
Keseruan di mansion Herman makin ramai. Setelah heboh Bomesh yang mau menyanyikan lagu dangdut berjudul Mandul.
"Nggak boleh lagu itu Baby!" larang Dav langsung.
"Penata?" tanya Bomesh langsung sedih wajahnya.
Netra jernihnya berkaca-kaca, ia sudah menghapal nada lagu itu dengan baik. Ia sering mendengar tetangga sebelah rumah sering memutar lagu itu. Memang Gomesh tinggal di rumah Maria. Rumah itu berada di perkampungan padat penduduk dengan berbagai status sosial yang beragam.
Makanya tak heran kosa kata Domesh dan Bomesh lebih banyak ketimbang Benua dan Samudera. Berbeda jika dibandingkan dengan Ditya dan Radit.
"Bomesh banji ... eundat batal pales banyina," janjinya lirih.
Melihat wajah memelas bayi tampan itu membuat semua tak tega.
"Baby, sini," panggil Terra.
Balita itu pun menghampiri wanita itu. Dengan lembut, Terra menghapus kelopak mata yang sudah menggenang itu.
"Baby, dengar ya. Lagu itu bukan untuk usia Baby, tapi untuk orang dewasa. Kan, masih banyak lagu anak-anak lainnya," terang Terra.
"Pati ... Bomesh budah bapal ladhuna Mama ... hiks ...!"
Terra gemas bukan main. Ia memeluk bayi itu dan menciuminya. Tapi, Bomesh terlanjur merajuk. Ia tak tertawa walau Terra berusaha menggelitiknya.
"Bomesh!"
Suara ayahnya membuat balita itu pun berhenti merajuk. Ia terpaksa tersenyum. Lidya jadi sedih melihatnya. Ia jadi ingat saat ia dulu selalu dilarang bernyanyi oleh wanita yang seharusnya memberinya kasih sayang tulus sebagai ibu kandung.
Saf dan Terra juga Demian melihat perubahan Lidya yang murung dan melamun. Gomesh merasa bersalah. Akhirnya Dav mengalah. Sungguh, bukan maksud ingin ia membuat suasana semuanya jadi sedih begini.
"Ya, sudah ... Bomesh boleh nyanyi lagu yang disukai deh," ujarnya.
Bomesh tersenyum lebar. Ia pun mengangguk, walau akhirnya ia bernyanyi lagu cicak di dinding.
Terra menghampiri Lidya yang masih terkurung dalam ingatan buruknya.
"Sayang," panggilnya.
Lidya sedikit terkejut, lalu ia tersenyum. Ia menghilangkan wajah murungnya.
"Jangan ingat itu lagi, sayang," pinta Terra memeluk Lidya hangat.
"Iya ingin, Ma. Tapi, kejadian itu melintas lagi. Bagaimana dulu Mama Icha memukuli Iya kalau bernyanyi. Dia mengancam akan menarik lidah Iya kalo nyanyi terus," ujar gadis itu dengan mata menerawang.
"Sayang," Terra memeluk anak gadis itu.
Demian, Dominic dan Jac, sangat terkejut. Bagaimana seorang ibu kandung berbuat kejam seperti itu. Demian sedih bukan main. Ia sangat yakin, betapa berat yang dilalui oleh Darren, Lidya dan Rion.
Darren dan Rion mendatangi saudara perempuannya. Mereka memeluk Lidya yang tiba-tiba hilang dan tenggelam di masa lalunya yang buruk. Fase kaku dialami Lidya. Haidar dan Virgou juga Herman mendekati dan menyingkirkan Darren dan Rion. Mereka memeluk Lidya.
"Sayang, jangan kembali lagi ke sana," pinta Virgou dengan suara tercekat.
Maria, Khasya, Puspita, Seruni, Gisel dan Aini menutup mulut mereka. Sedang anak-anak jadi sedih. Mereka semua diam. Dav merasa bersalah. Sedang Gomesh dan Budiman memilih keluar ruangan, kedua pria itu tak kuat jika melihat nona mudanya seperti itu. Sedang Bart tak henti-hentinya menangis. Hanya Safitri berlaku tenang.
Gadis itu juga melewati banyak kekerasan ketika hidup bersama ayahnya yang ketua mafia. Ia pernah melihat bagaimana sang ayah menembak kepala saudaranya sendiri di depan matanya. Sebenarnya, dia tak sengaja melihat kejadian itu. Berniat untuk bermain dan mengelabui para pengawal yang menjaganya. Justru ia dihadapkan pada suatu peristiwa yang menurutnya menakutkan.
"Lidya berbeda. Dia sendiri lah yang menerima siksaan itu, aku tidak," gumamnya dalam hati.
"Sayang," panggil Terra lembut.
Lidya terkejut. Ia menatap semua orang bersedih.
"Ah ... apa Iya melakukan sesuatu yang buruk?" tanyanya penuh penyesalan.
"Tidak, sayang ... tidak ada yang salah. Mama, tak akan berhenti memberikan kasih sayang yang besar sampai kau lupa dengan semua hal yang menakutkan di masa lalu!" tekan Terra berjanji.
