TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
IKUT LATIHAN PASKIBRA



Hari minggu pagi. Darren tengah mengikuti latihan paskibra. Lagi-lagi ia dipercaya sebagai pengibar bendera. Terra begitu bangga dengan putranya. Jangankan Terra, Haidar juga sangat bangga.


Kali ini rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengantar putra putri mereka berlatih, langsung mendatangi Haidar dan mengucap terima kasih, atas kasus perundungan dari oknum guru olahraga.


"Pak, makasih ya, Pak. Kalau Bapak tidak ambil tindakan, mungkin anak saya memiliki trauma berkepanjangan," jelas salah satu wali murid dengan wajah penuh syukur.


"Iya, Pak. Saya selaku orang tua Vino juga mengucap terima kasih," ucap ayah dari Vino.


"Sama-sama, Pak. Oh ya, apa kabar Vino sekarang, apa konsul psikiaternya baik?" tanya Haidar perhatian.


"Alhamdulillah, Vino jadi jauh lebih berani. Ia sekarang lepas dari bayang-bayang pelecehan itu, Pak. Sekarang ibunya sebisa mungkin menunggui Vino ketika mengikuti ekskul," jelas Iwan, ayah Vino.


"Alhamdulillah," ujar Haidar lega.


Terra yang mendengarnya ikut lega. Tiba-tiba semua anak tertawa melihat tingkah Rion dan Lidya yang ikut berlatih gerak jalan. Rion berusaha menjadi kapten paskibra.


"Palan bi lempat. blak!"


Darren sampai terjongkok menahan tawa. Dua rekannya juga tak dapat menahan tawa mereka. Rion menatap ketiga kakak-kakaknya yang tidak mengikuti arahannya langsung marah.


"Penata petawa!"


Semuanya langsung diam. Mereka berdiri, mencoba mengikuti arahan bayi gembul itu.


Terra mendapatkan telepon dari Virgou.


"Kamu di mana Te?"


"Di sekolah Darren, Kak. Ke sini aja. Te, masih lama loh pulangnya," jawab Terra.


Benar saja, Virgou datang bersama istrinya. Gomesh tiba-tiba menjadi supirnya. Mereka datang langsung menjadi perhatian para wali murid. Pesona Virgou memang sangat luar biasa. Puspita sampai merenggut.


"Ck, sok kegantengan sekali sih kakakmu itu, Te," sungutnya.


"Ya, emang ganteng apa lagi plus para bodyguard yang nggak kalah ganteng. Keknya kecantikan kita pudar deh, gara-gara kegantengan mereka!" sungut Terra berbisik.


"Om Pudi pama Om latsasa, pesimi!" titah Rion dengan angkuh.


Ah, angkuhnya Rion bukannya bikin orang kesal. Tapi gemas bukan main. Bahkan salah seorang ibu hendak mencubit pipi gembul bayi itu. Jika saja Budiman, Gomesh dan para bodyguard lainnya tak menghalangi tangan sang ibu. Mungkin bayi itu akan melempar ibu yang menjawilnya dengan batu.


Jadi bisa dibilang para bodyguard bukan menjaga tuan bayi mereka tapi menjaga para ibu-ibu yang gemas pada Rion.


"Ish pelit amat sih. orang mo nyubit doang," gerutu ibu itu.


"Kalo saya yang nyubit, ibu mau?" tanya Gomesh sambil menunjukan dua jarinya yang besar.


Ibu itu hanya menelan saliva kasar. Ia pun menggeleng. Gomesh kembali ke barisan. Ia ingin ikut latihan tahan tawa bersama Budiman dan tim. Sedangkan Darren dan lainnya tengah beristirahat.


"Patusan ... balan pi sempat ... dlak!"


Benar saja. nyaris semua pengawal tertawa mendengar instruksi Rion. Gomesh nyaris tersedak, sedang Budiman mengikuti instruksi tuan Baby-nya sambil melipat bibir ke dalam.


"Pili ... tili ... panan-tili. Pili ... pili ... pili taban tili!"


Gomesh nyaris menyerah. Budiman sudah tidak tahu entah kaki mana yang harus digerakkan, sedang yang lainnya angkat tangan. Rion melihat pasukannya berkurang. Bayi itu berkacak pinggang dengan wajah garang.


Virgou dan Haidar menatapnya sangat gemas bukan main. Tapi, dua pria tampan itu tak ingin menjatuhkan wibawa bayi mereka. Keduanya kini menjadi tangan kanan dan kiri Rion.


