
Hari berlalu. Rommy sudah kembali dari luar kota. Rio asisten pribadi Rommy memberi laporannya pada Terra.
"Kak. Te pulang cepat ya. Meeting tadi laporannya udah Te serahin sama Kak Aden. Nanti, kakak bikin neracanya aja. Besok kita rapat lagi biar kuat," ujar Terra memberi perintah.
"Oh, sip lah. Toh, kerjaan penting nggak ada lagi. Sudah tertangani," sahut Rommy.
Terra memanggil Jhenna. Menyuruh gadis itu merinci semua laporan hasil meeting setelah berkas diberikan oleh Aden.
Sandra datang dengan pakaian formal ketat. Bau harum menguar dari tubuh gadis itu.
"Boss Rom, udah balik..Gue harus ngasih peforma yang terbaik. Gue sih yakin kalo Boss Rom itu CEO sebenarnya, bukan Terra," gumamnya bermonolog. Gadis itu yakin dengan asumsinya sendiri.
Aden keluar membawa berkas. Tiba-tiba, Sandra menghampirinya. Lalu dengan cekatan ia mengambil berkas dari tangan Aden dan langsung berlalu meninggalkan atasannya itu.
Aden cukup terkejut dengan prilaku, Sandra, sekretarisnya itu. Pria itu melipat tangannya di dada. Ia sudah melaporkan Sandra. Kacakapannya ketika interview berbanding terbalik ketika ia bekerja.
"Lulusan terbaik tak menjamin kwalitas diri," sahut Aden sambil geleng-geleng.
Sandra asal masuk tanpa mengetuk pintu bahkan melewatkan Jhenna yang duduk di sana.
"Selamat siang Pak. Ini la ...."
Ucapan Sandra berhenti. Rommy sedang memangku seorang wanita hamil. Dessy Aprilia Yuswandari, istri Rommy datang membawa makan siang. Wanita hamil itu sudah bertemu Terra tadi di lift. Mengusap dan mencium kandungannya sebentar lalu pamit pulang.
Melihat pemandangan romantis di depannya membuat Sandra tiba-tiba terdiam. Rommy sangat marah.
"Kamu nggak bisa ketuk pintu? Lagi pula siapa yang suruh kamu masuk!" bentak Rommy.
"Mas," panggil Dessy menyabarkan suaminya.
"Mana atasanmu. mestinya atasanmu yang datang memberikan laporannya dan kamu hanya mengikuti dan mencatat semua hasil laporan!"
Sandra menunduk. Aden masuk. Ia hanya menggeleng kepala. Lalu mendekati Sepasang suami istri itu. Bersalaman dengan Dessy sambil bertanya kabar kehamilan wanita itu.
'Sekarang kamu keluar!" titah Rommy.
Sandra hanya mematung. Kakinya seperti dilem lengket dengan lantai.
"Apa kau tuli!" bentak Rommy lagi.
"Mas!" peringat Dessy.
Rommy mendengkus kesal. Sandra berlalu. Jhenna hanya menggeleng, kemudian berlalu menuju kantin.
"Ih ... sebel-sebel!' sungutnya kesal bukan main. Walau hanya berani dalam hati.
Gadis itu pun pergi ke kantin untuk makan siang. Sedang di ruangan Aden tengah menikmati makan siang bersama dengan Rommy dan istrinya. Usai makan. Dessy pamit pulang.
"Nggak nunggu, Tuan pulang kantor aja, Nyonya?" tanya Aden.
"Nggak ah. Aku mau langsung berbaring aja. Kehamilanku ini membuatku cepat lelah. Lagian rumah kita juga deket kok," jawab Dessy enggan.
"Pake kamar ruangan ini aja!' usul Aden.
"Nggak ah, aku nggak berani. Lagian ruangan ini kan milik, Non Terra," jawab Dessy lagi-lagi menolak.
"Iya, nggak enak. Aku ini ruangannya numpang di sini. Kan ruangannya belum jadi tuh di sebelah," ujar Rommy menunjuk ruangan yang tengah dibangun.
Rommy mengantarkan istrinya hingga lobby. Wanita itu menaiki mobil suaminya, yang dikendarai sopir pribadi.
"Hati-hati ya Mas Koko!" ujar Rommy pada pria berusia tiga puluh empat tahun itu.
"Baik, Tuan!" sahut Koko.
