TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MASIH TIDAK AMAN



Hari berganti. Waktu berlalu. Hari ini, Terra kembali ke kampus, ia sedang ada mata kuliah sebanyak dua semester.


Berarti selama dua jam, dia berkutat dengan ilmu. Seperti biasa Budiman yang selalu mengantar dan menjaga gadis itu.


"Surat ancaman itu ternyata,.atas suruhan Sugeng dari balik jeruji besi. Pria itu memiliki komplotan spesialisasi."


Sebuah laporan diterima Budiman setelah melakukan pelacakan ketika Terra kembali mendapat surat ancaman terakhir kali.


"Lalu, bagaimana sekarang perkembangannya?" tanya Budiman melalui headset.


"Kami hanya menunggu, karena tidak ada pergerakan. Sepertinya, mereka mahir dan terperinci, jadi sulit untuk ditebak," jelas tim memberi tahu.


Budiman mengangguk. Nyawa gadis itu masih dalam bahaya. Pria tampan itu melihat jam di pergelangan tangan kanannya.


Ia pun keluar dari mobilnya dan segera ke depan pintu kelas Terra. Banyak kaum hawa menggodanya tanpa malu.


Budiman hanya menghela napas. Pria itu tetap bergeming di depan pintu kelas Terra.


Bel berbunyi. Tanda jam kuliah sudah habis. Semua mahasiswa dan mahasiswi pun keluar berhamburan dari dalam kelas.


Terra keluar bersama Poltak juga Brenda, istrinya. Ternyata mereka telah menikah dan melakukan pemberkatan nikah di gereja.


"Hei Te, kau datanglah ke pesta pernikahan ku lah ya," pinta Poltak dengan logat Bataknya.



"Baiklah, mudah-mudahan bisa ya," ucap Terra lalu menerima undangan tersebut.


"Ah, harus datang ya, sama Pak Haidar. Tak nyangkanya aku, kau bisa juga buat doskil itu naksir kau," ujar Poltak sambil menggoda Terra.


"Ya, mudah-mudahan dia mau datang bareng aku," jawab Terra tidak yakin.


"Ah ... kau gitu kalinya sama kawan. Jangan macam itu lah!' ucap Poltak kini memaksa.


"Baiklah, aku usahakan," akhirnya Terra menjawab karena merasa sungkan.


"Nah gitunya. Oke, aku tunggu hadiah kau ya, nggak usah mahal-mahal. Cukup doa saja sama uang dua ratus juta, yaa," seloroh Poltak berkelakar.


"Ih mau merampok kau?' sengit Terra.


Mereka pun tertawa. Budiman mengangguk kepala ketika Terra melihatnya. Gadis itu mengikuti langkah pengawalnya. Ketika di mobil, baru lah Budiman mengatakan hasil penyelidikan tim.


"Jadi Sugeng masih memiliki komplotan?" tanya Terra.


"Benar, Nona," jawab Budiman.


"Masalahnya komplotannya ini sepertinya terorganisir. Pergerakannya di ponsel selalu berubah-ubah. Mereka seperti bunglon," jelas pengawalnya itu.


Terra menghela napas. Jika seperti itu, berarti mereka harus membentuk tim khusus agar pergerakan komplotan itu bisa terbaca.


"Baiklah, kita pulang, Kak," ajak Terra.


Sejurus kemudian mobil Mercedes yang baru saja ia beli ini pun membelah kota J.


Butuh waktu satu jam perjalanan untuk sampai. Di rumah Bart dan dua pamannya sudah menunggu. Tidak hanya itu ketiga anaknya juga sudah rapi.


Terra mengembangkan senyum ketika sudah keluar dari mobil. Beberapa saat kemudian Virgou datang dengan mobil sportnya.


Membawa banyak mainan untuk ketiga anak Terra. Mainan itu disambut antusias oleh Darren dan Lidya, tapi tidak Rion.


"Hai, my Babies. Daddy bawa sesuatu untuk kalian," ucap Virgou lalu mengajak mereka masuk.


Bart senang atas perubahan cucunya itu. Ia yakin, mendiang adik juga ayah Virgou pasti bangga.


"Aku bangga dengannya yang mau memaafkan ku, padahal jika diungkit. Kesalahan ku begitu besar padanya," ujar Bart sendu.


Terra hanya mengelus bahu kakeknya. Mereka pun masuk. Dan melihat ketiganya sedang bermain bersama pria itu.


Tiba-tiba.


Prang!


Semua terkejut. Lidya sampai menangis. Sebuah batu dilempar dari arah belakang rumah.


Budiman langsung berlari kebelakang dan mengamankan batu yang terbungkus kertas.


Sebuah tulisan. "You Next!" kembali didapat Terra. Bart mengeraskan rahangnya. Siapa yang berani bermain-main dengan cucu-cucunya.


Virgou langsung ingin bergerak. Namun ditahan oleh Terra.


"Jangan gegabah, Kak. Mereka sepertinya terorganisir. Te curiga ada mafia bermain di sini, hanya kita belum punya cukup bukti," ucap Terra dengan datar.


Suhu ruangan mendadak mencekam. Bart yang mantan ketua mafia internasional dulunya, sangat tahu bagaimana komplotan itu bergerak.


"Bagaimana jika kau menjebaknya, Te. Aku bisa membantumu," usul Virgou.


"Tidak, itu terlalu berbahaya!' tolak Bart langsung protes.


"Mama, Iya atut!" pekik Lidya ketakutan..


Terra menormalkan dirinya. Ia beranjak pada ketiga anaknya. Memeluknya dan memberikan kenyamanan.


Bart menyuruh Budiman memperketat penjagaan di sekeliling rumah Terra.


Tim berkata, jika mereka kehilangan lagi jejak peneror. Rupanya benar. Mereka adalah komplotan bunglon.


Terra belum merasa aman, sedangkan hari makin dekat dengan pernikahannya.


Haidar sudah melamar Terra ketika pesta pengenalan keluarga kemarin.


Mereka akan melangsungkan pernikahan di bulan Februari. Terra harus segera menyelesaikan masalah ini.


"Baik Kak, kita pancing dia," Terra pun akhirnya menyetujui usul Virgou.


Terra tersenyum smirk begitu juga semua pria yang ada di situ, kecuali Darren dan Rion.


Sedang Lidya merasa nyaman dalam pelukan ibunya memilih membenamkan kepalanya di dada Terra.


Gadis kecil ini tahu. Sebuah bahaya akan mengancam keselamatan ibunya.


'Ya Allah, syelamatan syemuanya dalam lindungan-Mu ... aamiin," doanya dalam hati.


bersambung.


waduh ... gawat nih ... akan ada perang besar.


next?