"Pamu ... pamu ... sup ap!" titah Rion pada para pengawal yang terduduk lemas menahan tawa.


"Sup ap?' mereka saling lihat tak mengerti.


Haidar memberi kode kedua tangan saling dorong ke depan. Ketika mengerti barulah mereka melakukan hukuman itu.


"Pitutin Ion. Banan mawes!" titahnya lagi angkuh.


"Siap Tuan Baby!' mereka semua berdiri.


"Basutan ... palan li lempat ... blak!"


"Pida ... pantah ... mabut ... palah!"


Geeerrrr!


Semua tak tahan. Budiman, Gomesh dan lainnya sudah tak tahan menahan tawa. Terra langsung menundukkan mukanya ke lipatan tangan. Haidar dan Virgou juga sudah terbahak-bahak.


Rion yang mendapati semuanya tertawa pun terdiam. Ia kembali berkacak pinggang. Geleng-geleng kepala. Dengan menghela napas panjang. Ia menyudahi latihannya.


"Ah ... pawah ... emba lada ban pelius!' gerutunya.


Bayi montok itu pun mendatangi ibunya lalu merengek dan mengadu. Ia mencebik, ngambek.


"Ya, nanti Mama marahin ya, semuanya," ucap Terra menenangkan bayinya yang hendak menangis.


"Emba mawu manti ... sepalan Mama!' pinta Rion dengan air mata menggenang.


Semuanya akhirnya terdiam. Mereka menunduk. Terra akhirnya mengikuti kemauan bayinya.


"Ah, aku terlalu memanjakan Rion. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku memang suka memanjakannya," gumamnya dalam hati.


Terra mengelilingi para pengawalnya. Darren sudah berlatih di tempat lain dekat tiang bendera. Para bodyguard yang dikelilingi Terra hanya bisa melipat bibir mereka.


"Papa tama Daddy pudha peltawa padi!' adu Rion.


Terra melirik dua pria tampan itu. Dua-duanya juga hanya bisa diam dan melipat bibirnya. Sedang Puspita tengah memangku Lidya yang sudah mulai lelah.


"Mereka dihukum apa, Baby karena telah tertawa tadi?" tanya Terra.


Tiba-tiba Rion menendangi kaki mereka satu persatu. Tentu saja semuanya harus berakting kesakitan. Walau jujur tendangan Rion sangat telak dan terarah dan membuat kulit mereka perih dan memerah.


Hanya Virgo dan Haidar dihukum untuk menangkap tubuhnya. Keduanya harus duduk dan Rion melompat ke arah mereka tanpa arah. Jadi keduanya harus bersiap.


Latihan usai. Darren sudah lelah berlatih. Terra mengusap peluh di dahi pitra sulungnya dengan handuk kecil yang dibawanya. Lidya dalam gendongan Puspita sudah tidur. Virgou menyuruh Gomesh membawa mobil ke rumah Terra langsung sedang ia berjalan kaki bersama, ia pun mengambil alih Lidya dalam gendongan istrinya.


Rion sudah terlelap digendongan Haidar. Bayi itu akhirnya ikut lelah.


Sampai rumah. Haidar dan Virgou meletakan dua bayi mereka di tempat tidur. Terra dan Puspita langsung memasak untuk semuanya. Karena sebentar lagi waktu makan siang. Ketika membersihkan ikan tiba-tiba Puspita mual.


"Huek!'


"Kak, kakak nggak apa-apa?' tanya Terra khawatir.


Puspita menggeleng. Ia memang tak bisa mencium bau amis ikan dari gadis. Makanya dulu Shama yang berkutat dengan ikan.


"Aku ngga bisa dari dulu cium bau ikan," jelasnya.


"Oh, kukira Kakak hamil," tiba-tiba Puspita terdiam.


"Te, kalau lihat tanggal kek nya aku benar-benar isi deh. Soalnya udah dua minggu belum dapet," bisiknya.


Terra semringah mendapat kabar baik itu.


"Coba periksa, Kak. Siapa tahu isi," saran Terra.


"Te belum dikasih kepercayaan nih. Sekarang aja Te, haid," keluhnya lesu.


"Sabar aja. Ada kok yang udah lama nikah juga belum dapat," ucap Puspita memberi ketenangan.


Terra mengangguk. Ia memang harus banyak bersabar. Terlebih Lidya dan Rion masih bergantung padanya.


bersambung.


pili ... pili panan pili ...


next?