TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RAKA PULANG



Kepulangan Raka ditunggu. Semua sudah hadir. Mereka sudah rindu dengan Raka. Terutama Lidya.


Pukul 10.45. Karina, Zhain, Raka dan Raffhan sudah landing di bandara pribadi Bram. Satu jam ke depan mereka baru sampai mansion.


Semua makanan sudah siap. Kedelapan bayi kembar menunggu kakak mereka yang belum pernah bertemu secara langsung. Hanya lewat video call ketika acara keluarga besar.


Bahkan kedua orang tua Zhain juga datang. Mereka akan memboyong anak, menantu dan cucu mereka ketika malam menjelang.


Mobil yang ditumpangi Zhain, istri dan dua anaknya berhenti. Para pengawal langsung berdatangan membuka pintu mereka. Karina langsung bertatapan dengan Budiman ketika turun, wanita itu tersenyum ramah, ia menggendong bayi laki-laki. Budiman mengangguk hormat.


"Assalamualaikum. Selamat datang, Nyonya Wijaya," sambutnya memberi salam duluan.


"Wa'alaikum salam. Terima kasih," sahut Karina ramah.


Ia pun berlalu. Sang suami sudah turun di pintu sebelah Karina menggendong Raka yang tertidur. Semua agak kecewa melihat Raka tertidur.


"Aduh ... cucu Oma. Cape banget ya, ampe bobo di jalan," ujar Kanya sendu.


"Bawa ke kamar dulu, Zhain!" titah Bram.


Zhain dan Karina membawa anak mereka ke kamar. Lalu bergabung bersama keluarga. Mereka memulai makan siang bersama. Usai makan, semua anak-anak tidur siang.


Para orang tua mengobrol. Terutama para pria. Ada saja yang menjadi topik pembicaraan mereka. Walau tak jauh dari bisnis.


Sedangkan para wanita mengobrol tentang perkembangan anak-anak mereka. Karina lebih banyak bercerita.


"Raka dinyatakan sembuh sembilan puluh delapan persen. Dokter bilang. Autisme memang bukan penyakit yang bisa sembuh seratus persen. Tetapi, kesembuhan Raja bisa dibilang paling sempurna dibanding kesembuhan lainnya yang hanya berkisar delapan puluh persen," jelas Karina antusias.


"Dokter juga memeriksa Raffhan. Bayiku dinyatakan normal. Kata Dokter, Raka juga tidak akan membawa bibit Autisme pada seluruh turunannya," jelas wanita itu lagi dengan wajah penuh kelegaan.


Semua bernapas lega. Raka terbangun, ia membuka pintu lalu memanggil ibu dan ayahnya.


"Mommy, Daddy, kita ada di rumah Oma ya?" tanyanya tak percaya.


Matanya masih belum fokus karena baru bangun tidur. Tetapi beberapa detik kemudian wajahnya langsung ceria. Ia melihat Oma, Kakek, Nenek dan Ato'nya.


Ia pun berlari memeluk semuanya. Kanya dan Riani Subagya terharu. Nugie dan Bram juga sama dengan istri-istri mereka.


"Raka, lapar," rengeknya.


"Ah, ayo-ayo ini, Oma sudah masak makanan kesukaan kamu," ajak Kanya menuntun cucunya.


Raka melihat, Terra, Haidar, Herman, Khasya, Puspita dan Virgou. Ia pun tertawa lebar, berlari ke arah mereka. Semua memberinya pelukan dan kecupan. Ia juga mencari seseorang yang dulu sering diganggunya.


"Om Pudi mana?" tanyanya berseloroh.


Semua terkekeh.


"Om Budi ada di teras dengan Om Gomesh," jawab Haidar.


Raka berlari ke teras meneriaki nama pria itu. Lalu terdengar lah tawanya yang ceria. Kemudian ia pun kembali ke dalam.


"Tadi, Om Gomesh angkat Raka kayak burung, Oma!" adunya gembira.


