
"Virgou!"
Pria itu nampak terkejut, tiba-tiba ia berbalik, hendak melarikan diri.
"Stop him!" teriak Bart pada sepuluh pengawalnya.
Virgou ditangkap saat itu juga. Pria itu tak bisa berkutik. Terra masih bingung dengan apa yang terjadi. Sedang Haidar masih terus di sisi kekasihnya.
"We need to go somewhere more private." (kita harus ke tempat yang lebih privasi) ujar Bart.
Terra kembali mengajak ke sebuah ruangan meeting. Menyuruh orang-orang untuk mengosongkan ruangan, karena nanti dipakai untuk pesta pengenalan keluarga juga memantapkan hubungannya dengan Haidar ke publik.
Virgou diseret ke ruangan itu. Terra menyuruh, orang-orang membawa ketiga anaknya untuk ke ruang kerjanya. Aden bersama beberapa orang membawa Rion dan Lidya ke ruangan kerja Terra sedang Darren langsung membuka ponsel ciptaannya.
Pria kecil itu menolak untuk ikut serta Aden bersama adik-adiknya.
"Darren mau sama Mama. Melindungi Mama dari pria itu!" saut Darren dengan wajah marah menunjuk Virgou sebagai tertuduh.
Pria itu menyipit ketika melihat sosok Darren. Ia mengingat-ingat sosok itu, seperti ia pernah lihat.
"Virgou, bisa jelaskan apa yang kau lakukan di sini?!' sentak Bart.
Virgou hanya menghela napas. Sungguh pertemuan dengan kakeknya ini sangat ia hindari. Ia paling takut dengan pria tua ini.
"Aku hanya ingin membeli chip data milik Terra," jawab Virgou enteng.
"Darren memergokinya berciuman dengan mendiang ibu Darren dan membawanya ke kamar tidur," sela Terra dengan tatapan jijik pada Virgou.
Kini barulah Virgou menyadari siapa bocah lelaki yang kini menatapnya dengan pandangan tajam menghunus. Pria itu menggaruk pelipisnya. Ia mencoba menantang tatapan. Darren, tapi Terra menghalangi tubuh pria kecil itu dengan dirinya. Gadis itu berbalik menatapnya dengan sorotan lebih tajam.
"Kau menyelingkuhi istri pamanmu sendiri?!" teriak Bart tak percaya.
Terra makin bingung. Gadis itu bertanya siapa Virgou.
"Dialah kakak sepupumu, Terra. Kakak sepupu yang membenci Pamannya tanpa kejelasan!"
Terra membelalakkan mata. Virgou yang disudutkan hanya mendudukkan dirinya santai.
"Setelah apa yang kau lakukan, kau bisa sesantai ini, Vir?" teriak Frans tak habis pikir.
"Lalu aku harus apa. Aku belum berhasil menghancurkan Ben. Kini, dia sudah tidak ada. Bagaimana jika aku kau nikahkan dengannya!" ucap Virgou santai.
"Kau gila. Dia adikmu, darahmu sama dengannya!" teriak Bart lagi.
"Aku Pristers!" sela Virgou dingin.
"Kau seorang Dougher Young sama dengan Terra juga seorang Dougher Young!" teriak Bart.
Virgou hanya mendengkus kesal. Menopang kakinya santai. Sungguh Terra ingin menghajar habis-habisan pria tak tahu diri ini.
"Katakan, kau yang membunuh Ben!" tuduh Bart kemudian.
"Kau gila pria tua!" teriak Virgou murka.
"Jaga ucapanmu, Virgou!" teriak Leon lagi.
"Aku memang ingin menghancurkannya, tapi tidak membunuhnya, membuatnya mati itu tidak menyenangkan!" pekik Virgou gamblang.
"Tapi gara-gara kau, anak-anaknya disiksa ibunya!" teriak Bart tak habis pikir.
"Itu bukan urusanku. Aku memacari ibunya, memang. Bahkan aku saja tak habis pikir, Ben bisa sampai memiliki anak hingga tiga," ujarnya enteng.
"Jujur, aku menyuruh Firsha untuk menjebak Ben, agar mau dengannya. Tapi, aku tak tahu kapan perempuan itu akan menjebak pria bodoh itu dan di mana, aku tak tahu," jelas Virgou lagi.
