
Rangkaian balon warna-warni membentuk berbagai macam. ada mobil, tembak-tembakan, truck dan lain sebagainya. Tak lupa juga berbentuk bunga-bunga nan cantik sesuai permintaan Lidya.
Di taman depan ada robot yang menjadi among tamu selamat datang. Terra tidak mendatangkan badut. Karena baik gadis itu, ketiga anaknya juga takut sama badut. Terra memilih orang yang memakai kostum robot daripada badut.
Terra mengundang seratus anak yatim piatu. Karena memang Rion belum memiliki teman, terlebih baik Darren dan Lidya juga tidak memiliki teman sepermainan.
Semenjak kejadian sekolah waktu itu. Terra memilih home schooling untuk Darren. Dan pria kecil itu tidak keberatan bahkan nilainya juga sangat baik. Sedangkan Lidya. Gadis kecil itu belum bersekolah. Terra tidak mau membebankan bayi bahwa lima tahun itu mengenyam pendidikan dini. Walau sekarang pendidikan dini menjamur.
Karina datang bersama Raka. Mereka membawa hadiah besar. Raka sangat senang dengan manusia robot yang menyambutnya, bocah spesial itu langsung berbaur dengan anak-anak yatim-piatu yang juga adik bermain.
Terra menyulap taman depan dan belakang menjadi tempat bermain anak. Darren dan Lidya juga sibuk bermain. Rion berada dalam gendongan Terra. Bocah tampan itu memakai baju kaos karakter keropi. Tadinya, ia memakai baju kemeja dan celana bahan. Sayang, baju itu sudah berada dalam keranjang cuci karena ia menumpahkan sirup berwarna merah ke bajunya.
Belum lagi bayi aktif itu tak berhenti merayap kemana-mana mengambil benda apa pun dan melemparnya ke tempat sampah.
"Hai Baby ... happy birthday. Semoga panjang umur, sehat selalu dan jadi anak yang soleh ya ...," sebuah ucapan selamat dan doa terlontar dari Karina.
"Aamiin, makasih Mommy Karin," jawab Terra dengan meniru suara anak kecil.
Rion menatap Terra aneh. Sepertinya bocah itu merasa sang ibu mewakilinya berbicara. Kemudian ia pun menatap Karina dengan senyum lebar, gigi susu Rion juga sudah mulai komplit.
"Acih ...," jawab Rion sambil mengangguk dan mengatup kedua tangan di dada.
"Uuh ... pinternya," puji Karina lalu menciumi Rion hingga bayi itu kesal.
Karina tertawa gemas melihat wajah Rion yang lucu. Lidya pun datang berteriak menyambut Raka dan Karina.
"Mommy Kayyin!" sapanya.
"Hadiah buat Baby Lion mana?"
Ya pertanyaan itu lah yang Lidya lontarkan pada setiap tamu dewasa yang datang. Tadi, gadis itu sangat kecewa ketika Rommy datang lupa membawa hadiah.
"Ck ... Dek Lidya ini. Yang ulang tahun aja nggak nanya hadiah, kok kamu yang ribut," sela Darren mencibir.
"Bialin!" ujar Lidya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lidya ... nanti-nanti nggak boleh gitu, ya," nasihat Terra.
Dengan wajah sedih, Lidya mengangguk. Gadis kecil itu pun berlari menuju Raka yang tengah bermain ayunan bersama anak-anak yatim-piatu. Tampaknya anak-anak itu sangat paham dengan kondisi Raka. Mereka mengalah jika bocah spesial itu menyerobot apa pun mainan yang ada di taman.
"Masuk Kak. Ada Om Sofyan, Kak Rommy sama Kak Aden di dalam," ajak Terra.
Karina mengangguk, kemudian mengikuti Terra. Sampai di dalam. Karina sangat senang dengan dekorasi yang menghias acara ulang tahun Rion itu.
"Karina!" sapa Sofyan. "Apa kabarmu, Nak. Raka mana?"
