
"Apa katamu barusan?" sebuah suara berat menginterupsi.
Semua menoleh. Rambo menelan saliva kasar tentu saja ia sangat tau siapa pria yang kini dengan mata nyalang menatapnya penuh intimidasi. Bram baru saja mendengar salah satu cucu kesayangannya diusir.
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA.
Bram tengah bersama sang Istri jalan-jalan. Kanya ingin pergi ke sebuah spa khusus wanita yang letaknya tak jauh dari universitas milik suaminya. Guna Pratama Universitas. Kemajuan jaman dan berkembangnya teknologi membuat kampus itu makin besar dengan berbagai macam mata kuliah yang bisa diambil oleh para anak didik selepas lulus sekolah menengah atas mereka. Tak tanggung-tanggung. Bagi yang berprestasi akan mendapat peluang mendapat jabatan penting di salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan pihak universitas.
Guna Pratama Universitas memiliki nyaris seratus kampus. Semua bebas memilih tentu saja ada ujian masuknya. Bagi mereka yang tidak mampu, banyak sekali program beasiswa yang ditawarkan, entah itu beasiswa akademik atau non akademik.
"Mama jadi spa di salon langganan Mama waktu pertama kali ke Indonesia?" tanya Bram.
"Iya, Pa. Pengan nostalgia," jawab Kanya sambil berkhayal.
Bram berdecih tak suka. Karena di sana lah Kanya bertemu dengan ibu kandung Bram.
"Oh, mau mengingat mantan pacarmu yang kumis tipis itu ya?" tanya Bram kesal.
"Kumis tipis siapa?" tanya Kanya bingung. Ia lupa siapa saja mantannya.
"Itu, siapa namanya? Orangnya tinggi kurus kek cacingan!" ujar Bram mengingatkan.
"Huss ... nggak boleh menghina orang!" tegur Kanya tak suka.
Bram mengerucutkan bibirnya. Pria itu masih kesal. Ia jadi ngambek. Tapi, Kanya yang tak begitu peduli, memilih mengabaikan suaminya itu.
"Papa tunggu atau mau jalan-jalan?" tanya Kanya setelah sampai pada bangunan tingkat tiga.
"Mau ke univ!" sahut Bram ketus.
Kanya pun hanya mengangguk singkat. Wanita itu benar-benar tak memperdulikan ambekan suaminya. Ia berjalan dan masuk ke dalam ruko tersebut.
"Ah ... dasar, nggak peka!" dumalnya.
"Pak jalan ke kampus!" titahnya kemudian.
Mobil sedan mewah itu pun meluncur menuju universitas milik pria itu.
"Sudah lama juga nggak ke sana. Aku mau lihat bagaimana perkembangan setelah Haidar mundur dari rektor," gumamnya pelan.
Butuh waktu dua puluh menit. Mobil itu masuk gerbang kampus.
"Pak, kita ke parkiran aja langsung. Saya jalan kaki ke dalam," ujar Bram lagi.
"Baik, Tuan!" sahut Ujang supir baru Bram.
Bram melihat empat mobil yang ia sangat kenali.
"Terra ngapain di sini?" gumamnya bertanya.
"Pak, stop dulu!" titahnya ketika mobil itu mendekati mobil menantunya.
"Lilo, mana Nonamu?" tanya Bram langsung.
Lilo dan Agung menatap pria yang bertanya padanya. Mereka membungkuk hormat.
"Nona di kampus Tuan. Ada masalah yang melibatkan Nona muda dan Tuan muda," jawab Lilo.
"Oh, oke. Makasih!" ujar Bram.
"Sama-sama Tuan!"
"Pak kita langsung ke lobby kampus aja!" titah pria itu.
Bram sangat yakin jika menantunya ada di ruang dewan disipliner universitas. Sebenarnya ia banyak mendengar keluhan dari para mahasiswa tentang banyaknya peraturan diubah seenaknya oleh rektor baru. Pria itu ingin melihat langsung.
"Apa yang terjadi pada anak-anak?" tanyanya gusar.
Mobil itu berhenti di depan lobby kampus. Ia meminta supir untuk menunggu. Ketika sedikit masuk ke dalam ia mendapati tiga belas pria pengawal anak-anak dan Terra tengah berdiri menunggu dengan tubuh tegap.
"Apa yang terjadi?" tanya Bram langsung.
Rio pun menjelaskan duduk perkaranya. Ia mengatakan jika nona muda dan tuan mudanya berkelahi dengan para preman. Mereka menyusul karena atasan mereka tidak datang-datang.
"Begitu Tuan," ujar Rio.
"Ck!" Bram berdecak kesal.
