
Sosok cantik dengan setelan dress midi warna biru ditutupi coat tebal warna coklat. Gadis dengan binaran indah di matanya tersenyum. Ia pulang.setelah enam tahun menghilang.
Dibukanya coat tebal itu. Ia merasa kegerahan. Beberapa belas jam lalu ia masih.merasakan cuaca dingin bersalju, hingga ia mengenakan mantel tebal itu. Kini, gadis itu sudah berada di negara yang lebih banyak sinar mataharinya. Maka dengan cepat ia merasa kepanasan.
"I'm coming home!" ujarnya pelan dengan senyum lebar.
"Nona Cherryl!" seseorang memanggilnya.
Gadis dengan raut wajah oval, bersih dengan hidung kecil, tidak mancung dan tidak pesek. Tubuh mungil dengan tinggi hanya 155cm dengan berat 45kg. Rambut hitam dikuncir kuda. Bibir tipis berlapis lipstik berwarna nude. Sungguh menarik siapa pun yang memandangnya. Gadis itu menoleh asal suara.
"Paman Deny?" pria itu mengangguk.
"Kau berubah menjadi tua, Paman!' guraunya terkekeh.
"Dan anda.masih cantik seperti sebelumnya, Nona," puji Deny sambil membungkuk hormat.
Pria itu mengambil koper yang dibawa Cherryl. Kemudian mereka melangkah meninggalkan bandara menuju rumah kediaman orang tua Cherryl.
Dalam mobil ia melihat perkembangan kota di mana-mana. Gedung-gedung tinggi menjulang. Jalanan yang dipenuhi berbagai macam kendaraan. Sungguh kotanya banyak berubah.
"Apakah kau juga berubah? Aku harap tidak," gumamnya pelan.
"Paman. Apa kau tidak mendengar kabar apa pun?" tanya Cherryl dengan tatapan masih keluar jendela.
Deny yang mengerti maksud nona mudanya itu menggeleng.
"Tidak ada kabar. Kecuali makin berkembangnya perusahaan yang Tuan muda pimpin semenjak pelantikannya sebagai seorang CEO."
Jawaban Deny, membuat Cherryl tersenyum.
"Apakah ia masih mengingatku?" tanya Cherryl dengan suara sendu.
"Saya, pikir masih Nona. Tidak ada pemberitaan mengenai kedekatannya dengan wanita atau gadis manapun," jawab Deny tegas.
Cherryl merona. Ia tersipu malu. Dirinya mengukuhi jika pria yang sangat ia cintai masih menunggunya. Menunggu kedatangannya dengan tangan terbuka.
"Hanya Ayahnya yang datang, Nona. Menurut kabar, waktu itu ia berada di luar kota tengah menenangkan diri," jawab Deny.
Wajah Cherryl tiba-tiba sendu. Ia merasa bersalah telah meninggalkan begitu saja kota ini tanpa kejelasan. Kepergiannya, membuat ayahnya shock dan mendapat serangan jantung hingga meninggal dunia.
Cherryl berpikir jika pria itu juga terluka atas semua keputusannya dulu. Tapi, sungguh waktu itu ia tak memiliki pilihan lain selain pergi.
Kini, ia telah menata hatinya. Ia mulai bersiap untuk menyusun kembali kepingan cinta yang dulu ia tinggalkan. Tak terasa, mobil yang membawanya sudah sampai rumah. Rumah di mana sejuta kenangan tertinggal di sana. Rumah orangtuanya.
Cherryl masuk setelah Deny membuka pintu rumah. Kosong. Tidak ada yang menyambut. Entah kemana semua orang ia tidak tahu.
"Maaf, Nona. Nyonya besar sedang bersama teman-teman sosialitanya. Sedang para pekerja tengah menyiapkan makan siang sesuai instruksi Nyonya," jelas Deny penuh nada menyesal.
Cherryl menghela napas. Ia sudah terbiasa. Dulu, ketika masih tinggal bersama juga, ibunya seperti itu. Tidak begitu memperdulikannya. Hanya mendiang sang ayah yang selalu ada untuknya.
Sayang, orang yang begitu menyayanginya malah lebih dulu pergi meninggalkan dirinya, untuk selama-lamanya. Cherryl naik ke lantai dua di mana kamarnya berada
Masih tetap sama. Tidak ada yang berubah. Warna ungu dan biru. Dua warna kontras, satu adalah warna favoritnya sedang yang satu adalah warna favorit pria yang sangat ia cintai.
Sebuah bingkai foto kecil masih terpajang di atas nakas. Foto dirinya bersama sang kekasih dan sebelahnya foto dirinya bersama sang ayah. Cherryl mengusap lembut dan mencium dua bingkai yang menyatu itu.
"Aku merindukanmu. Apa kau juga merindukan aku?"
bersambung.
aih ...
jeng .... jeng ... jeng ... jeng!
siapa tuh?
next?