TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG



Liburan pun berlalu, tinggal satu hari lagi. Semuanya pun bersiap untuk pulang dan kembali menaiki kereta api cepat. Banyak oleh-oleh dibawa untuk para rekan dan kekasih tercinta. Darren membelikan banyak oleh-oleh untuk Aini dan dua adiknya. Sedang Lidya hanya membawa beberapa oleh-oleh untuk Putri, sahabatnya. Rion tak membeli apa pun ia malas untuk membawa barang dan lagi pula ia tak memiliki sahabat atau pun teman, terlebih kekasih.


Pagi-pagi buta, mereka sudah sampai di stasiun kereta api. Semuanya naik, empat gerbong telah dibooking oleh Herman. Banyak orang-orang berdecak kaget begitu banyak barang di simpan di gerbong khusus paling belakang dan setelah itu tiga gerbong berikutnya. Menandakan betapa kayanya orang yang menyewa.


Kereta berangkat, tak ada keseruan, karena anak-anak masih ngantuk dan memilih tidur kembali. Putri tampak mengedit beberapa foto untuk dijadikan video klipnya. Darren dan Rion begitu gelisah melihat rona merah di pipi saudara perempuannya itu.


"Kakak lagi naksir cowo ya?" tembak Rion langsung.


Lidya tertegun. Ia menatap adik laki-lakinya itu. Diamnya sang kakak membuat Rion berdecih tak suka.


"Ganjen!" sinisnya.


"Nggak Kak Darren, nggak Kak Lidya ... dua-duanya ganjen!" sungutnya kesal.


Remaja itu berdiri dan memilih duduk sendiri. Wajahnya ditekuk. Darren diam. Selama ia menyukai Aini, ia merasa tak pernah mengabaikan dua adiknya itu. Virgou menatap Rion yang memandang jendela dengan mata merah dan basah. Remaja itu sembunyi-sembunyi mengusap air matanya. Virgou mendengkus kesal pada kakak beradik itu.


"Ya, kau dahulukan saja hati kalian. Kau lupa dengan hati adikmu sendiri!" sindir pria itu sarkas.


Virgou tak mendekati Rion. Ia membiarkan remaja itu menenangkan dirinya. Darren merasa bersalah. Selama ini, dia belum menyakinkan adiknya perihal perasaannya pada lawan jenis. Sedang Lidya masih bisu.


Darren berdiri dan duduk di sebelah adiknya itu. Rion menarik bahu dan menjauhi kakaknya, ia masih setia menatap jendela, kereta yang melaju.


"Baby," panggil Darren lembut.


Rion diam. Ia hidung dan matanya memerah karena menahan tangis. Terdengar isakan tertahan dari mulut remaja itu.


Terra hanya melihat dari jauh. Ia ingin tahu, bagaimana Darren menenangkan adik satunya itu.


"Baby, sini lihat Kakak!" pinta pemuda itu lembut.


Darren menarik kuat tubuh Rion yang sudah sama besar dengannya itu. Ia memeluknya. Remaja itu pun menangis dipelukan sang kakak.


"Nggak ada yang berubah Baby, walau Kakak menikah nanti," jelas pemuda itu.


"Kau tetap adikku, babyku, kau kesayanganku dan tak ada yang bisa menggantikan itu," jelasnya lagi.


"Ck ... kau pasti mendahulukan istrimu tentunya!" elak Rion lalu menjauhi pelukan sang kakak.


Darren kembali memeluk adiknya. Ia tahu begitu banyak dilewati oleh mereka bertiga.


Tujuh tahun masa kelam Darren, Lidya dan Rion, sampai mereka menemukan wanita yang mencintai mereka dengan tulus, yang kini mereka panggil Mama. Banyak luka yang mereka lewati bersama.


"Memang, tapi kau kan laki-laki sudah seharusnya kau menanggung dirimu sendiri dan menjaga Lidya. Walau tetap tugas Kakak melindungi semua adik-adik,," jelas pemuda itu.


"Kakak lupa siapa Mama?" tanya Rion dengan tatapan tajam.


"Dia itu kakak perempuan kita, Kak. Kakak lain ibu!" lanjutnya mengingat.


"Jika Kakak menikah, lalu Ion tinggal sama siapa?"


Pertanyaan Rion membuat Darren terhenyak. Ia melupakan hal itu.


"Apa kakak lupa. Jika kita lah yang memaksa memanggil Mama untuk Kak Terra?"


Darren lagi-lagi terdiam.


