TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PESTA OTAK



"Siapkan ruang IT. Kita akan pesta otak sebentar lagi!' titahnya dengan kilatan mata tajam.


Rommy menelpon bagian IT. Gadis itu bergegas ke ruangan yang menjadi favoritnya setiap datang ke kantor. Budiman mengikuti langkah gadis itu.


"Kak Gun, apa kau sudah siap?' tanya Terra dengan seringai di wajahnya yang dingin.


Semua orang yang bekerja di ruang itu bergidik ngeri menatap seringai atasannya itu. Rommy yang belajar banyak dari Terra soal IT. Pria itu akan membantu mem-back up semua data yang ia bisa.


"Kak Budi. Jika kau ingin belajar IT sekarang. Peruncing mata juga otakmu. Jangan lewatkan celah sedikit pun!' titah Terra yang membuat bulu kuduk Budiman meremang.


"Baik, Nona!"


Budiman benar-benar memasang mata dan memperuncing otak. Walau sekarang ia berpikir keras, apa itu meruncingkan otak.


'Mungkin otakku harus bekerja keras untuk menangkap semuanya,' gumamnya dalam hati.


Terra duduk di kursi kuasa utama layar. Netra gadis itu memindai pergerakan semua data.


"Ada serangan pada bilik data base satu!" teriak salah satu operator IT.


"Diamkan!" teriak Terra, "itu hanya pancingan!"


Benar saja. Gerakan itu tidak mempengaruhi apa pun. Terra melihat sebuah gumpalan kecil-kecil pada sudut layar. Ia menaikan sebelah bibirnya.


Entah kapan gadis itu menyentuh papan keyboard. Budiman tak melihat gerakan tangan itu. Namun sederet angka tertera di layar. Angka-angka itu tiba-tiba memecah menyerang bulatan-bulatan pada pojok layar.


Lagi-lagi satu ketukan tak terlihat. Terra menyunggingkan senyum sinis. Tatapan membunuhnya makin menjadi. Gadis itu melihat celah yang begitu kecil. Satu ketukan menyusup pada celah. Tulisan Fox atack tertulis.


"Jauhkan jari kalian dari keyboard!" teriak Terra, "Sekarang biar aku yang menghabisi mereka!"


Semua menjauhkan tangan mereka dari keyboard. Terra terus mengetik dan mengetik.


Terdengar bunyi 'blam' setiap ketukan jemarinya. Gadis itu makin gelap mata. Dalam sekejap ia berganti akun menjadi "ShadowViolet".


Sedang di ruangan lain di sebuah perusahaan. Tampak keributan terjadi. Semua orang kalang kabut menyelamatkan data yang tiba-tiba terbakar.


Satu unit penyimpan ratusan juta data base hangus terbakar seketika. Bunyi alarm tanda kebakaran menyala. Air pemadam api langsung keluar. Ruangan itu langsung basah seketika.


Semua berlari menyelamatkan diri agar tidak mati konyol karena tersengat listrik.


Stefan sebisa mungkin menyelamatkan sebagian data aset-aset penting. Pria itu berhasil menyelamatkan 40% aset data terpenting perusahaan.


Pria itu mengetik sesuatu. Ia menyerah kalah. Ia harus melakukannya agar semua data yang tersisa tidak habis dihanguskan oleh akun misterius.


"Bagaimana!" teriak pria arogan itu.


"Maaf. Sebentar lagi, perusahaan anda akan berhadapan dengan para audit Bank," ujar Stefan lemah.


"Brengs*k!" teriak Samhadi murka. "Aaarggh!"


"Apa kita tak bisa berbuat apa-apa lagi?' Stefan menggeleng.


"Jika kita paksakan, anda akan gulung tikar dan jadi gelandangan dalam sekejap!" saut Stefan lagi.


Samhadi terduduk lesu. Pria itu sama sekali tak menyangka semua data kecurangan terbongkar dalam waktu sekejap.


"Jika saya lihat, sepertinya, pusat intelegen pemerintah yang melakukannya," jawab Stefan.


