
Hari ini Terra beserta rombongan mengantar Darren untuk mondok selama lima hari. Pria kecil itu diwajibkan mengikuti santri kilat, untuk kembali melatih bacaannya. Haidar dan Virgou menangis melepas putranya. Terra, Herman dan lainnya memutar mata malas, melihat lebay nya dua pria itu.
"Nak, turuti apa kata gurumu ya," titah Virgou.
"Jika ada apa-apa, langsung hubungi Papa, ya!" kini giliran Haidar yang memberi perintah.
Darren mengangguk. Ia memeluk dua pria itu. Yang satu adalah pria yang memberinya kenyamanan pertama kali. Sedang yang satu adalah pria yang dulu ia takuti, sekarang ia sangat cintai. Darren mengecup pipi dua pria itu. Guru ngajinya sudah menunggu.
Para orang tua hanya boleh mengantar sampai depan pesantren. Banyak orang tua yang sama kelakuannya pada putra atau putri mereka. Menangis.
"Baik, Bapak dan Ibu sekalian. Perlombaan akan di mulai lusa, atau hari senin. Jadi, kami harap. Bapak dan Ibu bisa hadir di acara itu sebelum pukul 09.30. karena acara akan dimulai pukul 11.00. Ingat pakaian yang sopan dan tidak boleh berisik. Hanya boleh bertepuk tangan jika disuruh oleh pembawa acara. Mengerti!"
Sebuah penjelasan dan pemberitahuan panjang lebar diumumkan. Para orang tua mencatat kegiatan anak-anak mereka. Terra akan mengingatnya. Virgou menyuruh Puspita mencatat pengumuman itu.
"Nah, sekarang Bapak dan Ibu boleh pulang. Percayalah anak-anak pada kami. Inshaallah, kami akan menjaganya!"
Semua orang tua pun menurut. Hanya Terra yang membawa pasukan lebih banyak. Maklum anak mereka saja kembar semua. Tiba-tiba, Terra dipanggil oleh panitia lomba.
"Maaf, Ibundanya Darren!"
"Iya, saya, Pak!" sahut Terra.
"Bisa ikut saya ke ruangan kepala asrama. Ibu dan keluarga dipanggil Oleh Kyai Ali Nurdin!" Terra mengangguk.
Semuanya mengikuti panitia tadi, menuju ruang kepala pesantren. Sosok lelaki lanjut usia bertubuh gempal dan berotot. Pria itu mengenakan baju pangsi hitam dan sarung.
"Assalamualaikum, Kyai!" sapa panitia.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," sahutnya membalas salam.
"Ini Ibundanya Darren dan keluarga, Kyai," ujarnya memberi tahu sambil membungkuk dan melengkungkan ibu jarinya mengarah ke arah Terra dan rombongan. Pria itu tertawa lepas melihat rombongan. Lalu menyuruh semuanya duduk.
"Ambil kursi kuh Ding!" titahnya menyuruh anak-anak santri mengambil kursi untuk tamunya.
Pria asal Banten ini, membenahi kopiahnya. Setelah kursi-kursi diletakkan. Kyai Ali Nurdin pun menyuruh semuanya duduk.
"Duduk, silahkan!" dengan aksen Banten yang kental.
Semua duduk. Ia menatap bayi-bayi kembar di stroller khusus mereka.
"Iki kembar, Kabeh?" tanyanya semringah.
"Iya, Yai," jawab Terra tersenyum.
"Iki yang banyak ini, anaknya Bundanya Darren?" ujarnya menerka.
Terra mengangguk. Lidya menatap pria di depannya dengan penuh minat begitu juga Rion. Laki-laki itu menatap dua balita yang memandangnya dengan penuh ketertarikan.
"Sini, mau pangku Yai,?" ajaknya.
Rion turun dari pangkuan Haidar begitu juga Lidya. Pria itu menaikan dulu Rion dipangkunya lalu baru Lidya. Ketika Lidya berad dipangkuan pria itu. Gadis kecil itu tiba-tiba menangis. Yai mengusap punggungnya lembut. Pria itu melantunkan shalawat.
Terra yang hanya mengamati entah mengapa juga ikut menangis. Rion malah dengan enteng merebahkan tubuhnya pada dada bidang Kyai Ali Nurdin. Balita itu sekejap tertidur.
Terra yang tidak mengerti bahasanya hanya bengong. Pria itu terkekeh.
"Maksud saya, nama mereka siapa?" tanyanya ulang.
"Oh, namanya Lidya dan yang tidur itu namanya Rion," jawab Terra malu.
"Namanya bagus sekali!" pujinya pada gadis kecil yang sudah menenangkan dirinya.
"Ibu namanya siapa?"
"Saya, Terra, Yai."
"Yang ini? Suami?" Terra mengangguk.
"Namanya Haidar. Dan ini Kakak saya Virgou dan ini Paman saya Herman dan lainnya adalah istri-istri mereka," jawab Terra panjang lebar.
Kyai Ali Nurdin mengangguk. Ia pun bertanya perihal status Darren, Lidya dan Rion. Ia sedikit mendengar kabar jika Darren sebenarnya adalah adik yang diangkat anak oleh Terra. Wanita itu pun menceritakan semuanya termasuk trauma yang dialami ketiganya.
"Pantesan energi semuanya hebat. Terlebih Lidya. Tangannya bisa menyembuhkan luka yang begitu dalam," sahutnya panjang lebar.
"Jaga mereka ya, Bunda. Beri perhatian penuh. Awasi pergaulannya. Jelaskan mana yang benar dan yang salah. Ajari mereka kejujuran."
Nasehat panjang lebar dari Kyai Ali Nurdin diingat oleh Terra. Memang tiga anaknya itu sangat spesial karena tragedi yang mereka alami. Bahkan mereka terutama Lidya melihat sendiri bagaimana ibunya meregang nyawa di depan matanya.
"Makasih ya, untuk tidak meninggalkan mereka. Terima kasih telah menyayangi mereka dengan tulus," ungkap Kyai Ali Nurdin tulus sambil mengatup dua tangannya di dada.
Sebelum pulang. Kyai membawakan mereka buah tangan dari kebun. Yakni, singkong, pisang dan pepaya banyak sekali. Terra sampai malu ketika Virgou bertanya.
"Yai, ada singkong goreng atau rebusnya nggak?"
Kyai Ali Nurdin tertawa. Ia pun meneriaki salah satu santrinya mengambilkan satu baskom isi gorengan, singkong dan pisang.
"Nih, bawa," titahnya sambil terkekeh.
"Makasih, Yai!" sahut Virgou dengan gembira.
"Sama-sama!"
"Kami pamit, Yai. Sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!"
Mereka pun pulang dengan wajah gembira sambil berebutan singkong dan pisang goreng. Sedang Lidya dan Rion telah terlelap digendongan Terra dan Haidar.
bersambung.
Halah ... bule malah ngerampok.
next?