TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH PERISTIWA



Setelah lamaran dadakan itu terjadi. Demian makin sering mengunjungi Lidya, baik di rumah sakit atau di yayasan milik gadis itu.


Gio juga makin mendekati Aini. Pria itu sering mendatangi kembali ruang praktek gadis itu hanya sekedar memeriksakan diri.


"Selamat siang, Dok!" sapa pria itu.


Aini yang tengah membuka kotak bekalnya, menoleh dan tersenyum dengan rona merah di pipinya.


"Siang, Mas. Mari makan," ajaknya.


Gio duduk di hadapan sang gadis dengan meja sebagai pembatas. Aini menyerahkan satu kotak makan lagi. Sudah dua hari Gio minta makan dari gadis itu.


"Nggak jaga Dokter Lidya?" tanya Aini.


"Saya sudah minta ijin tadi, ada Felix dan Hendra di sana. Terlebih ada Tuan Starlight," jawab Gio..


Sedang di ruang Lidya memang, Ada Demian dan Jac. Dua pria itu makan siang bersama para wanita. Lidya membawa dua bekal untuk dirinya dan Dem sedang Putri membawa bekal untuknya juga untuk sang suami.


"Ini yang masak kamu, sayang?" tanya Demian ketika menyuap makanan.


"Bukan, Mama yang buat. Iya jarang masuk dapur, malah nggak pernah," jawab gadis itu santai..


"Kalau begitu giliran aku yang bawa makanan untukmu besok," sahut pria itu.


"Emang bisa masak, mas?" tanya Lidya lagi.


"Wah, dia jagonya masak," jawab Jac bangga.


"Nggak jago, tapi sedikit bisa," sahut Demian merendah.


"Kadang Iya suka kesel sih. Mama nggak pernah tuh nyuruh Iya masak atau bantuin beliau. Padahal dari kecil sampai sekarang. Mama itu kalau masak itu selalu dalam jumlah besar," keluh gadis itu panjang lebar.


"Secara yang ada dalam rumah banyak, jadi tangan dia sendiri yang memasak untuk semuanya," lanjutnya.


"Apa para pengawal juga dimasakin Mama juga?" tanya Jac ingin tahu.


Lidya mengangguk.


"Wah, itu kan bukan tanggung jawab Mama?" sahut Demian bingung.


"Iya, tapi Mama selalu menjadikan semua pengawal adalah bagian keluarga. Makanya, Om Gio dan lain-lain tak pernah mau pindah tugas ke tempat lain," jawab Lidya.


Demian kini baru mengerti bagaimana dekatnya para pengawal dengan keluarga Terra. Melihat awal betapa posesifnya Gio dan yang lainnya menjaga Lidya.


Usai makan siang, Demian dan Jac kembali ke kantor mereka, yang memang tak terlalu jauh.


"Kita langsung jaga malam, Bang," ujar Putri memberitahu.


"Aku temani," sahut Jacob.


"Ih, jangan. Abang kan cape, nggak apa-apa pulang istirahat di rumah. Aku pulangnya pagi masalahnya, kalo nemenin mau istirahat di mana?"


Jac pun mengangguk. Padahal ia sedikit segan untuk tinggal di rumah mertuanya. Walau Dipto dan Nania tak pernah mempermasalahkan menantunya tinggal bersama mereka.


"Kan tinggal dua mingguan lagi, kalian baru bisa pindah ke rumah baru," ujar Dipto.


Jac sudah diberi fasilitas dari kantor sebuah hunian sederhana yang tak jauh dari atasannya. Ia juga sudah memenuhi rumah itu dengan perlengkapan rumah tangga.


"Apa aku tak bisa lebih cepat tinggal di rumah itu? Harus sebulan ya?" tanya Jac pada Demian.


"Ya, bisa sih. Tapi emang kenapa kamu seperti tidak betah tinggal di rumah mertua?" tanya Demian.


"Nggak enak lah. Apa lagi kalo hanya ada Mama di rumah, Bapak terkadang ada di usaha mebeulnya," jawab Jac sambil menghela napas panjang.


"Hmmm ... kenapa juga Bapak masih giat usaha?" tanya Demian.