Mereka masih dalam perjalanan ke kantor, mengetahui kekacauan divisi IT karena staff IT menelepon Stefan akan kekacauan yang terjadi. Stefan melihat laptop yang dibawanya tadi. Pria itu sedikit bingung. Bagaimana pemerintah begitu cepat mengetahui data rahasia perusahaan yang selama ini baik-baik saja.


Stefan lupa, ia tadi baru saja berhadapan dengan gadis remaja yang membongkar data rahasia atasannya.


Sedang di sebuah ruangan lain di mana Terra duduk. Ia menghentikan semua aksinya setelah melihat tanda menyerah dari lawannya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kemudian menghitung mundur.


"Lima, empat, tiga ...."


Belum habis Terra menghitung tiba-tiba muncul sebuah berita di layar.


"Selamat siang pemirsa. PT Samhadi Corp. kini dalam status audit Bank. Setelah diselidiki, terjadi kasus pengemplang pajak selama dua belas tahun. Banyak oknum pejabat dan pemangku divisi terkait atas masalah ini. Kasus ini terbongkar setelah tim IT milik Ditjen Pajak mencium kebusukan para oknum petinggi mereka ...."


Terra hanya menghela napas. Pekerjaannya diakui lagi oleh pihak lain Tapi, itu lah tujuannya, agar tidak ada yang mengetahui jati dirinya.


Budiman hanya berdiri terkesima atas apa yang ia lihat barusan. Bagaimana seorang gadis berusia delapan belas tahun. Di mana usia itu sedang mabuk dalam urusan hati, seperti percintaan dan persahabatan yang rumit.


Gadis ini datang menunjukkan sebuah aura kepemimpinan yang kuat dan mendominasi seluruh lapisan.


Sifat tegas dan tidak pandang bulu, juga tanpa mengenal rasa takut pada apa pun. Bagaimana ia melindungi seluruh asetnya dengan pemikiran yang matang. Gadis itu bukan gadis biasa yang cengeng karena putus cinta.


"Musnahkan semua data yang rusak, walau sekecil apa pun kerusakannya!" titah Terra. "Kemudian ganti data itu dengan data baru!"


Semua melaksanakan apa yang ia perintahkan. Budiman hanya memandang orang-orang yang mulai sibuk membuka berkas data. Memusnahkan data yang rusak dan menggantinya.


Tidak ada yang berani menyangkal perintah gadis itu.


"Jangan ada satu pun yang melanggar apa yang aku katakan barusan. Walau hanya nol koma nol sekian persen kerusakan. Musnahkan!" titahnya lagi.


"Jika ada yang melanggar dan menganggap enteng," ia menghentikan ucapannya. "Bersiaplah akan aku hancurkan siapapun itu. Sehancur-hancurnya!" ancamnya.


Mendengar ancaman itu semua seperti hening. Suasana mencekam dan dingin. Aura intimidasi begitu menekan siapapun yang mencoba untuk melawan.


Budiman sempat menahan nafas mendengar ancaman itu. Jika gadis itu baru saja menghancurkan satu perusahaan sekelas PT Samhadi Corp.. Bagaimana cara gadis ini menghancurkan satu orang? Jangankan itu. Budiman belum bisa meruncingkan otak juga penglihatannya, karena kejadiannya begitu cepat.


Terra bergegas pergi dari ruangan IT, setelah semuanya beres. Ia langsung mengkhawatirkan putra bungsunya yang tadi sedikit demam.


"Baby!" teriaknya.


"Mama ... hiks .. hiks!" teriak Rion mulai menangis.


Budiman dapat melihat perubahan wajah gadis itu. Lima menit lalu, ia merasakan aura pembunuh, kini Terra mengeluarkan sisi keibuannya.


Budiman belajar sesuatu. Seorang ibu akan menjadi pembunuh bagi siapa pun yang mengusik anaknya.


bersambung.


oke ... otak othor mulai keluar asap gara-gara Terra mau pesta otak ngelawan Samhadi.


next?