TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH RENCANA



Terra yang berada di mansion keluarga Pratama, sedang beristirahat dengan sangat nyenyak tanpa gangguan ketiga anaknya. Bram dan Kanya mengambil alih mengurusi ketiganya dan membiarkan gadis itu berisitirahat.


Walau sedikit kesusahan karena Darren yang hanya bisa disentuh oleh Terra. Pria kecil itu memilih mengurus dirinya sendiri. Ia tahu, jika ibunya butuh waktu untuk memanjakan diri.


Karina datang bersama Raka. Raka mengenakan kemeja putih. Bocah usia sebelas tahun itu menjadi dokter dadakan dan bersikeras ingin memeriksa Terra.


"Raka mo periksa Mama Teyaa!' teriaknya ngotot.


"Iya, nanti. Sekarang Mama Teya nya lagi bobo. Jadi Dokter Raka tunggu Mama Teya bangun dulu ya," bujuk Haidar.


Raka tampak berpikir. Lidya mengalihkan perhatian Raka mengatakan jika bonekanya sedang flu.


"Tata Lata. Tolon ini anat Iya syatit teluan inus Dali tadi," pintanya memelas.


Wajah imut Lidya membuat siapa pun gemas. Kanya mencium gemas gadis kecil ini hingga, Lidya kesal.


"Oma ... danan shium-shium Iya. Nanti pipi Iya dobleh!'


"Hah ... apa itu dobleh?" tanya Kanya tak mengerti.


"Dobleh itu memble, Oma," terang Darren sambil menghela napas malas melihat tingkah adiknya.


"Iya nanti pipina membel eundak syantit ladhi!' protes Lidya.


Kanya makin gemas. Ia memeluk dan menggoyang tubuh padat gadis kecil itu ke kanan dan ke kiri. Iya jadi protes dan mengomel. Bukannya berhenti, Kanya makin gemas mendengar omelan Lidya.


Semua tertawa melihat kelucuan gadis kecil itu. Sedang Rion asik berguling sembari memainkan kakinya ke atas. Raka tak mau kalah ikut berguling seperti Rion.


Sementara di sebuah ruangan mewah. Tampak berdiri sosok pria tua dengan balutan jas mahal. Pria itu tampak tak suka dengan berita yang baru saja ia dengar.


"Apa kau yakin jika saat ini Terra berada dalam mansion pribadi keluarga Pratama?" tanyanya dengan gusar.


"Benar, Ayah," sahut pria yang rambutnya juga memutih.


"Ini kantor. Kau lupa peraturannya Herman!" sentak Hardi mengingatkan.


Terdengar dengkusan kesal dari mulut pria yang notabene adalah anak lelaki pertamanya itu. Pria bernama Herman Adia Triatmodjo adalah putra pertama dari pasangan Hardi Triatmodjo dan Gendis Darawangsa. Selain Herman. Hardi juga memiliki dua putri lagi. Yakni Gayatri Triatmodjo dan Hamara Triatmodjo. Hardi dan Gendis telah resmi berpisah selama sembilan belas tahun. Hardi memilih tidak menikah lagi.


"Maaf Tuan!" ujar Herman malas.


"Jaga sopan santun mu. Aku masih pimpinan di perusahaan ini!" sentak Hardi lagi..


Herman hanya bungkam. Pria berusia enam puluh tahun lebih itu hanya mendengkus gusar. Ia sungguh tidak suka akan kedekatan Terra dengan keluarga Pratama.


"Apa lagi yang kau tau selain ini?" tanyanya kemudian..


"Ck ... kurang ajar. Kenapa bisa!" teriaknya tak terima.


Herman hanya mengernyit kening, bingung. Bukankah itu hal biasa dan sah-sah saja? tanyanya dalam hati.


"Bagaimana bisa anak itu menyatukan makam Ayah kurang ajar itu dekat makam Ibunya!" teriaknya lagi.


"Menurut info. Terra malah lebih dekat dengan Ben ketimbang dengan Aura, Ibunya. Walau Ben nyaris membuat Terra terbengkalai. Aku yakin, Aura mendidiknya untuk menghormati Ayahnya!' sela Herman menjelaskan.


Lagi-lagi helaan napas kasar keluar dari mulut pria tua itu.


"Katakan. Bagaimana rencana kerjasama atau tanam investasi kita ke perusahaan Terra?"


"Sayangnya, kita kalah saing dengan perusahaan PT Sekat Djaya. Mereka berani menggelontorkan dana satu miliar hanya untuk proyek uji dan dana dua miliar untuk proyek pengembangan riset," jelas Herman.


"Dasar tidak becus!" teriak Hardi lagi.


"Kenapa kau tidak memberikan proposal dengan harga lebih tinggi!"


"Apa Tuan lupa. Kita tak memiliki dana lebih dari satu triliun tahun ini, gara-gara gagal invest yang Tuan prakarsai sendiri kemarin?"


"Arrgh! Sial! Kau bodoh. Kenapa tidak kau tekan perusahaan itu dan mengatakan jika kita adalah kerabat Terra!" teriaknya murka.


"Siapa yang percaya Tuan?" tanya Herman sambil terkekeh, sinis.


"Argh! Baik jika mereka bermain seperti itu. Kamu siapkan para awak media. Kita adakan konfrensi press!"


"Boleh saya tau untuk apa?"


"Untuk mengumumkan sebuah pengakuan bahwa Terra adalah keturunan dari Triatmodjo, dan semua kepengurusan perusahaan PT Hudoyo, bisa kita ambil alih dengan rumor Terra masih di bawah umur," jelas Hardi.


bersambung.


eh what!


waduh!


edan!


strees!


kakek serakah!