TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN



Terra terkejut dengan berita yang baru saja ia dapatkan. Netra Khasyana mengembun. Ia sedikit mengeraskan rahangnya mengingat pengurus yang lalu.


"Anwiyah pernah diadopsi, namun hanya satu tahun. Ketika keluarga itu istrinya mengandung. Anwiyah dikembalikan," ujarnya dengan suara tercekat.


Terra mengerang. Khasyana menyusutkan air matanya. Ia menghela napasnya.


"Lebih parahnya. Uang untuk berobat dibawa lari pengurus sebelumnya. Saya, bekerja harus menghidupi tiga puluh anak. Tentu gaji itu tak cukup. Kemarin saya mendapat pemutusan kerja secara sepihak. Tidak ada reward apa pun, padahal saya mengabdi selama sepuluh tahun," jelasnya lagi.


"Yang sabar, ya Aunty," ujar Terra menyabarkan Khasyana.


Khasyana hanya tersenyum. Ia sudah cukup sabar. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain. Padahal tanpa ia sadar, dengan menikahnya dia dengan pria bernama Herman Triatmodjo, hidupnya akan berubah. Bukan hanya dia, tapi seluruh anak asuhnya.


Rion sudah rewel. Ia mengantuk, begitu juga Lidya. Herman pamit pulang. Khasya pun mengantar mereka ke mobil bersama anak-anak. Mobil itu pun meninggalkan tempat itu.


Butuh waktu satu jam setengah untuk bisa sampai ke rumah Terra. Herman langsung menuju rumahnya. Ia menyiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan.


Terra menyalakan pendingin ruangan. Ia menidurkan Rion, Haidar menidurkan Lidya. Sedang Darren langsung ke kamarnya dan tidur.


Terra mengganti pakaian Lidya dan Rion, dengan baju biasa. Ia pun juga mengganti bajunya di kamar mandi. Begitu juga Haidar ikut mengganti bajunya. Tidak ada sesi percintaan, karena Terra masih berhalangan.


"Sayang," panggil Haidar.


"Ya, Mas," sahut Terra ketika membuka baju suaminya.


"Bagaimana menurutmu, jika kita membeli tanah di suatu tempat, atau rumah sekalian untuk mengganti panti?" tanya Haidar meminta pendapat.


"Paman sudah memikirkannya, Mas," jawab Terra.


Wanita itu mengusap otot dada suaminya. Haidar tersenyum. Ia merangkul pinggang istrinya, membiarkan sang istri meraba dadanya. Terra menyukai kegiatan ini. Ia mencium dada sang suami.


"Jangan membangkitkan ku sayang," peringat Haidar sambil mengerang.


Terra tertawa. Ia paling suka menggoda suaminya.


"Paman, meminta kita memanggilnya Ayah," ujar Terra sambil mengalungkan tangannya ke leher sang suami.


"Baik, kita panggil beliau Ayah. Bagaimana acaranya. Apa Ayah akan menyewa gedung?" Terra menggeleng.


"Aunty Khasya sudah mengurus katanya. Beliau hanya ingin akad dan selamatan biasa saja. Ayah juga inginnya begitu. Hanya kolega penting yang ia undang nanti," jelas Terra.


"Oke kalau gitu. Sekarang kita keluar. Sudah waktunya ashar," ajak Haidar.


Terra mengangguk. Sebelum keluar sebuah ciuman menjadi ritual wajib bagi keduanya.


Haidar menghentikan ciumannya, agar tidak bablas. Napas mereka menderu. Terra mencium kilat bibir suaminya lalu melesat meninggalkan suaminya. Haidar terkekeh.


*******************


Hari berlalu waktu berganti. Hari pernikahan pun makin di depan mata. Kesederhanaan Khasyana cocok dengan Terra.


Dua perempuan itu memiliki cita rasa yang sama. Bahkan baju pengantin, Khasya hanya ingin satu saja. Tadinya malah ingin menyewa.


"Jangan, Bunda. Kan menikah sekali seumur hidup. Jadi biar ada kenang-kenangan," saran Terra.


Kini Terra memanggilnya Bunda. Karena semua anak-anak panti memanggilnya Bunda. Khasya


"Baiklah, sayang," Khasyana menyetujui.


Terra tersenyum. Ia kini jadi punya ibu baru selain Kanya, ibu mertuanya. Terra manja pada dua ibunya itu.


Baju pengantin sudah dipersiapkan. Semua dekorasi, tenda juga pelaminan pengantin telah terpasang. Besok perhelatan sakral akan di mulai.


Dua sosok manusia di beda tempat tengah bersujud meminta kelancaran. Keduanya bersimbah air mata. Herman telah mengurus adopsi keseluruh anak asuh calon istrinya. Mereka memakai nama Triatmodjo.


Waktu pun berlalu. Pagi menjelang. Semua sibuk, para perias pengantin juga sedang merias sang ratu satu hari. Herman juga sudah bersiap di mansionnya. Keluarganya sudah datang dari Australia dua hari lalu. Mereka menangis memeluk Terra. Bahkan ketiga anak Terra juga tak luput dari pelukan juga ciuman.


