TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEJUTAN MENYAKITKAN 2



Esok hari. Terbongkarnya sektor D, membuat semua pemburu berita mendatangi area yang tidak pernah diketahui publik itu.


Hal ini membuat Bram sangat terkejut. Pria pebisnis sekelas Bram tentu tahu apa itu sektor D. Sebuah sektor yang sangat rahasia bahkan banyak oknum pemerintah memainkan misil mereka di sana.


"Bagaimana sektor itu bisa terkuak?" tanyanya pada Fabian, asisten pribadinya.


"Menurut info ada yang meretas data sektor D hingga terkuak," jawab Fabian dengan ekspresi tenang.


Haidar datang dengan langkah tergesa-gesa. Pria itu berwajah suram. Bram mengernyitkan dahi melihat mimik muka putranya itu.


"Ada apa. Kenapa wajahmu begitu?" tanya Bram lagi.


Belum Haidar menjawab, sosok pria yang merupakan asisten putranya hadir dengan mimik sama dengan atasannya.


"Hei kenapa kalian berdua?" tanya Bram kesal.


"Seseorang mengaku Paman Terra datang, Tuan," jelas Abi, asisten Haidar.


"Apa?!" teriak Bram tak percaya.


"Berani sekali ia menampakkan diri setelah apa yang dilakukan keluarga mereka?!" teriaknya murka.


"Pria itu tadi datang ke kantor, mengatakan jika hari ini Hardi akan mengatakan ke publik melalui media televisi, jika Terra adalah cucunya. Dan menyebarkan rumor pada pebisnis jika ia akan mengambil alih perusahaan Terra dengan dalih gadis itu masih di bawah umur!" jelas Haidar dengan wajah menahan kekesalan.


Bram terduduk di kursinya dengan mengusap wajah kasar. Ini lah yang ia takuti, rumor antar pebisnis mampu merubah haluan para investor. Mereka pasti beramai-ramai akan memundurkan investasi mereka dan menyuruh agar pergantian CEO di perusahaan milik mendiang sahabatnya, Ben dipercepat.


Taruhannya pasti bukan hanya perusahaan, tapi kredibilitas yang sudah Terra bangun selama ini akan sia-sia. Dan Bram tidak bisa membantu banyak untuk itu.


"Maaf Tuan. Sepertinya keinginan Tuan Hardi untuk melakukan konferensi pers dibatalkan oleh Daily news," ujar Fabian.


Pria itu mendapat informasi jika, semua awak media tidak ada yang mau datang ke perusahaan Hardi. Karena berita tentang terkuaknya sektor D, lebih menarik minat para pemburu berita..


"Ah ... benarkah?" tanya Bram sedikit lega.


"Dan sepertinya, hal itu membuat Tuan Hardi shock dan harus dilarikan ke rumah sakit," jelas Fabian lagi.


Bram manggut-manggut. Bukannya ia bersyukur atas sakitnya Hardi. Tapi, dengan sakitnya lelaki tua tak tahu diri itu, sedikit melegakan pikirannya.


"Kita harus memberi tahu perihal siapa itu Hardi Triatmodjo," ujar Bram dan semuanya mengangguk membenarkan.


"Tapi yang mengatakan itu harus Herman, pamannya sendiri. Kita akan lihat apa reaksi Terra nanti," ujar Bram lagi.


"Pa, aku dengar sektor D terkuak. Apa Papa tau siapa yang mampu membongkar sektor terbesar itu?' tanya Haidar.


Pria itu kini berjalan menuju kursi di depan meja ayahnya dan menjatuhkan bokongnya sambil menyilangkan kaki kirinya.


"Papa tidak tau, karena baru juga mendengar kabarnya tadi. Bagaimana berita menurut info yang beredar Fab?"


"Menurut info yang saya dapatkan. Pihak interpol yang meretas akses data hingga sektor D terkuak, Tuan," jawab Fabian.


"Katakan, apa gambar pemandangan anak SD yang meretas data tersebut?' tanya Bram ketika teringat sesuatu.


"Sepertinya, tapi kini bukan pemandangan gunung dan matahari seperti biasanya," jelas Fabian lagi.


"Apa?"


"Pemandangan laut dengan banyak ubur-ubur," jawab Fabian lagi.


"Ah ...!" Bram pun mulai terkekeh.


"Apa itu ...."


"Oh ya, apa ada kerjaan lain yang harus kita urus Fab?' tanya Bram memotong ucapan Haidar.


Haidar yang sadar jika tak boleh sembarangan menyebut nama yang ia ketahui sebagai peretas kandang mafia, bungkam. Ia nyaris membocorkan sesuatu. Bram hanya memandang malas putranya yang kini hanya bisa nyengir kuda.


********


Di sebuah ruangan ektra lux, sosok pria renta tengah terbaring tak berdaya. Ruangan dengan fasilitas mewah yang bernilai fantastis.


Herman mendatangi sosok yang berbaring lemah itu, menatapnya seperti entah. Pria itu kadang merasa kasihan, terkadang juga senang dengan apa yang terjadi pada sosok lemah itu.


Hardi melirik putranya. Ia tak bisa melakukan apa pun, bahkan untuk bernapas saja harus dibantu oksigen. Herman tersenyum miris.


"Kau tau Yah. Melihatmu seperti ini kadang membuatku sedih," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


"Namun jika mengingat sepak terjangmu selama ini. Aku jadi bersyukur," lanjutnya.


Hardi marah mendengar putranya menyukuri kesakitannya. Pria itu meruntuki dirinya yang lemah saat ini, hingga tak mampu melakukan apa pun.


"Kau tau Tuan. Dengan sakit mu, nilai saham jadi merosot. Terlebih tidak ada yang menduduki kursi kepemimpinan saat ini. Aku hanya menunggu sebentar lagi kita akan tidur di jalanan seperti gembel," ujarnya sambil terkekeh..


"Karena keserakahan mu yang ingin menduduki kursi itu sendirian, hingga kau tak mau mewariskan atau mengatasnamakan kekuasaan mu sebentar pada putramu sendiri."


Tiba-tiba sosok gadis cantik masuk sambil menangis.


"Kakek ... Kakek .... huuu ... uuu!"


"Berhentilah bersandiwara Alea!" sentak Herman dengan nada tidak suka.


"Siapa yang bersandiwara Paman! Aku memang mengkhawatirkan kondisi Kakek ... hiks ... hiks!"


Herman memutar bola mata malas. Pria itu memilih meninggalkan Alea bersama dengan Hardi. Dua manusia itu cocok satu sama lain. Serakah.


bersambung.