pada Virgou.
"Pindah pa'a Daddy?" tanyanya ingin tahu.
"Pindah itu ganti rumah. Jadi nanti, Bomesh dan Domesh tinggal di mansion Daddy," jawab Virgou.
"Ah ... peunul bedithu?" tanyanya antusias.
"Bener!" jawab Virgou dengan senyum.
"Asit ... pita pisa peultemu teliap hali, Bom!" seru Sky senang.
Keempat perusuh itu bertepuk tangan. Mereka tersenyum lebar. Demian yang gemas bukan main menciumi mereka sampai tergelak.
"Ah, aku tak sabar menunggu bayi kembarku lahir!" celetuknya.
"Apa? Kembar?" seru semuanya kaget.
Demian melipat bibirnya ke dalam. Sedang Lidya menepuk keningnya. Akhirnya ia jujur jika memiliki janin kembar dalam perutnya.
bersambung.
yaah ... ketahuan deh! Gara-gara di rusuh empat itu.
next?