"Sayang ... Aunty kangen sekali, sama kamu. Mas Herman sudah menceritakan kamu, kita sedikit kaget tiba-tiba almarhum ayah berubah pikiran. Alhamdulillah semua sudah berlalu. Sekarang kita akan bahagia selamanya," jelas Gayatri. Hamara mengangguk setuju.


Terra tak berhenti dicium oleh Gayatri. Katanya, sekilas ia mirip dengan Aura, ibunya.


Jam sudah menunjukkan pukul 7.45. mereka semua sudah siap dan menaiki mobil masing-masing. Sejurus kemudian, iring-iringan mobil pengantin pun meluncur ke lokasi, mereka di kawal oleh empat polisi menggunakan motor. Rion tertawaan mendengar sirine polisi.


"Wiwiw!" Terra mencium gemas bayinya.


Hanya butuh waktu lima belas menit. Mereka sampai di lokasi acara. Herman makin gugup. Ia berkali-kali mengatur napasnya. Bram dan Kanya sudah ada di sana. Bram akan menjadi saksi untuk Herman. Kakek Terra dan Virgou juga Frans ikut hadir.


Herman duduk di depan wali hakim untuk Khasyana. Gadis itu kini tengah dipanggil dan akan duduk di sebelah pria yang akan jadi suaminya. Terra mengusap peluh di dahi paman, yang kini ia panggil ayah itu.


''Bismillahirahmanirahim!'


Khasyana kini duduk di sebelah Herman. Penghulu menanyakan kembali kesiapan keduanya.


"Bagaimana, sudah siap!''


"Bismillah, inshaallah siap!' jawab keduanya.


Hamara memakaikan kerudung di dua kepala Herman dan Khasya. Pria itu menjabat tangan wali hakim.


"Saudara Herman. Saya nikahkan anda dengan saudari Khasyana Pandewi Burhan binti Burhan almarhum dengan mas kawin emas murni seberat dua kilo dan uang seratus dolar dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawin Khasyana Pandewi Burhan binti Burhan almarhum dengan Emas kawin tersebut diatas tunai!"


Herman melafalkan ijab kobul satu tarikan napas.


"Bagaimana para saksi. Sah?' tanya penghulu.


"Sah!"


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.


Semua mengucap hamdalah. Herman resmi menjadi seorang suami. Mereka kini saling memakai cincin. Khasyana mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Herman mengecup kening sang istri mesra.


Lampu blits menyala di tiap kamera mengabadikan semuanya. Bahkan video proses ijab kabul menjadi trending topik.


Semua karyawan PT Triatmodjo Grup mengucap selamat. Melalui perwakilan. Kini kedua pengantin telah duduk di pelaminan. Tangan keduanya saling mengait.


"Ciee yang udah punya gandengan ...," seloroh Terra.


Semua tertawa, sedangkan Khasyana hanya tertunduk malu. Buah kesabarannya menjadi hadiah terindah. Herman membebaskan sebuah lahan dan bangunan ini. Sekarang anak-anak asuhnya tidak akan kekurangan lagi. Para donatur kembali berdatangan.


Anwiyah mendatangi ayah dan bundanya. Ia mengucap selamat dan memberi doa terbaik untuk keduanya.


"Kamu tampak pucat, sayang," ujar Herman ketika melihat wajah salah satu putrinya.


Anwiyah memang pucat. Bibirnya juga pecah-pecah.


"Wiwi, nggak apa-apa Ayah. Setiap habis makan obat ya begini," jawabnya sambil tersenyum.


Herman mencium putrinya. Lalu memangku gadis kecil itu. Rion menyambangi mereka.


"Ata' Wiwiw penata?"


"Kakak, Wiwi baru minum obat Baby," jawab Wiwi sambil tersenyum.


"Mama opat ipu pa'a?"


"Obat itu untuk orang sakit biar sembuh," jawab Terra.


"Oh," sahut Rion sambil mengangguk.


"Bunda, Iya boleh minta pantu?" pinta Lidya memohon.


"Tentu saja sayang, sini," Khasya meraih Lidya dan memangku gadis itu.


Wanita itu tak berhenti menciumi Lidya. Acara berlangsung. Rion kini tengah mengerjai Virgou dan Budiman. Bayi itu meminta makanan, es krim juga sirup. Terra sudah menyuruhnya agar tidak terlalu banyak memberi makanan untuk bayi itu.


Benar saja. Karena terlalu dituruti. Rion akhirnya demam. Terra memarahi keduanya, habis-habisan. Virgou dan Budiman hanya menunduk dengan rasa bersalah.


"Bunda ... Wiwi, ngantuk," ucap Wiwi dengan mata sayu.


"Kalau begitu minta antar Kak Nina, ya," ujar Khasyana.


Wiwi mengangguk. Baru ia melangkah tiba-tiba ia terjatuh tak sadarkan diri.


bersambung.


Wiwi!


next?