Mobil itu pun meluncur menuju rumah besar milik Rommy. Pria itu pun kembali ke ruangannya menuju lift khusus. Ia menoleh pada dua lift satunya lagi di mana lift itu memang diperuntukkan para pekerja lain. Mereka mengantri sebagian menaiki tangga darurat karena hanya terletak satu lantai di atasnya.
Sandra yang tengah berlari menuju lift, melihat Rommy juga tengah menaiki lift khusus itu. Dengan percaya diri ia bergegas menuju pria itu. Rommy masuk lift. Pintu perlahan menutup.
"Tunggu!" teriak Sandra.
"Ih ... sebel!" pekiknya kesal.
Ia mencoba memencet-mencet tombol agar pintu lift terbuka. Sayang. Tombol itu memang hanya khusus diperuntukan atasan perusahaan itu. Tombol itu hanya merespon sidik jari Terra, Rommy dan Aden. Lagi-lagi gadis itu menghentakkan kakinya kesal. Ia pun menuju lift di mana orang-orang mengantri.
Ketika di ruangannya. Sandra menghempas kuat tubuhnya di kursi. Telepon di mejanya berdering. Dengan malas ia mengangkat benda itu.
"Sandra ke ruangan ku sekarang!" titah Aden.
"Baik, Tuan," Sandra mengangkat berat badannya.
Dengan langkah dipaksakan. Ia masuk begitu saja tanpa membawa catatan.
"Tolong atur jadwal kita besok. Kita akan mengadakan jamuan sebagai acara rapat pemegang saham. Jangan lupa makanannya, tolong kamu minta bagian kantin untuk mengaturnya. Apa kau mengerti?"
Sandra bergeming. Pikirannya entah kemana. Aden benar-benar tak habis pikir. Kemana kepintaran juga kecekatan gadis itu ketika masa interview. Bahkan gadis ini belum satu bulan bekerja. Performanya tak menunjukkan kualitas sama sekali.
"Sandra!" panggil Aden meninggalkan suaranya.
"Ah, ya Tuan!" sahutnya.
"Apa kamu dengar apa yang saya katakan tadi?" tanya Aden dengan pandangan entah.
"Ah ... emm ... anu," Sandra gelagapan.
"Kamu tidak bisa saya pertahankan. Silahkan kamu berikan surat pengunduran diri kamu sekarang juga!" titah Aden tegas.
"Tuan pecat saya?!" pekik Sandra berani.
"Loh kenapa tidak? Saya punya kuasa untuk itu!" sahut Aden tak kalah berani.
"Nggak bisa seenaknya gitu dong, Tuan!" seru Sandra tak terima.
"Loh, yang seenaknya siapa sekarang. Kamu atau saya!" bentak Aden tak terima.
"Saya tak mau dipecat. Tuan tidak punya hak. Hanya bisa pecat saya hanya Boss Rommy ...."
"Kalau begitu kamu saya pecat!" tiba-tiba sebuah suara memotong perkataan Sandra.
Gadis itu terkejut bukan main. Rommy datang dan langsung memecatnya. Ia tidak terima.
"Jangan gitu lah Boss!"
"Loh, bukannya kamu tadi bilang kalau saya yang berhak mecat kamu. Sekarang kamu saya pecat. Silahkan pergi dari kantor ini. Minta uang lelahmu selama tiga minggu bekerja di perusahaan ini!"
Sebuah perintah yang tak bisa dibantah. Sandra terdiam.
"Saya sudah mulai muak dengan kinerjamu. Saya kira apa yang kau perlihatkan ketika interview itu sama dengan kinerja anda. Makanya, kami memilih anda sebagai kandidat terbaik. Sayang. Anda sangat mengecewakan!" ungkap Rommy penuh kekecewaan.
"Terlebih apa yang anda pakai sekarang?" ujar Rommy jijik menatap pakaian yang dikenakan Sandra.
"Kamu mau menggoda siapa?" sindir Rommy sarkas.
"Sekarang silahkan kamu keluar dari perusahaan ini baik-baik sebelum saya mem-blacklist anda!" sebuah ancaman terselip.
Sandra menunduk. Ia tak bisa berkutik. Bahkan untuk meminta satu kali kesempatan pun tak bisa. Aden sudah tidak mau bekerja dengan gadis itu.
"Carilah pekerjaan di tempat lain. Berusahalah dengan baik di sana," saran Aden bijak.
Sandra mengangguk. Ia pun membereskan mejanya. Lalu pergi kebagian HRD juga divisi keuangan untuk mengambil jatahnya.
bersambung.
dadah ... Sandra!
nextm