"Katanya badannya tambah sakit kalau diam terus di rumah. Septian juga sering negur," jawab Jac pasrah.


"Ya, bilang sama Bapak dan Mama pas mau pindah, soalnya yang kamu bawa itu bukan kucing," sahut Demian lagi mengingatkan..


"Oke, nanti aku langsung bilang kalo lusa aku bisa pindah sama istriku ke rumah baru," sahut Jac semangat.


Lidya dan Putri mendapat tugas jaga malam. Sedang Aini setelah makan siang ia harus pergi ke perusahaan Darren untuk praktek di sana.


"Dek, aku cinta kamu," ungkap Gio usai makan siang tadi.


"Mau nggak jadi istriku?" pinta Gio langsung.


Aini tersipu malu ketika mendengar ungkapan itu. Ia langsung mengangguk tanpa basa-basi. Gio tersenyum lebar. Ia akan mengatakan rencananya menikahi dokter cantik mantan pacar anak atasannya.


Pria itu kini masih mengawal Lidya bersama dua rekan lainnya. Malam itu tenang, hanya kasus-kasus kecil yang datang. Seperti anak sakit, atau melahirkan.


"Tolong! Ada yang mau melahirkan!" teriak seorang pria berpakaian jaket khas pengemudi ojol.


Seorang wanita dengan perut besar nampak merintih kesakitan.


"Eh, bidan Saf jaga malam nggak?" tanya Lidya. "Dari tadi nggak lihat?"


Tampak sosok bongsor berlari dari ruang bangsal. Ternyata Safitri sedang bertugas di bangsal sejak pagi. Putri telah mendorong brankar.


"Maaf, Masnya siapa ibu ini?" tanya Lidya.


"Saya hanya nganterin aja, kasihan malam-malam di jalan sendirian seperti kebingungan," jawab pria itu iba.


"Oh, makasih ya Mas. Oh ya, ini untuk ganti ongkos ibu itu," ujar Lidya lalu memberikan satu lembar uang seratus ribu.


Ibu tadi sudah dibawa ke ruang bersalin. Saf dan Putri menanganinya.


"Ah, nggak usah Dok, saya ikhlas," ujar pengemudi ojol itu.


"Udah, terima aja. Anggap rejekinya, Mas," ucap Lidya.


Pria itu pun mengucap terima kasih. Lalu memilih duduk di kursi tunggu.


"Loh, kok nggak pulang?" tanya Lidya lagi.


"Pengen tau keadaannya aja, Dok. Biar tenang saya pulangnya," jawab pria itu.


"Tapi, anak istri mas bakalan nungguin, loh?' sahut Lidya.


"Tenang, Dok. Saya masih jomlo," ujar pria itu sambil tersenyum.


Lidya mengangguk Ia pun masuk ke ruang bersalin. Tampak ibu itu mengelilingi ruangan.


"Belum bukaan sempurna, jadi disuruh jalan-jalan dulu," ujar Putri menjelaskan.


"Ibu apa ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanya Lidya.


Wanita itu menggeleng dengan air mata meleleh di pipi.


"Saya dibuang oleh mertua dan juga suami saya," jelasnya. "Waktu itu mertua saya mengajak jalan-jalan. Entah apa yang ia taruh di minuman saya, hingga saya tertidur dan ketika bangun saya ada di terminal bus yang membawa saya ke kota ini."


Lidya terdiam, begitu juga Saf dan Putri.


"Sudah jangan pikirkan itu lagi. Sekarang coba berbaring. Saya mau lihat pembukaannya," ujar Saf.


Wanita itu berbaring. Ia merasa panas di lubang kencingnya. Pinggangnya terasa patah menjadi beberapa bagian. Ia mengerang kesakitan.


"Oke, bukaan sempurna!" ujar Saf.


Wanita itu mengejan dan mengolah napas. Selama delapan bulan ia dibuang. Bekerja serabutan, ia beruntung dikelilingi oleh orang baik. Bahkan ia tinggal di sebuah gubuk bersama seorang nenek. Kini, hanya perempuan tua itu dalam pikirannya.


"Ya Allah, Nek. Maafkan aku, pasti kamu nyariin aku," sesalnya dalam hati.


"Hei ... jangan melamun!" tegur Saf.