Pria itu langsung membuka pintu. Dari sana lah ia mendengar jika dewan disiplin baru saja mengusir salah satu cucu kesayangannya.
*******
"Kau mengusir cucuku?" tanya Bram tak suka.
Terra mendekati ayah mertuanya. Ia menenangkan pria tua tampan itu.
"Pa, tenang."
"Nai, Kek!" jawab remaja itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bram lagi.
Nai menceritakan apa yang terjadi. Ternyata, Kevin lah biang masalahnya.
"Kek, ternyata korban Kevin banyak. Ia memanfaatkan beberapa mahasiswi dan menyebarkan foto ciuman. Sama yang ia minta pada Nai," jelas Rion menyerahkan BraveSmart ponselnya.
Bram melihatnya tampak wajahnya memerah menahan amarah. Terra berkali-kali menenangkan ayah mertuanya itu.
"Kau langsung memanggil wali cucuku tanpa bertanya langsung apa kejadian sebenarnya?" tanya Bram lagi pada Rambo.
Pria dengan kumis melintang itu menunduk. Tapi, ia adalah dewan disiplin. Apa yang ia lakukan adalah benar.
"Saya menjalankan tugas!" sahutnya pongah.
"Menjalankan tugas batukmu!" bentak Bram keras.
"Saya akan melayangkan kotak keluhan!" ujar Bram.
Rambo menelan saliva kasar. Pria itu tak berkutik sama sekali. Jika dewan paling atas turun tangan. Pria itu akan menjalani nasibnya.
"Kita akan lihat. Sejauh mana tugas yang kau jalankan itu!" ujar Bram.
"Sekarang di mana begundal itu?" tanyanya datar.
Rambo hendak menjawab bohong. Sayang sudah keduluan Rion.
"Ada di klinik, Kek. Mereka babak belur dibuat oleh Om Rio cs!"
"Kita ke sana!" ajak Bram, pada semua. "Ayo!"
"Selesaikan dulu urusan ...."
"Rambo Gusmardi, besok Anda datang ke dewan kepala universitas!" titah Bram.
Rambo memukul mulutnya. Ia terlalu lancang bicara. Semuanya meninggalkan pria yang kini langsung terduduk merenungi nasibnya.
Bram hendak melangkah membuka pintu klinik yang tak jauh dari ruang disipliner.
"Eh, kalian gimana sih. Masa lawan mereka bisa kalah!"
Bram mendengar suara pria yang marah-marah. Pria itu urung membuka pintu, ia memilih merekam percakapan itu.
"Tapi, mereka bertiga belas, Boss!" sahut salah satu preman.
"Lagian Boss juga langsung tepar gitu kena gampar Ama tuh cewek kan?" tanya preman itu menyindir.
"Eh, gue tepar karena gue belum makan!" elak Kevin.
"Lagian masalahnya apa sih Boss?" tanya preman.
"Nggak ada. Gue cuma kesel, dia nggak ngelirik gue!" jawab Kevin.
"Lah, Boss bukan selera tuh cewek kali?" sahut salah satu preman.
"Bangsat Lo, mau nggak gue bayar Lo!" ancam Kevin.
"Apa Lo bilang? Lo nggak mau bayar kita-kita?" sergah preman mulai naik pitam.
Kevin salah bicara. Ia terdiam, walau sejurus kemudian ia tersenyum miring.
"Kalian berani Ama gue?" tanya Kevin sinis.
"Lapak Lo itu dari bokap gue!" ingat Kevin.
Kini preman itu pun terdiam. Mereka tahu siapa ayah Kevin. Pria berdarah Inggris salah satu anak buah mafia. Mendengar nama mafia saja kesepuluh preman itu sudah ketakutan.
"Gue pastiin bokap gue dan tim dari "TheManiac" ngabisin kalian!" ancamnya.
"Bagus ... bagus sekali!" seru Bram masuk sambil tepuk tangan.
Kevin menoleh. Sosok pria berbalut pakaian kasual yang sangat mahal. Terlihat dari kualitas baju. Kevin sangat kenal, baju dari branded yang sama ia kenakan.
"Anda siapa?" tanyanya tak suka.
"Perkenalkan saya adalah Bram Hovert Pratama! Pemilik Universitas ini Kakek dari gadis yang kau rendahkan!" jawab Bram penuh penekanan.
Terra hanya bisa menghela napas panjang. Padahal tangannya sudah gatal untuk menjitak satu persatu kepala sebelas pria yang mukanya babak belur itu.
bersambung.
ah ... Kevin ... ucapin selamat tinggal sama beasiswa mu.
next?