TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LAGI-LAGI RUMPI BOCAH



Ketika kedua orang tuanya tengah memberi pencerahan pada sang kakak. Di kamar lain Lima anak tengah bercengkrama. Nai memiliki kasur sendiri jadi ia tak tidur bersama saudara-saudaranya. Mereka meminta Rion tidur bersama mereka.


"Tata Ion. Padi ipu tenapa sih denan Ata' Dallen?" tanya Daud mengingat sepanjang hari kakaknya itu berprilaku aneh.


"Iya, mutanya tusut sebeulti paju yan balu dipuci!" sahut Nai.


Rion memang memperhatikan kakak tertuanya itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Seperti memiliki beban berat.


"Kakak nggak tau Baby. Mungkin, sedang urusan hati," jawab Rion sekenanya.


"Pastalah pati?" tanya Sean tak mengerti.


"Emm ... masalah jantung yang deg-degan," sahut Rion lagi.


"Oh ... pati talo eunda dep-depan tita mati, Tata!" sela Al kini.


"Masalah orang dewasa. Kakak juga nggak tahu. Mungkin Kak Darren lagi parah hati," jelas Rion sembarangan.


"Oh ... batah pati!" sahut Nai sok tahu.


"Tata, pesot Kean, Cal, Alimbi, Satlio, Maisya, Affhan syama Pimas mawu bitin dlama ladhi woh," ujar Al memberi tahu.


"Iya, kalian siapkan aja ceritanya mau seperti apa, oteh!" ujar Rion.


"Nai basih tepitilan Tata Dallen," ujar Nai iba.


"Ah, iya, eman tenapa Tata Dallen pisa batah pati ya. Tan bati Tata Dallen butan tayu!" sahut Daud prihatin.


"Iya, tasian ya. Talo udah dedhe batina jadi tayu... euntal bisa mumbuh jadi beusal telus beuldaun," ujar Sean berkhayal.


"Hei itu hati bukan pohon Baby!" sela Rion.


"Loh, beustinya tan beditu Tata Ion. Talo batah ipu tayu," sahut Sean tak mau kalah.


"Iya, eman tayu dalimana talo butan dali bohon!" sela Al membela saudaranya.


Rion menggaruk kepalanya yang memang gatal. Bocah lelaki itu sudah kehabisan kosakata. Ia tak tahu harus menjelaskan jika hati kakak mereka bukan dari kayu.


"Ya, sudah. Yuk, kita tidur. Udah malam. Baca doa!" titah Rion kemudian menguap..


Nai membaca doa sebelum tidur. mereka mulai memejamkan matanya, dan akhirnya terlelap.


Besok pagi semua orang pergi, Darren ke kampus sedang Lidya dan Rion pergi sekolah. Ayah mereka pergi bekerja. Hari ini sang ibu berada di rumah. Wanita itu tengah mengolah adonan untuk pengaman sore.


Nai, Sean, Al dan Daud kembali terlibat percakapan penting dan serius.


"Bihat muta Tata Dallen ladhi eundat?" semuanya mengangguk..


"Nai padhi eunda disium woh!" adunya sedih.


"Woh, eman tenapa pisa Tata Dallen eundat sium Nai?" tanya Al tak percaya.


"Bi wewatin bedituh aja ... hiks!" Adu Nai.sedih.


"Ini basti dala-dala bati Tata Dallen batah teumalin!" sahut Sean tak suka.


"Mama!" pekiknya memanggil sang ibu.


"Hey, kenapa itu teriak-teriak manggil Mama. Ini bukan hutan!" tegur Terra tegas.


"Mamap Mama. Ini Nai nayis ... tatana Ata' Dallen eundat sium Nai watu peldhi!" adunya sekaligus meminta maaf.


"Oh ya?" Terra langsung menyambangi Nai.


Wanita itu memeluk dan mencium putrinya erat. Perut Terra mulai membuncit. Usia kandungannya sudah mencapai lima bulan.


Selang beberapa menit. Khasya datang membawa tiga anaknya. Ia sudah mencapai bulan kelahirannya. Ia akan menitipkan semua anaknya pada Terra.


"Te, Bunda titip anak-anak ya, itu sudah ada susternya juga empat. Jadi bisa bantu ngawasin anak-anak," pinta Khasya.


"Iya, Bun. Jangan khawatir," ujar Terra menenangkan ibu hamil itu. "Nanti juga Kak Ita datang bersamaan dengan para suster. Membantu menjaga anak-anak."


"Ya, sudah Bunda berangkat lagi ya," ujar Khasya kemudian menciumi anak-anak.


Terra mencium dan mengelus perut Khasya yang sudah mengeras dan turun ke bawah.


"Ayah nanti langsung ke rumah sakit kan dari Kota M?" Khasya mengangguk.


Terra mengelus perut Khasya sekali lagi. Wanita itu tampak tenang ketika perutnya diusap oleh kemenakannya itu.


"Jangan banyak pikiran ya Bun," nasehat Terra lalu mencium wanita istri pamannya itu.


"Iya, sayang. Anak-anak Bunda pergi dulu ya, Jangan nakal!"


"Iya Bunda," sahut semuanya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


Khasya pergi di temani seorang suster. Anak-anak kini kembali bergosip tentang kakak mereka, Darren.


"Hei ... talian beuldua tau eunda talo hati Tata Dallen pisa batah?" lapor Sean pada Arimbi dan Satrio.


Dimas yang duduk heran. Ia tak tahu apa itu hati dan patah.


"Pemana tenapa tot pisa batah? Hati Tata Dallen ipu bohon?" tanya Satrio bingung.


"Pisa jadi. Tan cuma Tayu yan Pisa batah!" sahut Al membenarkan.


"Telus, ipu batahna tenapa?" tanya Arimbi ingin tahu.


Al dan Sean mengangkat bahunya, tanda tak tahu.


"Tata Ata' Ion ulusan wowang pewasa," sahut Nai mengingat perkataan kakaknya.


"Oh janan-janan Tata Dallen buna bacal!" terka Satrio.


"Bacal ipu pa'a?" tanya Dimas bingung.


Semua mengangguk mengiyakan pertanyaan Dimas.


"Ipu loh bacalan yan pinta-pintaan. Taya, Papa Mama, Punda, Bayah!" jawab Arimbi.


"Oh mawu jadhi wowang tuwa!" celetuk Nai.


Semua masih bingung. Tak mengerti apa yang tengah terjadi pada kakak pertama mereka itu.


Mereka akhirnya bermain setelah lelah menggosipi kakak mereka.


bersambung.


aduh... dasar bocah...


maaf dikit Othor mendadak pusing.


next?