Wanita itu kembali mengejan sekuat tenaga. Mengolah napas. Putri mengusap peluh di kening wanita itu. Lidya bersama wanita itu dengan menggenggam tangan dan memberi kekuatan pada wanita itu. Setengah jam berjuang, akhirnya.


Oeek ... ooeek!


Suara keras memenuhi ruangan. Seorang bayi laki-laki tampan, lahir ke dunia.


"Selamat Bu, anaknya laki-laki, ganteng, sehat dan sempurna!" ujar Saf menerangkan kondisi bayinya.


Putri meletakan bayi itu di atas tubuh ibunya. Lidya membuka lebar baju sang wanita agar bayinya bisa mencari keberadaan sumber kehidupannya.


Tok ... tok ... tok! Pintu diketuk.


Lidya membuka pintu, tampak pria pengendara ojol tadi.


"Loh, Mas. Kirain udah pulang!" ujarnya..


"Nggak, saya dengar suara bayinya, apa sudah lahir?" tanyanya penuh antusias.


Lidya mengangguk.


"Boleh saya lihat, nggak?" pintanya memohon.


"Eeumm ... nanti kalo udah dibersihkan ya. Kan ada di ruang kaca, dua meter di sebelah kanan," jawab Lidya.


"Kan belum diadzanin," ujar pria itu.


Lidya terdiam. Pria itu tampak tak sabaran dan langsung masuk ke dalam.


Netra kelamnya menatap wanita yang tengah menyusui. Hatinya berdebar cepat melihat itu.


"Eh, anda siapa?" sahut Saf menegur..


Putri hendak menarik keluar pria itu. Tapi, Safitri yang bisa membaca situasi, langsung menahan suster itu.


"Eh, mang ojol tadi ya?" tanya wanita itu lalu berusaha menutupi dadanya yang terbuka.


Pria itu tersenyum, entah kenapa ada panggilan hati untuk melindungi dan menyayangi wanita yang baru saja jadi ibu itu.


"Perkenalkan, nama saya Cahyo," ujarnya memperkenalkan diri.


Wanita itu menatap wajah manis pria yang memandanginya.


"Saya, Dina," sahutnya..


"Saya mau adzanj putranya," pinta pria itu.


Dina mengangguk. Cahyo mengambil bayi dalam dekapan sang ibu, lalu mengadzaninya. Lidya, Putri dan Safitri menatap penuh haru.


"Sudah diadzani kan?" ujar Saf.


"Bisa keluar dulu, Masnya, kita mau taruh ibu dan bayinya ya," lanjutnya.


Tak butuh waktu lama. Dina sudah berada di ruang kelas satu. Karena tak ada ruang kosong lain.


"Saya bayarnya gimana?" cicitnya takut.


"Udah nggak usah dipikirin," ujar Lidya dengan senyum lebar.


"Makasih ya Dok," ujar wanita itu.


Lidya mengangguk dan meninggalkan ibu itu. Iseng, ia melihat data diri sang ibu.


"Dina Ambarwati Susilo, dua puluh tiga tahun. Menikah dengan Pramono Edhie, dua puluh lima tahun. Seorang pengusaha sukses di kota P."


Lidya menggeleng pelan. Dalam ponsel canggihnya, ia melihat betapa suksesnya pria itu dan kini tengah menjalin asmara dengan seorang model.


"Dia lupa kalo udah punya istri apa?" gerutunya pelan.


"Pasti akan ada drama besar setelah ini," duganya dalam hati.


Tiba-tiba, Cahyo datang membawa dua kantung kresek dan satu paper bag. Lidya tersenyum.


"Mas!" panggilnya.


"Eh, iya Dok!' sahut pria itu.


"Yang di dalam itu masih istri orang loh," ujar Lidya memberitahu.


Pria itu terdiam sesaat. Lalu ia tersenyum.


"Saya tahu," sahutnya.


Pria itu melangkah meninggalkan Lidya. Gadis itu tertawa pelan sambil melangkah, hal itu dilihat oleh Gio dan dua rekan lainnya.


"Nona," panggil pria itu.


"Sebentar lagi, akan ada drama besar terjadi," ujar Lidya dengan senyum penuh arti.


bersambung.


eh ... drama apa ya?


next?