
Setelah kepergian Terra. Haidar melanjutkan langkahnya. Pria itu juga mesti menyampaikan mata kuliahnya di kelas Terra. Baru saja ia melangkah tiba-tiba tubuhnya ditabrak dari belakang.
Bug!
"Aduh!' terdengar suara teriakan.
Haidar menoleh. Matanya membelalak ketika melihat sosok yang menabraknya. Sosok gadis berbalut busana seksi dengan riasan tebal tengah mengusap dahinya.
Haidar sama sekali tak menyadari keberadaan anak ini. Sepertinya gadis itu sengaja menabraknya sambil berlari. Terlihat dari kondisi nafasnya yang sedikit terengah-engah.
"Siapa kamu, anak kelas mana?" tanya Haidar datar.
Sosok gadis itu merasa melambung. Ia ditanya oleh pria idamannya. Dengan wajah menunduk sambil curi-curi pandang. Ia pun menjawab.
"Aku Jasmine Pak, jurusan sekretaris semester dua. Nomor ponsel aku ...."
"Siapa yang nanya nomor ponsel kamu?" potong Haidar cepat.
"Kali aja, Bapak butuh ...," ucapnya terpotong lalu tangannya terjulur hendak menyentuh tangan Haidar.
Pria itu beringsut mundur, hingga tangan itu tak sampai menyentuhnya. Haidar sedikit ngeri.
"Kenapa kau berpakaian seperti itu di kampus ini? Kau sedang mangkal?" tanya Haidar sarkas.
"Mangkal? Hihihi ... emang aku ojek, Bapak bisa aja," seloroh Jasmine dengan suara genit.
Haidar makin jijik.
"Ganti bajumu, ini kampus bukan klub malam, seperti tempat mangkalmu. Tolong bedakan antara statusmu di sini sebagai mahasiswi dengan statusmu sebagai wanita penghibur di tempat mangkal mu," peringat Haidar sangat kasar dan pedas.
Pria itu langsung melangkah lebar, bisa dibilang setengah berlari meninggalkan manusia jadi-jadian itu. (Jasmine cewek asli, Pak!).
Jasmine yang disenggrang dengan kata-kata kasar oleh Haidar. Menghentak kakinya kesal. Bibirnya mengerucut layaknya cantelan wajan.
"Udah dandan cantik gini, pakaian juga seksi. Masa nggak tertarik sih. Dasar dosen buta!" pekiknya memaki.
Tiba-tiba ia menutup mulutnya. Matanya mengidar sana-sini. Takut-takut, jika ada yang mendengar makiannya barusan. Setelah yakin ia sendirian. Ia pun membenarkan letak tas Hermes limited edition-nya. di bahu. Kemudian berjalan meninggalkan lorong perpustakaan.
Mata kuliah selesai. Terra membenahi semua alat tulisannya dalam ransel. Gadis itu segera meninggalkan kampus, karena hari sudah terlalu sore. Sebentar lagi maghrib. Ia tak biasa meninggalkan anak-anak dalam jangka waktu yang lama.
Walau pun sekarang ada bodyguard yang menjaga rumah dan anak-anak. Gadis itu tetap saja gelisah.
"Sayang. Hari ini kau bersama Budiman pulang kan?" tanya Haidar. Terra mengangguk.
"Hmm ... apa kau tidak merasa terganggu?' tanya Haidar lagi.
"Emm ... sedikit sih. Tapi,, mau diapain lagi," jawabnya pasrah.
"Ah ... Mas, aku dapat surat ancaman," ujar Terra.
Haidar langsung tersikap mendengar perkataan kekasihnya. Ia langsung khawatir. Terra menyodorkan sebuah kertas yang diremas berbentuk bola.
Haidar membuka kertas itu dan merapikannya. Mengambil ponsel dan memfoto tulisan itu. Budiman yang baru mendatangi kelas Terra karena tidak melihat kliennya itu keluar kampus padahal anak-anak lain sudah keluar.
Pria itu pun memutuskan menyusul kliennya. Ia mendapati Terra dan Haidar tengah mengamati sebuah kertas.
"Tuan, Nona!' panggilnya.
"YOU NEXT!"
Tulisan itu ada percikan darah. Entah darah apa.
"Apa ini dari orang yang sama?' tanya Budiman.
"Apa maksudnya orang yang sama. Te, dapat ini pertama kali?!" tanya Terra penasaran.
"Sudah jangan bahas ini di sini. Sebaiknya kita pulang," ajak Haidar.
Ketika keluar kelas. mereka berjalan ke halaman parkir. Sepasang mata tengah mengintai. Budiman yang memiliki insting tajam berhenti. Pria itu pun menoleh arah mata yang mengintai tadi. Tidak ada satu orang pun.
"Kakak lihat sesuatu?" tanya Terra ikut memandang tempat di mana pandangan Budiman mengarah.
"Tidak ada, Nona," jawabnya penuh waspada.
Haidar merangkul gadisnya. Seakan melindungi kekasihnya dari apa pun. Setelah ketiga orang itu pergi. Sosok yang tadi mengintai mengepal tangan erat dengan rahang mengeras.
"Kita akan berhadapan langsung Terra!" ucapnya sangat pelan dengan seringai menakutkan.
Ketika di tempat parkir. Terra mendapati bangkai anak kucing berwarna hitam di dekat ban mobilnya. Gadis itu menyangka ada orang iseng yang meletakkannya.
Terra tersenyum miring. Budiman langsung menghubungi rekan yang berada tidak jauh dari lokasi untuk mengecek rekaman CCTV.
Haidar menyingkirkan bangkai kucing itu, pria itu memanggil petugas kebersihan yang kebetulan lewat. Meminta tolong untuk menguburkan bangkai anak kucing malang tersebut.
Budiman telah mendapat kiriman rekaman pengintai di sekitar halaman parkir kampus. Sayang, lokasi mobil Terra sedikit jauh dari lokasi pengintai jadi tidak begitu jelas siapa saja yang lewat.
"Sebaiknya kita segera pulang," ajak Haidar setelah membereskan bangkai anak kucing itu.
Budiman mengangguk. Terra hanya diam. Gadis itu masih mencerna semua peristiwa yang ia dapatkan. Terra hanya takut, ketiga anaknya ikut diteror.
"Nona, saya minta ijin, untuk memasang beberapa kamera pengintai di rumah anda," ujar Budiman meminta ijin.
Terra hanya bisa menghela napas berat. Sesungguhnya ia tidak begitu suka dengan kamera pengintai, karena merasa ruang privasinya terganggu.
Namun, harus bagaimana lagi. Demi keamanan anak-anaknya. Ia pun mengangguk. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"BraveSmart ponsel!" pekik Terra senang.
Haidar dan Budiman menoleh Terra dengan pandangan bingung.
"Apa itu?' tanya mereka bersamaan.
Terra menjelaskan ponsel ciptaan Darren. Baik Haidar maupun Budiman ternganga dengan penjelasan yang mereka dengar dari Terra.
"Kita akan tahu, siapa yang menaruh bangkai anak kucing tadi, bahkan kehidupan sehari-harinya," ujar Terra sambil tersenyum smirk.
bersambung ...
othor hanya bisa bilang ...
next?