TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ULAH GISEL



Gadis cantik dengan rambut pirang dan mata biru. Siapa yang tidak tertarik. Terlebih dia adalah seorang Dougher Young. Semua mata akan memandangnya. Baik dengan pemujaan atau pun dengan iri juga cemburu.


Gara-gara dia masuk kampus Universitas Pratama. Banyak gadis tiba-tiba berambut pirang dan memakai kontak lensa biru. Tak peduli itu pantas atau tidak pada diri para gadis tersebut. Tidak ada yang bisa menghakiminya.


"Hai, Gis!' sapa Tara.


"Hai, pa kabar Lo?" sahut Gisel sambil bertanya kabar.


Gisel sekarang fasih berbahasa Indonesia. Bahkan ia mampu menguasai bahasa gaul kota J. Taranika Arumi adalah sahabat Gisel. Salah satu gadis yang tidak mengubah rambutnya jadi pirang dan mengubah warna mata menggunakan softlens.


"Baik, Alhamdulillah. Eh, Lo udah ngerjain tugas dari doskil Haidar belum?' tanya Tara.


"Udah. Kenapa, Lo belum yah?" Tara mengangguk.


"Sebenarnya sih, Gue nggak yakin sama persepsi Gue," keluh Tara sendu.


"Dah, percaya aja. Gue yakin, Lo bisa kok," sahut Gisel memberi semangat.


Bel masuk berbunyi, para mahasiswa yang ribut mulai diam, bahkan yang di luar pun berlarian masuk dalam kelas. Haidar datang dengan wajah datar dan dingin. Tak ada satu pun yang berani bicara.


"Selamat siang, semuanya!" sapa Haidar datar.


"Siang, Pak!" sahut semuanya.


"Baik, kumpulan makalah kalian. Saya akan memilih secara random, siapa duluan yang akan menerangkan persepsinya. Jika memuaskan saya. Selamat untuk yang di belakang. Karena saya hanya memilih satu saja untuk diberi nilai A!"


Semua berdebar, termasuk Gisel. Ketua kelas mengambil makalah dalam map biru sesuai titah dosen. Benar saja. Haidar mengacak map-map itu dan mulai membaca nama salah satu mahasiswa.


"Kendra!"


Mahasiswa yang disebut namanya pun maju. Nyaris separuh kelas tidak ada satu pun yang memuaskan Dosen killer satu ini. Walau tidak sedikit yang lumayan. Tapi, Haidar merasa kurang. Hingga Gisel sebagai nama terakhir yang disebut. Gisel memberi persepsinya.


"Bagus, lumayan bagi kalian sebagai pemula. Lusa saya ingin semua memperbaiki tulisan dan survey kalian agar lebih menyeluruh dan tepat pada inti sasaran. Untuk itu semuanya saya beri nilai B plus!" jelas Haidar sambil mengangguk.


"Khusus untuk Tara dan Gisel. Saya beri kalian A!"


Gisel dan Tara cukup terkejut. Mereka berdua saling memandang. Lalu tersenyum lega.


Bel tanda perkuliahan selesai. Semua mahasiswa juga mahasiswa fakultas ekonomi pun keluar. Suara riuh terdengar di seluruh koridor kampus. Sore ini Gisel tidak dijemput Gabe. Kakaknya itu mengaku tengah lembur.


"Hai bule!" salah satu mahasiswa menggodanya.


Tara sudah pulang dijemput ayahnya. Jadi ia pulang sendiri. Biasanya Ia selalu pulang berdua. Gisel tak meladeni. Ia keluar gerbang kampus tanpa peduli apa pun.


"Cis, sombong. Hei penjajah. Ngapain kamu ngampus di sini!' maki pria itu.


Gisel mengernyit. Sedikit terusik dengan makian, pria tersebut. Gadis itu tetap berjalan, tak peduli.


"Hei, Lo ... penjajah, denger gue ngomong nggak!' hardik pria itu dengan suara keras.


Beberapa mahasiswa yang sedang keluar kampus menatap gerombolan pria berjumlah empat orang itu. Lalu menatap sosok bule yang disebut penjajah.


Merasa diabaikan. Keempat pemuda itu mengejar Gisel yang berjalan menuju halte. Haidar sudah pergi dari kampus setelah mata kuliahnya selesai. Sedang Gisel masih memiliki satu mata kuliah lagi.


Ke empat orang tadi kini mengerumuni Gisel. Beberapa mahasiswa yang keluar mulai melindungi gadis itu.