"Om ... alhamdulilah baik, Raka langsung main di depan, Om," jawab Karina sambil mengulas senyum.
"Kak!" sapa Rommy menjabat tangan Karina.
"Nona," sapa Aden sambil mengangguk hormat dan menjabat tangan Karina.
"Oh ya, Kak. Te ke depan dulu ya, mau ajak anak-anak masuk karena acara mau di mulai," ujar Terra pamit.
"Oh silahkan, Papa sama Mama agak telat datang, karena tadi ada kendala di rumah," ujar Karina.
"Kendala apa Kak?" tanya Terra heran.
"Ck ... kendala orang dewasa," jawab Karina asal.
"Apa itu?' Terra belum paham.
"Hais ... udah sana. Nih, Kakak udah dapet SMS dari Mama kalo mobil mereka sudah parkir di depan. Papa Mama bareng Haidar. Kangen kan kamu."
Terra memonyongkan bibirnya. Gadis itu memang masih polos jika urusan orang dewasa. Benar saja, ketika ia memanggil anak-anak untuk masuk karena acara di mulai. Bram, Kanya dan Haidar datang dengan senyum lebar.
Mereka menciumi Rion. Bram langsung mengambil alih bayi montok itu dan menciumi perutnya hingga Rion tergelak. Kemudian pria itu membawa bayi tampan itu ke dalam bersama Kanya. Kedatangan kedua orang tua Haidar itu di sambut teriakan Lidya dan Raka. Sedang Darren hanya mendekat dan menyalim tangan Bram juga Kanya.
Haidar menatap Terra penuh kerinduan. Pria itu sungguh ingin memeluk dan mencium gadis itu. Tapi, ia masih sayang nyawanya. Karena jika nekat. Maka tak ayal Terra akan menghajarnya.
"Sayang ... aku kangen," ujar Haidar dengan suara mesra.
Rona merah langsung merambat ke pipi Terra. Gadis itu juga merindukan Haidar. Dengan berani, pria itu menggenggam jemari gadis itu, menyalurkan rasa rindu.
Terra menunduk. Sungguh ia sangat malu jika harus menatap wajah kekasihnya itu.
"Hei ... angkat kepalamu. Aku rindu ingin melihat wajahmu," rayu Haidar.
Perlahan Terra mengangkat kepalanya. Haidar menatap netra coklat terang milik Terra. Binaran rindu tampak jelas di sana. Perlahan wajah mereka mendekat.
Lima inci.
dua inci.
"Mama!" teriak Lidya memanggil.
Keduanya tersentak. Terra makin merona malu. Nyaris saja melakukan perbuatan yang menodai kesucian mata Lidya. Sedang Haidar mengelus tengkuk kecewa.
Mereka pun akhirnya masuk dengan saling bergandengan tangan mesra. Memulai acara dengan doa yang di pimpin oleh ketua yayasan yatim-piatu yang di undang oleh Terra.
Tidak ada lagu ulang tahun atau tiup lilin. Terra memandu Rion memotong kue.
Bocah itu sangat antusias. Potongan kue itu di ambil dengan tangannya dan menyodorkannya ke mulut Terra.
Terra langsung memakan kue yang ada di tangan Rion. Bayi yang masih berjalan tertatih itu menyambangi Bram. Ia melakukan hal sama pada pria berusia setengah baya itu seperti Terra.
Kue yang ada di tangan Rion langsung di makan Bram. Hal itu membuat Haidar cemburu. Rion tertawa ketika melihat Haidar menangis bohongan karena bukan dia orang yang kedua mendapat kue.
Kembali dengan jalan yang tertatih, menyambangi Haidar dan memberikan kue yang ada di tangannya. Terbayang bukan satu kue di gigit tiga orang. Kue terakhir masuk semua di mulut Haidar.
Rion tertawa terbahak-bahak. Terra sudah membagikan kue ulang tahun pada Lidya dan Darren juga Raka. Kemudian semua anak yatim-piatu juga kebagian.