"Ayahku tidak bodoh!" teriak Terra tak terima.
"Cis ... dia itu bodoh. Masa bisa terjebak sampai memiliki anak tiga. Apa namanya itu kalau bukan bodoh?!" sergah Virgou sarkas.
Terra ingin sekali melempar wajah tampan dan memiliki pesona luar biasa itu dengan air keras. Agar rusak wajah menyebalkan itu. Tapi, ia tak memungkiri perkataan sepupunya, ayahnya memang bodoh.
"Soal perkara Firsha menyiksa anak-anaknya juga aku tidak tahu dan itu bukan urusanku, perkara dia mengetahui putranya itu memergoki kami berselingkuh," ucapnya enteng.
Bart memukuli bahu Virgou kesal. Pria itu tak habis pikir dengan apa yang diinginkan anak dari kemenakannya itu.
"Dengan menghancurkannya, berarti kau membunuhnya, bodoh!" umpat Bart kesal setengah mati.
"Ben selalu mengalah padamu, dia memberikan semua usahanya di London untukmu. Bahkan ia rela pergi dari rumah untuk menghindarimu. Lalu kenapa malah kau mencarinya lagi!" ujar Frans ikut-ikutan kesal.
"Karena aku iri!" teriak Virgou.
Semua diam.
"Kalian mengelu-elukannya tanpa melihat hasil perjuanganku!" teriaknya lagi penuh emosi.
Mata Virgou memerah. Pria ini ingin menumpahkan kekesalannya.
"Kalian selalu menyudutkan aku, bahkan Papa menyuruhku agar seperti dia!"
"Kalian dengan entengnya berkata, aku tak bisa sesukses Ben sialan itu!"
"Aku selalu kalian hina karena menjadi nomor dua setelah Ben!"
"Karena itu, ayah dan kakek memukuliku dan menghancurkan semua hasil jerih payahku!"
Terra melihat kesakitan di mata Virgou. Begini kah orang yang sudah memiliki dendam mengakar. Virgou memperlihatkan kebenciannya pada mendiang Ben.
Bart, Leon dan Frans hanya diam. Mereka sepertinya menyadari kesalahan terbesar mereka.
"Bahkan Kakek menjadikan pialaku pispotnya!"
Air mata Virgou bergulir. Entah mengapa Terra merasa ikut tersakiti mendengar penjelasan Virgou. Gadis itu ikut menitikkan air mata.
"Waktu itu, ketika Ben menjuarai sebuah event besar, nilai kami hanya selisih nol koma tiga. Aku yang menjadi penantang terakhir dan bisa mengimbangi kecerdasannya."
"Tapi kalian bilang apa. Apa kalian ingat, hah!"
Bart terduduk. Ia terhenyak mendengar semua perkataan Virgou. Pria itu ingat dengan semua kata-kata yang menyakiti cucunya ini.
Semuanya terdiam. Haidar dan Rommy pun hanya berdiri di samping Terra, menenangkan gadis itu yang kini mulai menangis. Tanpa disadari semuanya, kehancuran Ben bukan karena Virgou. Tapi, karena ulah ayah dan saudara kandungnya sendiri.
"Cepat katakan, apa kalian ingat apa kata kalian!" teriak Virgou lantang.
"Kalian berkata aku hanya bayangan yang mendompleng kepintaran Ben!"
Sakit.
Hati Terra teriris mendengarnya. Betapa kejinya kata-kata itu. Seseorang yang ingin membuktikan sesuatu, dijatuhkan hanya satu ucapan keji. "Mendompleng".
"Sekarang kau bilang aku yang membuat semua kekacauan ini?" ucap Virgou kemudian menghapus air matanya kasar.
"Ya, aku akui, aku menghancurkannya tapi itu semua berkat dorongan kalian!" aku Virgou.
"Tapi aku bersumpah atas diriku sendiri, bukan aku yang menyebabkan Ben mati!" lanjutnya.
Pria itu berdiri. Membalik badan. Tiba-tiba.
Grep!
Sebuah rangkulan memeluknya dari belakang. Virgou terhenyak, begitu juga yang lainnya.
"Jangan pergi Kak, aku mohon ... hiks ... hiks!"
bersambung ...
hemmss ... tau apa itu pispot?
pispot adalah tempat air kencing.
jadi tau kan betapa sakit hatinya Virgou?
next?