"Hei kalo Lo nggak mau berurusan sama Genk Kobra, minggir!" ancam salah satu pria dengan satu anting di telinga kiri.


Sepertinya banyak mahasiswa tahu siapa itu, Genk kobra. Satu persatu mereka minggir. Lalu membiarkan Gisel menghadapi empat pria itu.


"Hei, Lo penjajah. Gue dari tadi manggil Lo ya. Mestinya Lo tunduk sama warga pribumi!" sentak pria berambut kriting.


Gisel tetap bungkam, ia tak meladeni pria tersebut. Ia ingin melangkah tapi dihalangi oleh ke empatnya.


"Eits ... mau kemana Lo!" ejek mereka sambil tertawa.


"Bisa minggir, nggak. Gue mesti pulang," ujar Gisel dengan sopan.


Gisel mengernyit. Seingat dia, kampus ini cukup ketat peraturannya. Tidak ada mahasiswa bertatto seterang dan sebanyak itu. Gisel yakin mereka bukan mahasiswa kampusnya melainkan oknum atau mahasiswa kampus lain yang ingin berbuat ulah.


"Lo, bakal pulang. Asal bisa ngasih Gue ciuman yahut ala Prancis," goda pria itu cabul.


Gisel menatap pria itu tajam. Alis matanya terangkat sebelah lalu tersenyum miring. Ia menggeleng.


"With that little cock of yours, dare me a French kiss?" (dengan ******** kamu yang kecil itu menantangku ciuman Prancis?) tanya Gisel meledek.


Mereka berempat saling tatap. Tidak mengerti apa perkataan Gisel. Para mahasiswa yang masih berada di halte tertawa mendengar ledekan gadis itu pada empat begundal yang mengurung Gisel.


Mereka marah bukan main. Tiba-tiba salah satunya ingin melecehkan gadis itu dengan menjamah dadanya.


Belum sempat tangan itu menjamah. Gisel sudah menangkapnya, lalu memelintirnya, kemudian membantingnya keras.


Gedebuk!


"Aarrghh!" teriak pria itu. Ia merasa tangannya patah.


Ketiga temannya bingung. Ia menghadapi sosok gadis yang jago bela diri. Akhirnya mereka menyerang Gisel. Para pria yang melihat Gisel bisa bela diri. Langsung ikut membantu gadis itu.


Ke empat begundal itu lari tunggang langgang, dengan muka bonyok akibat dipukuli.


"Awas Lo pada ya. Genk kobra bakalan bakar kampus ini!" ancam salah satunya sambil berlari.


Semua menyoraki ke empat begundal yang lari ke sebuah warung. Mereka menaiki dua motor berboncengan. Gisel hanya menggeleng.


"Makasih ya. Kalian mau nolongin Gue. Walau tadi sempet keder juga kalian sama nama Geng kobra," sahut Gisel mengucap terima kasih.


"Kamu nggak tahu sih. Entar, kalo mereka membuktikan ucapannya. Gue harap, Lo bersiap-siap ngelawan mereka. Mereka termasuk kejam jika berurusan sama orang-orang yang merendahkan mereka," ujar salah satu mahasiswa memperingati Gisel.


"Sip, Gue bakal ingat itu. Makasih sekali lagi ya," sahut Gisel.


Taksi daring yang dipesan gadis itu sudah tiba. Ia pun pamit pada teman-teman sekampusnya.


"Gue pamit ya. Assalamualaikum!"


"Yoi ... wa'alaikum salam. Hati-hati!"


"Thanks, Bro!"


Taksi daring itu berlalu dari halte. Lalu menuju rumah di mana ia tinggal. Butuh satu jam perjalanan ia sampai rumah. Ia pulang rumah masih gelap. Menandakan jika Gabe belum pulang.


Gisel memilih mendatangi rumah Terra dengan berjalan kaki. Hanya butuh waktu sepuluh menit ia sudah sampai rumah kakaknya itu.


"Sore, Mang Deno," sapanya ketika membuka gerbang.


"Sore, Non," balas Deno ramah.


"Kak Terra udah pulang?" tanya Gisel.


"Sudah, Non," jawab Deno.


Terra sudah bekerja setelah melahirkan tiga bulan lalu. Gadis itu pun masuk, lalu mengucap salam.


"Wa'alaikum salam. Eh, Kak Gisel," balas Darren.


Gadis itu pun duduk. Ia masih kepikiran dengan kejadian tadi.


"Gue mesti ngomong sama Kak Terra," gumamnya.


bersambung.


yah .... bilang aja Gis. Biar Terra yang bakar tuh Genk kobra.


next?