Semua yang hadir bahagia. Tak ada raut kesedihan, yang ada hanya tawa. Bahkan untuk pertama kalinya Darren tertawa lepas bersama teman-teman yang berasal dari yayasan yatim-piatu itu.
Acara selesai. Anak-anak panti asuhan juga sudah pulang. Sekarang tinggal kekacauan yang harus di bereskan. Terra memanggil jasa cleaning servis online untuk membantu membereskan sisa-sisa pesta.
Sofyan pamit undur diri begitu juga Rommy dan Aden. Tinggal kedua orang tua Haidar, Karina juga Raka.
Lidya sibuk membuka semua kado. Terkadang wajah lucu nan cantik itu kecewa akan hadiah-hadiah yang dibukanya. Sedang Rion kini ada dalam gendongan Terra. Bayi tampan itu sepertinya kelelahan dan mulai terlelap.
"Sayang ... Mama sama Papa pulang dulu ya. acaranya meriah sekali walau kesan sederhana," puji Kanya sekalian pamit.
"Iya, Mam, Pa ... makasih udah nyempetin datang," ujar Terra sambil mengulas senyum.
Kanya mencium baby Rion yang sudah terlelap dalam gendongan Terra. Tampak bayi itu merengek karena Kanya terlalu gemas mencium bayi montok dan tampan itu.
Bram mengelus rambut Terra dengan sayang, mencium pipi gembul Rion dan mengecup kepala Terra. Tak lupa, mencium Lidya dan Darren.
Karina pun pamit, Raka sudah di gendongan Haidar. Sepertinya pria itu tak bisa berlama-lama mengurai kangen dengan kekasihnya, karena Raka tidak mau lepas dari om kesayangannya itu.
"Aku pulang ya, sayang," pamit Haidar.
Terra mengangguk. Tiba-tiba.
cup.
Sebuah ciuman cepat berlabuh di bibir pink alami Terra. Gadis itu melotot nyaris menendang Haidar jika saja pria itu tak segera kabur melarikan diri.
"I love you. Assalamualaikum!" teriaknya.
"I love you too, wa'alaikum salam," jawab Terra lirih.
Gadis itu menghela napas. Para jasa cleaning servis juga sudah menyelesaikan tugasnya. Setelah membayar dan memberikan tips. Terra meminta bik Ani menutup pintu.
"Pak Deno udah tutup pintu pagar dan langsung di kunci kan?' tanya Terra pada bik Ani.
"Sudah Non," jawab Ani.
"Ya, sudah. Selesaikan semuanya sudah itu istirahat ya. Te, juga capek," titah Terra yang ditanggapi anggukan oleh bik Ani.
"Ayo, Darren, Lidya. Kita bobo siang," ajak Terra.
Lidya dan Darren menurut. Mereka mengikuti Terra ke kamar dan membiarkan kado yang sudah di buka oleh Lidya. Gadis itu tetap sedih karena tidak ada barang satu pun yang di sukainya.
Terra hanya menghela napas dan mengulas senyum tipis melihat kelakuan Lidya.
Setelah ketiga anaknya sudah di atas ranjang. Darren tiba-tiba berkata.
"Ma ... Darren boleh sekolah agama, nggak? Darren mau jadi penghapal Qur'an, Ma."
Terra terharu. Gadis itu langsung mengangguk.
"Tentu sayang. Nanti, Mama akan cari tempatnya ya."
Darren tersenyum lalu mengangguk antusias. Pria kecil itu terinspirasi akibat teman-teman barunya tadi rata-rata bisa mengaji dan hafal beberapa ayat al-qur'an.
"Makasih, Ma."
"Sama-sama, sayang."
Mereka pun tidur dengan senyum mengambang di wajah. Terra menciumi pipi ketiga anaknya. Kemudian ia pun ikut memejamkan mata mengarung mimpi bersama, Darren, Lidya dan Rion.
bersambung.