
"Bu Indah. Raka mana?" tanyanya.
Sang guru yang memang ditugaskan untuk menjaga anak-anak. Langsung terkejut. Ia melupakan murid spesialnya satu itu.
"Tadi masih di sini!' jawabnya sedikit panik.
"Kalau di sini, mana Raka?!' teriak Bu Azmi juga panik.
"Tadi dia main terus ada ...."
Bu Indah menghentikan perkataannya. Ia membesarkan matanya. Ia tak meyakini jika dugaannya benar. Raka dibawa oleh ayahnya.
"Bu, kenapa berhenti bicara!" pekik Bu Azmi.
"Dia dibawa oleh Ayahnya. Tadi saya meninggalkan Raka bersama ayahnya," jawab Bu Indah sedikit tenang.
"Apa Ibu yakin?' tanya Bu Azmi lagi.
"Iya, saya tadi memeriksa identitasnya terlebih dahulu. Alamatnya sama dengan tempat tinggal Raka," jelasnya lagi.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Bu Azmi lega di iringi napas lega guru-guru lainnya.
Namun semuanya kembali panik, ketika Karina datang dan menjemput Raka.
"Apa suami ibu tidak bilang kalau beliau yang menjemput Raka?" tanya Bu Azmi.
Raka memang baru dititip di tempat ini sekitar satu bulan belakangan. Karena Karina begitu sibuk dan tidak bisa membawa putranya itu kemana pun. Ia pun tidak menjelaskan perihal status perkawinannya pada tempat ini.
"Suami? Saya ... tunggu dulu, apa pria bernama Zahinra Adi Wijaya datang ke sini?" tanya Karina.
"Benar, Bu. Bahkan ia mengeluarkan identitasnya dengan alamat sama dengan alamat ibu," jawab Bu indah yakin.
"Sebenarnya kami, sudah bercerai sebelas tahun yang lalu," ucap Karina lirih.
"Maaf, Bu. Kami tidak tahu. Lagi pula identitas ibu juga tidak menerangkan ibu adalah single parents. Atau maaf, janda," jelas Bu Indah lagi.
Karina lemas. Memang ia belum mengganti status e-KTP nya. Kesalahan itu murni karena dirinya. Ia pun langsung pulang sambil mengucap terima kasih pada guru setelah mengambil tas Raka yang tertinggal.
Karina langsung menghubungi ayahnya, Bram.
"Halo, assalamualaikum, Pa!"
"Wa'alaikum salam, ada apa, Nak?' tanya Bram di ujung telepon.
"Pa, Mas Zhain bawa lari Raka, Pa!" lapor Karina sambil menyetir.
"Apa!" pekik Bram diujung telepon.
"Kamu di mana sekarang?' tanya Bram mulai cemas.
"Lagi menuju kantor Papa!" jawab Karina.
"Kamu ke kantor Terra saja. Ia memiliki BraveSmart ponsel. Kita bisa langsung melacak keberadaan Raka dari ponsel itu!"
"Baik, Pa!'
Karina langsung memutar arah menuju kantor Terra. Sedang di ruangan Bram, pria itu mengepal tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras.
"Kenapa, aku tak membeli ponsel genius itu, sih dari dulu!' pekiknya kesal.
Pria itu langsung menghubungi istri juga putranya. Mengabarkan jika Zhain membawa lari Raka.
Haidar yang sedang rapat jurnal menghentikan rapat seketika. Pria itu langsung bertolak menuju perusahaan istrinya. Ia pun mengaku tak memiliki ponsel ciptaan, Darren, putranya itu. Sedang Kanya langsung lemas setelah mendengar kabar itu.
"Apa mau mu Zhain!' pekik Bram dengan muka memerah menahan amarah.
Sedang di tempat lain. Di sebuah mobil. Nampak seorang pria menenangkan seorang anak laki-laki yang mengamuk tak jelas.
"Aaaa ... aaaa!" teriak anak laki-laki itu.
Bahkan tak jarang, ia memukul dirinya sendiri dan memukul-mukul dashboard mobil. Zhain sampai kualahan menenangkannya.
"Sayang ... sayang ... lihat, itu badut joget!' pekiknya sambil menunjuk seseorang di tengah pembatas jalan memakai pakaian badut tengah bergoyang.
Sesaat Raka menghentikan aksinya. Ia melihat badut itu. Zhain memelankan laju mobilnya. Hanya setelah badut itu menghilang dari pandangan Raka. Pria kecil itu kembali berontak.
Zhain terus menenangkan Raka yang berteriak di mobil. Hingga batas kesabaran pria itu habis.
"Kalau kamu kayak gini terus. Papa buat kamu ikut sama badut tadi!" ancamnya lagi.