"Oh ya. Sudah-sudah jangan banyak ngobrol. Makan dulu. Mau disuapi?" tawar Kanya.


"Enggak, Raka udah besar Oma. Masa masih disuapi?' tolaknya halus.


Semuanya tersenyum. Karina berada di kamar ia menyusui bayinya. Raka sangat lahap makannya. Hingga habis dua porsi.


Semua tersenyum melihat kelakuan Raka. Pria kecil itu sudah berusia empat belas tahun sekarang. Ia sudah mulai beranjak dewasa. Ia akan melanjutkan home schooling nanti.


Hari beranjak sore. Semua anak berkumpul. Raka menangis dipelukan Lidya, begitu juga sebaliknya. Keduanya saling merindukan satu sama lain.


Lagi-lagi Rion yang mengomandoi. Bahkan Raffhan sangat antusias melihat Rion dengan sejuta aksinya.


"Kakak Baby katanya bisa mendongeng ya?" tanya Zhain sambil tersenyum.


"Iya, bisa," jawab Rion santai.


"Dongengin dong. Papa Zhain mau dengar," pinta Zhain dengan wajah berpura-pura memelas.


Rion menggeleng. Zhain kecewa. Padahal ketika video Rion mendongeng di grup chat keluarga membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Nanti pada bobo ladhi!" alasan Rion.


"Nggak bakal. Kan mereka baru bangun tidur. Jadi nggak ngantuk Iya kan Babies?" Semua bayi mengangguk bahkan Raffhan juga mengangguk.


"Oteh ... sabal ya ... Ion mau mitil dulu."


Balita itu langsung memasang wajah berpikir. Semua tersenyum gemas kecuali para bayi yang tersenyum antusias.


"Pada suatu hali ... Seekol nyamuk teulbang ke sana kemari. Mommy Kalina sebeul melihat nyamuk itu. Disemprot tidak mempan. Ditepok dia kabul. Nyamuknya dendam. Ia membawa pasukannya menyerang Mommy Kalina. Ion datang langsung menolong Mommy. Ion kibas tangan Ion.


"Mommy semplot nyamuknya setalang!"


Mommy pun menyemplot nyamuknya. Semua mati. Teulnyata, nyamuk tadi pake maskel di mulut meleka. Jadi tidak teulcium. Ion menepis tangan untuk membuka semua maskel meleka.


Akhilnya, nyamuknya habis tak beulsisa."


Cerita Rion selesai. Zhain, Nugie, Ria, Bram, Kanya, Terra, Karina, Virgou, Puspita, Herman, Khasya dan Haidar menganga.


"Sejak kapan nyamuk pake masker?" tanya semuanya walau dalam hati.


"Telima kasih. Sekalang, mana bayalannya!"


Lagi-lagi semua orang dewasa terhenyak mendengar permintaan Rion. Nugie mengambil dompet. Satu lembar uang seratus ribu ia keluarkan. Lalu memberikannya pada Rion.


Balita itu menatap uang kertas itu. Ia ingat ketika Budiman memberinya uang logam. Balita itu masih menyimpannya dengan baik. Setelah berpikir lama. Ia pun mengucap terima kasih.


"Makasih Ato'."


"Sama-sama," sahut Nugie mencium kening Rion.


Malam pun datang. Karina, suami dan dua anaknya sudah diboyong ke rumah mertuanya. Tidak ada lagi dongeng. Rion kelelahan setelah diikuti oleh delapan adik kembarnya. Karina bilang. Pasukan Rion bertambah satu, yakni Raffhan.


Semuanya pun terlelap dalam mimpi yang indah. Di sebuah taman cantik penuh bunga, semuanya berkumpul dengan wajah penuh kebahagiaan. Saling sapa dan salam.


Di taman itu, tak ada kegundahan, kesedihan, luka dan air mata penyesalan. Semua bahagia dan penuh cinta kasih.


bersambung.


Nyamuk bermasker ... ada-ada aja Rion!


next?