"Kak Iya mungkin bisa tinggal sama kakak, lalu Ion? Apa Ion harus ngekost atau tinggal rumah sendiri?" tanya Rion lagi gusar. "Siapa yang urus Ion, Kak. Siapa?"


Darren pun masih setia dengan kebisuannya.


Terra yang pindah duduk tanpa sepengetahuan kedua adiknya menutup mulut. Wanita itu tak percaya dengan pemikiran Rion yang begitu jauh.


Terra langsung berdiri dan menatap dua adiknya itu. Rion dan Darren mengangkat kepala mereka. Ada tetesan bening dari pelupuk mata Rion.


"Kau tetap tinggal sama Mama, Baby!' sahut Terra serak.


"Ada apa ini, Kenapa kau sampai berkata begitu?" tanya Bart gusar.


"Ion cuma bingung, Grandpa. Kalau Kak Darren menikah, Ion tinggal sama siapa? Karena selama ini Ion cuma ikut kemana Kak Darren berada," jelas remaja itu.


"Ion nggak tau, bagaimana hidup Ion jika Kak Darren pergi dan memilih istrinya, Grandpa ... hiks ... hiks!"


Pemuda itu menangis. Darren memeluk adiknya. Lidya pun baru menyadari apa yang dikatakan adiknya itu.


"Baby pikir, Grandpa ini apa? Ada aku di sini! Masih berdiri dan akan menyayangimu sampai maut menjemput ku!" tekan Bart gusar.


Bram dan Kanya tertegun mendengar perkataan Rion. Mereka baru mengetahui, betapa tergantungnya bayi besar itu pada sang kakak.


"Kamu bisa tinggal, sama Ayah!" sahut Herman juga.


"Kau lupa punya Daddy, Baby!" Virgou juga menyahut.


"Baby, kamu tak akan tinggal dengan siapapun kecuali dengan Mama!" tekan Terra.


"Tapi Mama bukan Mama. Mama itu Kakak Ion!" sela remaja itu.


"Nggak, Mama ini Mama Baby. Yang tiap malam bangun buat susu Baby. Yang bersihin semua kotoran Baby. Hanya Mama, bukan yang lain!" tekan Terra.


"Mama ... huuuu ... uuu ... Mama ... hiks ... hiks!"


Terra memeluk adik yang menjadi anaknya itu. Darren pun. memeluk keduanya. Ia juga menangis. Benar kata Daddynya, ia melupakan perasaan adiknya. Terutama Rion.


"Maafin kakak yang terlalu egois, Baby," ujarnya mencium pipi adiknya itu.


Lidya ikut duduk di sisi Terra begitu juga Bart. Mereka berpelukan. Haidar sangat setuju jika Rion tetap bersamanya sampai remaja itu menemukan tambatan hatinya.


"Papa juga nggak mau, Baby ke mana-mana," sahut pria itu.


"Entar, kerjaan Papa gimana, trus mana semua adik-adik hanya nurut sama kamu lagi," keluhnya.


Rion tertawa lalu merengek manja. Terra menciumi wajah tampan itu.


"Jangan berpikiran terlalu jauh, sayang. Kak Darren tidak pernah kemana-mana. Ia hanya pindah rumah saja. Di hatinya Mama yakin masih ada kita," jelas Terra..


"Kalian tak akan tergantikan ... tak akan!" tekan Darren lagi.


"Karena jika kami tak berjodoh, ia hanya orang lain, tapi kalian tidak. Kalian adalah belahan hatiku," lanjutnya.


Darren mencium pipi, Terra, Lidya dan Rion. Tak lupa juga mencium pipi Bart. Rion pun lega. Remaja itu punya rumah, punya tempat untuk istirahat dan terlebih ada tempat untuknya pulang.


"Udah ah, sedih-sedihnya. Nanti, Kakak akan kenalin Kak Aini lebih dekat dengan kamu," ujar Darren mengusap air mata adiknya.


"Yakin, Kak?" tanya Rion.


"Yakin dong, emang kenapa?" sahut Darren kembali bertanya.


"Nggak takut, kalo Kak Aini jadi naksir Ion. Secara Ion kan ganteng maksimal," ujar remaja itu sombong.


"Astaga ... nyesel aku ngomong," sahut Darren tak percaya.


Semua terkekeh mendengarnya. Memang Rion jauh lebih tampan dari kakaknya. Terra sangat yakin, semua gadis akan dengan mudah remaja itu dapatkan.


Bersambung.


Iya dong ... Baby ganteng maksimal.


next?