Raka diam sesaat. Matanya bergerak memutar, pria itu langsung murung. Tiba-tiba dirinya merasa terancam. Raka mulai diselimuti rasa takut.
"Iya ... tolong ...," ucapnya lirih.
"Raka," panggil Zhain sedikit takut dengan prilaku putranya yang ketakutan padanya.
Bukan begini maksud pria itu. Ia ingin Raka nyaman bersamanya. Tetapi, emosinya tadi membuat Raka takut padanya.
"Iya ... tolong!' teriak Raka tiba-tiba.
"Sayang ... sayang ... maaf kan Papa, Nak ... Papa nggak bermaksud ...."
"Iyaa ... tolongib Raka!" teriak Raka lagi.
"Dengar ... dengar Papa, ya. Sebentar lagi kita naik burung ... yuk kita naik burung," bujuk Zhain lembut.
"Nggak mau! Raka takut. Iya ... tolongin Raka!"
"Raka ... Raka dengar, Nak!"
"Nggak ... nggak mau!"
Raka menutup dua telinganya dengan telapak tangan. Ia terus meracau memanggil sebuah nama.
Nama yang selama ini menjadi penenang jiwanya. Nama yang selama ini mengerti akan semua lukanya.
Sedang di tempat lain, Lidya nampak terdiam. Gadis kecil itu merasakan sesuatu bahaya yang besar akan terjadi dan menimpa keluarganya.
Matanya menerawang jauh ke luar sana. Ia merasa bahaya itu makin lama makin dekat. Air matanya meleleh. Gadis kecil itu mulai menangis pilu. Sayang, tidak ada satu orang dewasa yang mengetahui kegelisahan gadis kecil itu. Kecuali. Rion.
"Ata' Iya ... pelapa manyis?"
"Hiks ... Mama ... hiks ... Tata Dallen ... hiks ... Papa ... hiks ... Tata Lata!"
Gadis kecil itu memanggil satu persatu nama, yang menurutnya dalam bahaya. Gadis kecil itu berhenti di nama Raka. Rion memeluk kakak perempuannya erat-erat. Bayi montok itu seakan ingin Lidya membagi kegelisahannya.
"Pidat pa'a-pa'a Ata' ... Ion lada bisimih ...," ujar Rion menenangkan Lidya.
Kembali ke tempat di mana Raka kembali berteriak. Zhain sampai pusing mendengar teriakan Raka. Ia kembali membentak putranya. Hingga membuat Raka kembali ketakutan. Lagi-lagi pria itu meminta maaf pada putranya.
Raka memukuli Zhain. Pria itu sampai kualahan menahan pukulan dari Raka. Ia terus menghindar. Takut terjadi sesuatu di jalan, ia pun menepikan mobilnya.
Kesempatan itu dipergunakan oleh pria kecil itu. Entah dari mana kecerdasan yang tiba-tiba datang padanya. Juga kecepatan gerak untuk membuka sitbelt dan membuka pintu mobil.
Raka berlari sambil berteriak-teriak. Zhain langsung menyusul Raka dan membiarkan pintu mobilnya terbuka. Ia hanya mencabut kunci mobil itu. Seseorang yang baik hati menutup kedua pintu yang terbuka dan langsung terkunci otomatis.
"Pak anaknya kenapa Pak?" tanya orang-orang yang melihat keanehan Raka.
Raka mulai menyakiti dirinya sendiri. Orang-orang yang tadi ingin menolong jadi urung. Mereka takut malah jadi terluka atau melukai bocah spesial itu.
Keributan di pinggir jalan membuat jalanan macet beberapa polisi mencoba menenangkan Raka. Pria kecil itu kembali berlari. Zhain dan para polisi juga ikut mengejar. Semua laju kendaraan dihentikan agar tidak membahayakan jiwa bocah itu.
Sedang di mobil yang berbeda. Terra yang sudah mengetahui keberadaan Raka kini mendatangi lokasi bersama sang suami dan kakak iparnya. Budiman menjadi sopir di sana. Bram juga langsung menyusul mereka.
Di lokasi tempat di mana Raka tengah dirayu oleh beberapa polisi juga sang ayah. Tampak sosok pria yang tengah berada di mobil menyipitkan matanya.
"Raka?" pria itu mengenali bocah lelaki itu.
Ia pun langsung keluar mobilnya dan mendatangi Raka yang mengamuk.
"Raka!" panggilnya.
Raka menoleh. Ia pun langsung memeluk pria itu erat.
bersambung.
wah ... siapa ya pria itu?
next?
banyak kan 3 episodenya ... dukung dengan klik like and komen biar seru.