"Bukan hanya Mama yang memberikan kasih sayang. Ijinkan saya juga untuk melakukan itu," sahut Demian tegas.
"Maaf Mama. Iya suka begini jika mengingat masa itu. Sampai sekarang Iya juga berusaha menyembuhkan semuanya, tapi tetap saja setiap ingat. Iya pasti kaku dan tenggelam ke masa yang menyakitkan itu," jelas gadis itu benar-benar menyesal.
Terra sedih. Ia sangat marah pada wanita yang menyiksa Lidya terutama pada ayah kandungnya.
"Ma ... jangan salahkan siapapun. Kejadian itu sudah terjadi," ujar Lidya yang mampu membaca pikiran kakak satu ayah itu.
"Iya, harus keluar dari masa itu. Jadi, mohon kesabarannya ya," lanjut sang gadis meminta.
"Iya sayang. Mama dan semuanya akan menunggu," jawab Terra.
Demian tersenyum. Ia memang harus bersabar lebih banyak lagi. Dominic mengelus bahu putranya.
"Jika kau memang sangat menginginkan Lidya. Mintalah pada Sang Pemilik Hati, Allah," terang pria itu.
"Mintalah Allah agar bisa membalikkan semua kenangan buruk Lidya menjadi hikmah yang baik untuk gadis itu. Kau tak tau bagaimana Lidya menjalani hidupnya. Maka bantu dia melewati semuanya dengan doa," terangnya lagi panjang lebar.
Demian berdiri. Haidar, Virgou dan Herman menghalangi pria tampan itu. Tapi, tatapan Demian yang meyakinkan ketiga pria posesif itu. Membuat ketiganya menghela napas berat. Lalu membiarkan Demian mendekati anak gadis mereka. Pria itu duduk bersimpuh di depan Lidya.
"Lidya Pratiwi Dougher Young!' panggilnya penuh ketegasan.
"Aku memang bukan pria sesempurna para nabi dan rasul ... Imanku juga naik turun. Jujur, aku tak mau berbuat banyak dosa dengan memikirkanmu," lanjutnya lagi.
Lidya memilih jemarinya. Jantungnya berdegup dengan kencangnya, dadanya seperti sesak. Ia menunduk tak bisa menatap lama netra biru milik pria di hadapannya.
"Aku Demian Hasan Starlight, memintamu untuk menjadi istriku. Ijinkan aku membantumu menyembuhkan sisa lukamu!" ungkap pria itu.
Semua terkejut mendengar lamaran Demian. Terlebih tiga pria posesif. Mereka masih belum terima jika ada pria yang lebih baik untuk putrinya.
Lidya menatap ketiga pria itu meminta pendapat. Lalu pandangannya luruh pada sang kakak, Darren.
Darren terdiam. Ia juga masih berat untuk melepas adik perempuannya itu. Terra memegang bahu adik satu ayahnya itu.
"Sayang," panggilnya.
Darren menatap Terra. Wanita itu mengangguk. Pria itu menutup mata dan menghela napas panjang. Semua dilanda bungkam dan jantung yang berdetak. Bart pun juga sudah merelakan, bahkan usia Lidya sudah mau dua puluh tahun.
"Kakak hanya ingin kau bahagia. Jika keputusanmu sudah bulat, kami semua mendukungmu dan mendoakan kebaikan untukmu," ujar Darren akhirnya.
Lidya menunduk. Menghela napas panjang. Lalu perlahan ia mengangguk.
"Iya, Iya setuju mau menikah dan menjadi istri Mas Demian," sahut gadis itu.
Haidar, Virgou dan Herman menangis mendengar jawaban anak gadisnya.
"Kau yakin sayang?" tanya Virgou sesenggukan.
Lidya mengangguk tegas. Pria dengan sejuta pesona itu memeluk gadis mungil, keduanya menangis. Haidar memeluk istrinya.
"Sayang .. jangan bilang ada pria yang jauh lebih baik dariku," ujarnya lirih.
"Tidak sayang. Kau tetap yang terbaik. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Tapi, Lidya memang harus berpindah bakti, ia harus menikah. Ada laki-laki baik yang menginginkannya," jelas wanita itu dengan suara tercekat.
Terra ikut menangis. Khasya mendekati suaminya dan memeluk pria itu yang terdiam. Sedang Puspita dan Seruni juga Gisel saling berpelukan. Dav dan Budiman menunduk begitu juga Gomesh yang berderai air matanya. Maria hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia mengusap lembut punggung suaminya yang bergetar.
Dominic dan Jac merasakan betapa kuatnya hubungan darah itu. Keduanya sangat iri. Dominic yang besar tanpa kasih sayang orang tua, Jac yang ditelantarkan begitu saja oleh kedua orang tuanya juga.
Demian menatap Lidya penuh cinta. Pria itu bersyukur lamaran nekadnya diterima.
"Imi penata mayis pemua syih?!' tanya Sky galak.
"Apa dala-dala Bomesh bawu banyi bandul padi?" lanjutnya bertanya.
bersambung.
ah eh ... ðŸ˜ðŸ˜‚